Oleh. Nahra Arhan
Muslimahtimes.com–Dehumanisasi terhadap Muslim Palestina oleh Zionis semakin menunjukkan wajah kekejaman yang melampaui batas kemanusiaan. Kekerasan yang terjadi tidak hanya menimpa mereka yang masih hidup, tetapi juga mereka yang telah meninggal dunia. Warga sipil dibunuh tanpa pandang usia, termasuk anak-anak dan perempuan. Bahkan jenazah rakyat Palestina pun tidak dibiarkan dimakamkan dengan tenang di tanah mereka sendiri. Makam-makam dibongkar dan dipindahkan secara paksa, memperlihatkan bagaimana penjajahan ini tidak lagi menghormati nilai kemanusiaan paling dasar.
Di tengah kondisi tersebut, wilayah pendudukan Zionis terus meluas. Berbagai serangan baru disiapkan untuk memperkuat penguasaan atas Gaza dan wilayah Palestina lainnya. Agresi yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah menyebabkan puluhan ribu korban jiwa dan ratusan ribu korban luka. Banyak rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, dan fasilitas umum hancur akibat serangan bertubi-tubi yang dilakukan tanpa henti.
Anak-anak Palestina menjadi salah satu kelompok yang paling merasakan dampak perang. Banyak dari mereka kehilangan anggota tubuh akibat ledakan bom dan serangan udara. Mereka tumbuh dalam ketakutan, kehilangan keluarga, rumah, bahkan masa depan mereka. Kondisi ini menjadi gambaran nyata bagaimana perang telah merenggut hak hidup generasi Palestina sejak usia dini.
Tidak hanya masyarakat sipil, para jurnalis juga menjadi korban. Gaza kini disebut sebagai tempat paling mematikan bagi jurnalis di dunia. Ratusan jurnalis tewas saat berusaha menyampaikan fakta tentang kondisi Gaza kepada masyarakat internasional. Hal ini memperlihatkan adanya upaya untuk membungkam informasi agar kejahatan kemanusiaan yang terjadi tidak diketahui secara luas oleh dunia.
Agresi yang terus berlangsung menunjukkan bahwa Zionis tidak memedulikan berbagai seruan gencatan senjata internasional. Dengan dukungan politik, militer, dan finansial dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat, mereka terus melakukan serangan untuk memperluas pendudukan dan mempertahankan kekuasaan atas tanah Palestina. Dehumanisasi terhadap rakyat Palestina dilakukan secara sistematis hingga korban terus bertambah setiap harinya.
Di sisi lain, dunia internasional dan negeri-negeri Muslim dinilai belum mampu memberikan tindakan nyata untuk menghentikan penjajahan tersebut. Banyak pihak menilai bahwa nasionalisme dan kepentingan politik masing-masing negara telah melemahkan ukhuwah Islamiah di tengah umat Islam. Akibatnya, penderitaan Palestina terus berlangsung tanpa perlindungan yang benar-benar kuat dari dunia Muslim.
Dalam pandangan Islam, Palestina merupakan tanah kaum Muslim yang wajib dijaga dan dibela. Penjajahan, pembunuhan warga sipil, serta penghancuran kehidupan rakyat Palestina merupakan bentuk kezaliman yang tidak boleh dibiarkan terus terjadi. Karena itu, pembebasan Palestina dipandang membutuhkan persatuan umat Islam secara nyata, bukan hanya dalam bentuk simpati dan kecaman.
Sebagian umat Islam meyakini bahwa persatuan tersebut hanya dapat terwujud melalui institusi Khilafah yang mampu menyatukan kekuatan umat Islam di seluruh dunia. Dengan persatuan itu, dunia Islam diyakini akan memiliki kekuatan politik dan militer untuk menghentikan pendudukan Zionis, melindungi rakyat Palestina, dan mengembalikan tanah Palestina kepada pemiliknya.
Tragedi yang terjadi di Palestina hari ini bukan sekadar konflik biasa, melainkan krisis kemanusiaan yang telah merenggut begitu banyak nyawa dan menghancurkan kehidupan jutaan orang. Dunia tidak seharusnya diam melihat penderitaan tersebut. Palestina menjadi pengingat bahwa kemanusiaan sedang diuji, dan bahwa solidaritas serta persatuan umat sangat dibutuhkan untuk menghentikan penjajahan dan mengembalikan keadilan bagi rakyat Palestina.
