Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2026
  • May
  • 14
  • Pendidikan “Kambing Hitam” Masalah Pengangguran

Pendidikan “Kambing Hitam” Masalah Pengangguran

Editor Muslimah Times 14/05/2026
WhatsApp Image 2026-05-14 at 20.49.40
Spread the love

Oleh. Ummu Riri

Muslimahtimes.com–​Brian Yuliantoro, selaku Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek), mengatakan bahwa perguruan tinggi harus melakukan evaluasi untuk mengembangkan program studi sesuai dengan kebutuhan di masa depan. Berkaitan dengan pernyataannya pada Kamis (23/4/2026), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi berencana untuk menutup program studi yang tidak relevan dengan kebutuhan hidup di masa depan (Kompas.com, 25-4-2026).

Brian Yuliantoro kemudian mengklarifikasi bahwa alih-alih menutup program studi, lebih baik mengembangkan program studi yang ada supaya sesuai dengan kebutuhan di masa depan (Kompas.com, 29-04-2026).

​Di kesempatan lain, Menteri Agama Nasaruddin Umar juga mengevaluasi program studi yang sudah tidak banyak peminatnya. Di Aula Kampus UIN Raden Fatah Palembang, beliau mengatakan apabila prodi di PTKIN ada yang tidak lagi memenuhi kebutuhan pasar, maka bisa diubah melalui evaluasi (Kemenag.go.id, 5-12-2024).

​Menanggapi rencana Kemenag dan Mendikti Saintek, Badri Munir Sukoco (Dosen Unair) menegaskan bahwa keberadaan jurusan perkuliahan sebaiknya perlu menyesuaikan dengan kebutuhan dunia di masa depan (kebutuhan industri). Di sisi lain, Rektor UMM dan Unisma menolak penutupan program studi yang tidak sesuai pasar karena mereka berpendapat bahwa kampus bukanlah pabrik pekerja.

​”Kambing Hitam”

​Menyoroti hal di atas, akademisi Dr. Liliek Susilowati, M.Si. mengatakan, “Dari aspek mengevaluasi eksistensi suatu prodi, kapan prodi dibuka atau ditutup, harus dilakukan oleh negara, tidak diserahkan kepada masing-masing perguruan tinggi”. (MNews, 16/12/2024)

​Sangat menggelitik ketika kedua pernyataan (Kemenag dan Mendikti Saintek) ingin mengevaluasi atau menutup program studi hanya berdasarkan serapan pasar. Padahal, pendidikan bukan bertujuan untuk mencetak pekerja. Tujuan pendidikan adalah mencetak generasi unggul dengan kepribadian yang kuat sehingga mampu menopang peradaban bangsa. Pendidikan seharusnya menjadikan anak didik mampu berjalan dengan benar dalam kehidupan serta mampu menghadapi segala tantangan hidup yang ada.

​Tujuan penghapusan atau perubahan program studi adalah untuk mengurangi angka pengangguran. Sayangnya, dalam sistem sekuler kapitalisme, masalah pengangguran tidak bisa diselesaikan oleh negara, sehingga negara mengambinghitamkan perguruan tinggi seolah-olah tidak mampu mencetak generasi yang memiliki kemampuan di dunia kerja. Pada kenyataannya, pengangguran terjadi bukan karena SDM yang tidak mumpuni saja, melainkan juga karena lapangan pekerjaan tidak disediakan secara luas dan merata oleh negara.

​Bahkan, beberapa waktu lalu ramai diperbincangkan adanya tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia. Data dari Kemenaker pada tahun 2024 sebanyak 184.000 tenaga asing masuk ke Indonesia. (Kemenaker.go.id 1-09-2024) Hal ini membuat rakyat semakin sulit mendapatkan pekerjaan. Alih-alih membuka lapangan kerja untuk rakyatnya sendiri, negara justru membuka pintu bagi pekerja asing untuk bekerja di Indonesia.

​Apabila diteliti lebih dalam, kualitas pendidikan juga merupakan tanggung jawab negara, bukan tanggung jawab perguruan tinggi semata. Negara harus membuat kurikulum pendidikan mulai dari pendidikan dini hingga pendidikan tinggi, karena kualitas pendidikan akan menentukan kualitas negara. Dengan demikian, lagi-lagi terlihat kebobrokan sistem kapitalisme yang menjadikan pendidikan berorientasi pada pasar dan lapangan kerja. Generasi tidak disiapkan untuk menjadi agen peradaban yang bisa membangun negeri yang maju.

​Kurikulum saat ini adalah buah dari sistem sekularisme. Kurikulum yang berlandaskan sekulerisme akan mencetak generasi sekular juga. Hal ini terbukti dengan maraknya perundungan dan pelecehan seksual di dunia pendidikan; pendidikan saat ini sedang dalam kondisi krisis moral dan multidimensi. Dalam pendidikan berbasis kapitalisme, ilmu hanya dihargai jika mendatangkan keuntungan materi. Kecenderungan ini membuat program studi agama dan humaniora sepi peminat karena dianggap tidak “menghasilkan”.

​ Pendidikan dalam Islam

​Telah terbukti gagalnya pendidikan ala sekuler kapitalisme dalam melahirkan generasi yang memiliki karakter yang kuat, iman yang kokoh, dan adab yang baik. Karena tidak akan pernah lahir generasi demikian di atas asas sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Oleh karena itu, Islam menawarkan solusi di antaranya konsep pendidikan Islam yang unik. Islam menawarkan sistem pendidikan Islam sebagai solusi fundamental.

Dalam pendidikan Islam, kurikulum berbasis pada akidah Islam. Siswa dipahamkan tentang konsep halal dan haram, mana yang Allah sukai dan tidak. Dalam Islam, pendidikan sangat penting untuk membangun peradaban dan mencetak generasi bertakwa, ulama sekaigus ilmuwan bukan sekadar mencetak “sekrup” industri. Negara menjamin pendidika gratis bagi seluruh warha negara muslim atau nonmuslim.

​Tujuan pendidikan Islam adalah membentuk syakhshiyyah Islamiyyah (kepribadian Islam) yang utuh, mumpuni secara intelektual, serta kuat secara karakter (iman dan takwa). Antara ilmu sains dan agama tidak ada polaritas; ilmu dan agama harus menjadi satu kesatuan yang saling berkesinambungan. Dalam sistem Islam, pendidikan jelas akan dibiayai penuh oleh negara melalui baitul maal, sehingga anak didik bisa mengeksplorasi ilmunya melalui berbagai penelitian yang kemudian bermanfaat bagi umat.

​Maka, negaralah yang berperan membuat kurikulum dari pendidikan dini hingga pendidikan tinggi. Sekolah atau kampus sebagai penyelenggara akan lebih fokus pada aktivitas belajar-mengajar saja sehingga para pengajar pun bisa maksimal dalam memberikan ilmunya. Karena negara yang membentuk kurikulum, negara dapat menganalisis kebutuhan lapangan kerja yang sedang diperlukan.

​Pendidikan gratis dalam sistem Islam bukan berarti tidak berkualitas. Justru sebaliknya, pendidikan dipandang sebagai layanan publik dasar yang harus dinikmati melalui sistem ekonomi yang mandiri. Terbukti pada masa kejayaan Islam selama 13 abad, sistem Islam mampu melahirkan banyak ilmuwan hebat yang ilmunya masih kita gunakan hingga saat ini. Salah satu ilmuwan hebat yang lahir dari sistem Islam pada masa Abbasiyah adalah Ibnu al-Haitham yang disebut sebagai Bapak Optik Modern. Berkat penemuannya, terciptalah mikroskop, proyektor, kacamata, dan lain-lain.

​Negara mampu mendukung para pendidik hingga bisa menjadi seorang ilmuwan. Dukungan yang diberikan negara dapat dilakukan dengan cara mengelola sumber daya alam oleh negara, yang hasilnya kemudian dinikmati oleh rakyat. Dengan begitu, lapangan pekerjaan terbuka lebar untuk rakyatnya. Selain itu, negara juga mendapatkan keuntungan penuh yang bisa digunakan untuk menopang pendidikan bagi generasi mendatang.

​Generasi emas tidak akan tercapai di dalam sistem sekuler yang rusak, hanya Islam satu-satunya harapan umat agar terbentuk generasi emas yang dinanti umat dan memberikan manfaat untuk umat. Selama pendidikan hanya dipandang sebagai instrumen ekonomi, generasi emas tidak akan bisa tercapai. Peradaban emas hanya bisa dibangun jika pendidikan dikembalikan kepada tujuan utamanya sebagai wadah pembentuk manusia beradab dan intelektual. Hal ini hanya bisa terwujud melalui sistem yang sahih yaitu Islam.

​Allahu a’lam bish-shawab

Continue Reading

Previous: Lapangan Pekerjaan Sulit Akibat Sistem Kapitalis

Related Stories

Lapangan Pekerjaan Sulit Akibat Sistem Kapitalis WhatsApp Image 2026-05-14 at 20.41.11

Lapangan Pekerjaan Sulit Akibat Sistem Kapitalis

14/05/2026
Perempuan yang Bekerja Terlindungi Meski Tanpa UU PPRT WhatsApp Image 2026-05-14 at 20.32.34

Perempuan yang Bekerja Terlindungi Meski Tanpa UU PPRT

14/05/2026
Tutup Prodi Tidak Laku di Industri: Kampus Korban Orientasi Ekonomi Kapitalis WhatsApp Image 2026-05-13 at 05.27.59

Tutup Prodi Tidak Laku di Industri: Kampus Korban Orientasi Ekonomi Kapitalis

14/05/2026

Recent Posts

  • Derita para Ibu Pekerja
  • Pendidikan “Kambing Hitam” Masalah Pengangguran
  • Lapangan Pekerjaan Sulit Akibat Sistem Kapitalis
  • Perempuan yang Bekerja Terlindungi Meski Tanpa UU PPRT
  • Tutup Prodi Tidak Laku di Industri: Kampus Korban Orientasi Ekonomi Kapitalis

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Derita para Ibu Pekerja WhatsApp Image 2026-05-13 at 05.27.58

Derita para Ibu Pekerja

14/05/2026
Pendidikan “Kambing Hitam” Masalah Pengangguran WhatsApp Image 2026-05-14 at 20.49.40

Pendidikan “Kambing Hitam” Masalah Pengangguran

14/05/2026
Lapangan Pekerjaan Sulit Akibat Sistem Kapitalis WhatsApp Image 2026-05-14 at 20.41.11

Lapangan Pekerjaan Sulit Akibat Sistem Kapitalis

14/05/2026
Perempuan yang Bekerja Terlindungi Meski Tanpa UU PPRT WhatsApp Image 2026-05-14 at 20.32.34

Perempuan yang Bekerja Terlindungi Meski Tanpa UU PPRT

14/05/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.