Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2026
  • January
  • 10
  • Game Online dan Kapitalisasi Digital: Mengancam Masa Depan Generasi

Game Online dan Kapitalisasi Digital: Mengancam Masa Depan Generasi

Editor Muslimah Times 10/01/2026
WhatsApp Image 2026-01-11 at 06.19.45
Spread the love

Oleh. Afifah

Muslimahtimes.com–Sungguh memilukan, berbagai kasus kekerasan seperti bullying, bundir, teror bom di sekolah, pembunuhan yang terinspirasi dari game online semakin bermunculan. Di Medan, baru-baru ini dihebohkan dengan kasus seorang anak (Al) 12 tahun melukai ibunya menggunakan pisau dan berujung meninggal dunia.

Dalam konferensi pers, Kapolrestabes Medan Kombes Calvin Simanjuntak menyampaikan salah satu motif tindakan tersebut adalah sakit hati karena sang ibu menghapus game online. Selain itu, sang anak juga disebut sering kali memainkan game online yang menggunakan pisau dan menonton serial anime yang menampilkan adegan kekerasan.(www.kompas.com/30/12/2025)

kasus kekerasan akibat game online tersebut bukan satu-satunya kasus, dalam sebuah penelitian di Semarang dengan 192 remaja ditemukan hubungan positif yang kuat dengan koefisien korelasi=0,717 antara kecanduan game online dan perilaku kekerasan remaja. (journaluniversitaspahlawan.ac.id)

Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya Nidzamul Islam pada bab Thariqul iman, menjelaskan bahwa perilaku manusia tergantung pada pemahamannya. Sementara pemahaman diperoleh dari berpikir. Dan dalam proses berpikir, manusia akan melibatkan empat unsur yakni fakta yang di Indra, alat indra, otak dan maklumat sabiqoh (informasi terdahulu). Di mana ‘maklumat sabiqoh’ merupakan unsur terpenting dari proses berpikir, karena dengannya seseorang bisa menilai atau menghukumi sesuatu. Maklumat ini diperoleh manusia dari apa yang dia baca, dia lihat, ataupun dengar.

Faktanya, ada game online yang mengandung adegan agresivitas, pertarungan, dan kekerasan. Konten-konten game ini sebenarnya akan menjadi maklumat (informasi). Sehingga, bisa dibayangkan ketika game online yang mengandung kekerasan ini beredar secara bebas dan mudah diakses oleh anak-anak. Maka, pemikiran anak-anak akan terisi dengan maklumat kekerasan tanpa ada pengarahan yang benar. Anak-anak akan memiliki pemikiran kriminal sehingga mereka mudah marah, impulsif, dan kurang mampu mengendalikan diri sebagaimana yang terjadi dalam diri Al pelaku pembunuhan ibu kandungnya sendiri.

Harus disadari,platform digital hari ini termasuk game online sesungguhnya bersifat tidak netral. Alasannya, setiap teknologi game pasti akan didesain dengan latar ideologi, budaya, dan kepentingan tertentu. Alur cerita, karakter, tujuan permainan hingga cara menyelesaikan konflik semisal dengan kekerasan, sebenarnya cara Barat untuk mengopinikan liberalisme sebagai gaya hidup bisaditerima. Nilai dan ajaran yang merusak ini dikemas dengan tampilan menarik dan adiktif. Bahkan lebih dari itu, game yang sengaja dirancang adiktif memang ditujukan untuk meraup keuntungan.

Disadari atau tidak, sistem yang mengatur kehidupan manusia saat ini adalah sistem kapitalisme yang orientasinya materi. Apapun akan dianggap legal/sah selama menghasilkan keuntungan. Akhirnya logika industri digital pun berbasis profit, logika ini mendorong pengembangan platform yang mengutamakan engagement dan monetisasi.

Konten kekerasan dan kompetisi ekstrim yang dikemas adiktif terbukti meningkatkan screen time dan transaksi sehingga terus diproduksi dan dipromosikan. Apalagi manusia dalam sistem kapitalisme diposisikan sebagai konsumen bukan sebagai individu yang harus dijaga akal, jiwa,dan masa depannya. Alhasil, dampak psikologis, kesehatan mental, kerusakan moral generasi dan kehidupan manusia dianggap sebagai urusan individu bukan tanggung jawab industri. Disisi lain kapitalisme membuat negara tidak berkutik jika sudah dihadapkan dengan kepentingan para kapital industri termasuk industri digital game.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dalam kitab Nidzamul Islam dalam bab qiyadah fikriyah, penguasa sesungguhnya dalam sistem kapitalisme adalah pengusaha(pemilik modal) karena itu regulasi negara cenderung lemah, pengawasannya tidak efektif,dan tanggung jawab perlindungan anak seringkali diserahkan kepada keluarga semata. Seperti inilah gambaran negara dalam sistem kapitalisme, negara tidak mampu melindungi generasi dari bahaya kerusakan akibat game online dengan konten kekerasan.

Hal ini sangat berbeda dengan sistem Islam, Islam mewajibkan negara untuk menjaga dan melindungi generasi dari segala bentuk kerusakan, baik yang bersifat fisik maupun moral. Kewajiban ini lahir dari fungsi negara sebagai raa’in (pengurus rakyat)dan junnah (pelindung). Karena itu negara Khilafah sebagai raa’in dan junnah akan bertanggung jawab memastikan tumbuh kembang generasi dalam lingkungan yang aman, sehat, dan sesuai dengan tuntunan syariat. Segala sarana yang berpotensi merusak akal, akhlak, dan kepribadian generasi seperti konten berbahaya di ruang digital akan dicegah dan dikendalikan secara serius oleh negara.

Kerusakan ini hanya bisa dilawan dengan kekuatan kedaulatan digital yang dikendalikan oleh negara Khilafah. Kedaulatan digital Khilafah akan mengembalikan ruang digital sebagai sarana kemaslahatan bukan alat eksploitasi. Negara memiliki kekuasaan penuh untuk mengatur,mengawasi, dan mengarahkan ruang digital sesuai dengan syariat yang melayani kepentingan Islam dan kemaslahatan umat. Alhasil, konten-konten yang dikonsumsi oleh generasi adalah konten yang benar. Tidak hanya itu, negara Islam juga mewajibkan individu yang bertakwa dan ada kontrol dari masyarakat. Ketakwaan individu membentuk kesadaran pribadi untuk menjauhi kemaksiatan seperti melakukan kekerasan. Sementara kontrol masyarakat akan memastikan terwujudnya amar ma’ruf nahi munkar sehingga tercipta masyarakat yang tidak menormalisasi perilaku kejahatan. Integrasi pilar-pilar inilah yang akan menjaga generasi dari kerusakan termasuk konten kekerasan di media digital.
Wallahu a’lam

Continue Reading

Previous: Game Online: Ladang Profit Kapitalisme Menumbalkan Nyawa Generasi
Next: Teror dan Intimidasi Politik di Era Digital

Related Stories

Influencer Kena Teror di Rezim Antikritik WhatsApp Image 2026-01-11 at 07.11.41

Influencer Kena Teror di Rezim Antikritik

11/01/2026
Konten Kreator Diteror WhatsApp Image 2026-01-11 at 07.04.10

Konten Kreator Diteror

11/01/2026
Jual Lumpur Bencana ke Swasta, Orientasi Laba ala Kapitalis WhatsApp Image 2026-01-11 at 06.55.19

Jual Lumpur Bencana ke Swasta, Orientasi Laba ala Kapitalis

10/01/2026

Recent Posts

  • Influencer Kena Teror di Rezim Antikritik
  • Konten Kreator Diteror
  • Jual Lumpur Bencana ke Swasta, Orientasi Laba ala Kapitalis
  • Teror dan Intimidasi Politik di Era Digital
  • Game Online dan Kapitalisasi Digital: Mengancam Masa Depan Generasi

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Influencer Kena Teror di Rezim Antikritik WhatsApp Image 2026-01-11 at 07.11.41

Influencer Kena Teror di Rezim Antikritik

11/01/2026
Konten Kreator Diteror WhatsApp Image 2026-01-11 at 07.04.10

Konten Kreator Diteror

11/01/2026
Jual Lumpur Bencana ke Swasta, Orientasi Laba ala Kapitalis WhatsApp Image 2026-01-11 at 06.55.19

Jual Lumpur Bencana ke Swasta, Orientasi Laba ala Kapitalis

10/01/2026
Teror dan Intimidasi Politik di Era Digital WhatsApp Image 2026-01-11 at 06.44.45

Teror dan Intimidasi Politik di Era Digital

10/01/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.