Oleh. Yulida Hasanah
Muslimahtimes.com–Suami seharusnya ada untuk melindungi dan memberikan kasih sayang dan rasa aman bagi pasangannya. Namun, tidak dengan suami yang berubah menjadi musuh yang tega menghilangkan nyawa istrinya sendiri. Kasih sayang, persahabatan, janji kokoh saat akad terucap tak lagi terlihat. Sungguh sangat menyayat hati siapa saja yang membaca beritanya. Di Bekasi Selatan, Jawa Barat, seorang berprofesi sebagai terapis spa berinisial SM (23) ditemukan tewas di dalam kamar kosnya. Setelah penyelidikan, polisi menangkap terduga pelaku pembunuhan yang tak lain adalah suami korban sendiri, berinisial AR di Kampung Sanding, Lebak, Banten, pada Minggu, 11 Januari 2026 malam. (news.okezone.com/13/01/2023)
Kasus suami tega membunuh istrinya sendiri juga terjadi di Perumahan Ambar Residence 1, Desa Nagrak, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Korban mengalami luka sayatan dibagian leher. Kepada penyidik, pelaku mengaku kesal karena keberadaannya diberitahukan kepada orang yang sedang mencarinya. (news.detik.com/20/01/2026)
Dan kasus terbaru, terjadi di Blitar, Jawa Timur, seorang suami berinisial R (44) diduga menghabisi nyawa istrinya, SN (48). Pelaku diduga melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menyebabkan korban meninggal dunia. (tribunnews.com/03/02/2026). Suami tega bunuh istri juga terjadi di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, pada Minggu (01/02) sekitar pukul 16.00 WIB. Korban berinisial AIP (20) meninggal dunia setelah diduga mengalami penganiayaan yang dilakukan suaminya sendiri, MA (29). Motif sementara diduga karena pelaku merasa kesal dan sakit hati terhadap korban. Pelaku marah karena korban pergi meninggalkan rumah tanpa pamit. (merdeka.com/03/02/2026)
Mengapa Rumah Tangga Menjadi Tempat Pidana?
Meskipun banyak motif yang diungkapkan pelaku hingga begitu tega dan gelap mata membunuh pasangan hidupnya. Namun, jika kita Kembali memperhatikan kondisi kehidupan hari ini, ada beberapa faktor utama yang menjadikan kondisi rumah tangga tak lagi menjadi tempat berkasih sayang dan memupuk rasa cinta.
Pertama, rumah tangga yang dibangun tidak dilandasi dengan pemahaman agama yang kuat. Realita telah berkata, bahwa hari ini agama hanya sebagai formalitas saat akad nikah berlangsung. Setelahnya, perjalanan panjang rumah tangga mengikuti arus derasnya sekularisme, yakni agama dipisahkan dari kehidupan berumah tangga.
Kedua, faktor yang tak kalah besar pengaruhnya dalam menjalani rumah tangga yang sehat adalah kondisi social-ekonomi yang tak baik-baik saja. Hal ini jelas tidak bisa dibantah. Sistem sosial pergaulan yang serba bebas, menjadikan batas-batas halal-haram bagi interaksi laki-laki dan perempuan tak lagi jelas. Walhasil, perselingkuhan, cemburu dan berujung pada KDRT dan pembunuhan akan mudah terjadi antara pasangan suami istri. Termasuk kondisi ekonomi, saat suami begitu sulit mendapatkan pekerjaan, istri justru diberi lebih besar peluang oleh sistem hari ini untuk bekerja di luar. Maka, sangat besar pula pengaruhnya terhadap mental suami. Karena secara fitrah, suami diciptakan sebagai penanggung nafkah dan pemimpin rumahtangga.
Ketiga, di balik kondisi sosial-ekonomi yang tidak baik-baik saja, negara dalam hal ini adalah pemerintah, malah lalai akan tanggungjawabnya sebagai pengurus kebutuhan rakyatnya. Rumah tangga diberi beban ganda, tak hanya fokus mengusahakan terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, papan. Namun juga harus memikul tanggung jawab negara untuk menanggung biaya pendidikan yang tak murah, dan biaya kesehatan yang harganya makin melangit. Ini sesungguhnya benar-benar menjadi ujian bagi suami-istri dalam menjalankan kehidupan mereka. Jika salah menyikapi, yang ada malah jatuh ke dalam tindakan kejahatan di internal mereka.
Merefresh Kembali Kehidupan Rumah Tangga
Islam memiliki pandangan yang luar biasa terkait hubungan suami-istri. Di mana, jika hal ini dipahami bersama, akan mampu menjaga sehat dan sakinahnya rumah tangga muslim hari ini. Dalam Islam, pernikahan itu adalah komitmen kepada Allah, bukan hanya janji antara suami dan istri saja. Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam surat An Nisaa’ ayat 21, “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (mitsaqan ghalizhan).”
Artinya, ada komitmen yang ditujukan untuk membangun keluarga Sakinah dan komitmen untuk bersama-sama melangkah menuju rida-Nya. Pernikahan dalam Islam juga menjadi penyempurna separuh dari agama ini. Nabi Sallallaahu alaihi wasallam, bersabda, “Apabila seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya, maka bertakwalah pada Allah untuk separuh yang lainnya.” (HR. Baihaqi)
Disebut penyempurna agama karena dengan menikah, pasangan akan menjaga diri dari zina. Dengan menikah, seseorang akan mampu menjaga diri dari rusaknya agama karena perkara nafsu dan perut. Dan dengan menikah, Allah menjadikan sarana yang kuat untuk menjalankan ketaatan kepada Allah.
Selain itu, pernikahan merupakan surga di dunia yang Allah anugerahkan kepada suami-istri. Dia berfirman dalam surat Ar-Rum yang artinya, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram (sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang (mawaddah) dan rahmat (kasih sayang)…”
Di sini, Allah memerintahkan bangunan rumah tangga itu wajib dibangun atas pondasi ketaatan kepada Allah saja. Dengan itu, peran suami dan istri akan berjalan sesuai syariat-Nya, bukan mengikuti tren atau hawa nafsu. Karena, suami istri telah disatukan dengan visi sehidup sesurga.
Dan yang tak bisa dianggap remeh, Islam memandang kehidupan suami-istri sebagai kehidupan persahabatan. Sebagaimana telah diungkapkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, 3:528, “Tidak ada persahabatan yang lebih besar di antara dua ruh, dibandingkan persahabatan di antara pasangan suami istri.”
Inilah yang dimaksud dengan hubungan yang paling dekat, yang di dalamnya diisi dengan saling mensyukuri dan menjaga, dan saling mengingat kebaikan dan mudah memaafkan kesalahan di antara keduanya.
Semoga dengan ‘refresh’ ini, kita mampu menyegarkan kembali suasana rumah tangga yang mulai layu. Dan berjalan bersama menjadi rumahtangga yang diberkahi, bukan rumahtangga yang jadi petaka. Wallaahua’lam
