Oleh. Husnia Izzati
Muslimahtimes.com–Di akhir tahun ajaran ini, kita begitu bangga melihat mereka yang merayakan kelulusan dari satuan pendidikan. Ada doa-doa dan harapan yang mengudara menjadi satu, yakni agar ilmu dapat menjadikan mereka mulia, dan mampu membawa mereka bertahan di jenjang kehidupan setelah masa sekolah berakhir, entah kemana pun pilihan mereka selanjutnya.
Namun, ada satu hal yang perlu kita ingat. Bahwa ilmu pengetahuan adalah pemberian-Nya kepada yang Dia kehendaki. Sebagaimana rezeki, ada kalanya ia harus dicari bersusah payah, ada kalanya didapat dengan mudah, namun akan tetap sampai kepada pemiliknya selama itu masih rezekinya. Kadangkala ia bisa dicari dengan cara yang baik, kadang bisa juga dengan cara curang. Keduanya sama-sama mendapatkan ilmu, tetapi ada perbedaan di sana, yang sering kita kenal sebagai ‘keberkahan’.
Sesuatu dapat dikategorikan berkah ketika darinya mengalir kebaikan terus menerus alias kebaikannya menetap. Sebagaimana pengertian keberkahan menurut Imam Al Ghazali yakni kebaikan yang bertambah terus menerus.
Kita tidak berharap pendidikan kita hari ini hanya melahirkan orang yang pintar tapi tidak jujur, orang yang gelarnya berderet tapi tak bertanggung jawab, orang yang mencapai suatu jenjang karier yang baik tapi menempuhnya dengan kecurangan. Tentu itu adalah sebuah musibah besar yang bisa berdampak panjang bagi kita.
Di sinilah keberkahan ilmu itu berperan, yakni ilmu yang didapat harapannya tidak hanya mampu membawa pemiliknya mencapai kedudukan yang lebih tinggi, namun mengalirkan kebaikan baginya di posisi apapun nanti.
Mencapai keberkahan dalam menuntut ilmu atau dalam memperoleh apapun setidaknya memiliki dua prasyarat yang diperhatikan. Pertama, memastikan segala prosesnya sesuai dengan syariat, yakni tidak ada kemaksiatan yang dilakukan di sana. Dalam proses masuk sekolah misalnya, kita perlu menghindari upaya suap-menyuap untuk mendapatkan kursi. Kedua, memastikan pelaksanaan adab sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Hal ini dikarenakan adab adalah pintunya ilmu, adablah yang akan menjaga proses belajar-mengajar berjalan dengan sebagaimana mestinya tanpa mencederai hak salah satu pihak. Contohnya seperti mendengarkan pengajar ketika proses belajar berlangsung, mengurangi distraksi dari gawai saat mengerjakan sesuatu, menjaga kebugaran fisik, menghormati sesame penuntut ilmu, dan lain sebagainya.
Mengumpulkan Keberkahan di Tengah Dunia yang Semakin Materialistis
Saat dunia hari ini melihat kesuksesan dari pencapaian yang bersifat materi semata, keberkahan seakan menjadi hal yang luput dari lubuk mata kita. Kita mungkin harus mengakui, bahwa pada hari ini mendapat nilai yang bagus jauh lebih penting daripada memikirkan proses yang benar menuju ke sana—meskipun harus dengan segala cara yang entah benar atau tidak. Ketika keberhasilan hanya diukur dari sana, kita melupakan banyak kebaikan yang menyertai proses pendidikan yakni adab, kerja keras, karakter bertanggung jawab, serta nilai moral yang semestinya banyak ditanamkan pada peserta didik.
Di tengah pandangan yang seperti ini, adab dan keberkahan seperti sampingan saja, seakan satuan pendidikan hanya tempat kita melakukan ‘download’ ilmu tanpa pembentukan kepribadian. Padahal, jika kita menganggap satuan pendidikan hanya sebagai tempat transfer ilmu dengan output angka penilaian akhir, maka mungkin artificial intelligence (AI) bisa memberikan lebih banyak pengetahuan kepada peserta didik ketimbang sekolah. Jika kita hanya ingin melahirkan orang pintar, banyak juga orang yang pintar bukan karena sekolah. Namun lebih daripada itu, satuan pendidikan adalah tempat manusia dididik untuk mengenal diri mereka sendiri, mengenal Tuhannya, mengenal tugas mereka di kehidupan ini. Ketika lulus mereka tidak sekedar diharapkan untuk pintar, tapi juga memiliki kepribadian yang baik di mana pola pikir dan pola sikap mereka berjalan selaras dengan petunjuk Ilahi. Untuk mencapai kesana, diperlukan kesabaran dan proses yang mengutamakan keberkahan. Mindset seperti inilah yang semestinya dipertimbangkan dalam kurikulum pendidikan kita. Karena seharusnya output pendidikan jauh lebih dari apa yang dikatakan Rockefeller, yang menginginkan ‘membentuk pekerja bukan pemikir’. Kita seharusnya menempuh jalur yang sebaliknya. Karena, bukankah pemikiranlah yang bisa menjadikan seseorang benar-benar menemukan jati diri dan jalan hidupnya?
Hakikat Ilmu
Sebagai penutup, ada sebuah hadis yang menjadi inspirasi banyak penuntut ilmu, “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699). Ilmu bukan sekedar pengetahuan, melainkan kendaraan yang membawa kita ke surga. Namun layakkah kita mengharapkan kendaraan ini membawa ke surga, jika kita mendapatkannya dengan menghalalkan segala cara?
Wallahu a’lam bisshowab
