Oleh. Kholda Najiyah
Muslimahtimes.com–Pelecehan dan penyimpangan seksual merajalela. Bukan hanya menyasar orang-orang dengan latar belakang bejat, tapi juga kaum religius. Ustaz, kiai, pengasuh pondok dan bahkan hafidz Quran, bisa terpapar pola pikir cabul hingga tergelincir melakukan pelanggaran syariat berat.
Bagaimana tidak, mereka tahu itu haram, tapi tetap melakukan perbuatan kaum Nabi Luth. Ironisnya, korban adalah anak-anak dan para pemuda tak berdosa, yang seharusnya mereka didik dan lindungi dari kejahatan. Na’udzubillahi mindzalik.
Sungguh, setan tak pernah berhenti menggoda syahwat, karena itulah titik terlemah manusia, khususnya laki-laki. Siapapun, sangat mungkin tergelincir dalam perbuatan nista, gara-gara skandal syahwat yang memalukan. Semoga hal itu tidak menimpa keluarga kita dan keturunannya, di tengah beratnya menghalau gaya hidup liberal saat ini.
Oleh karena itu, kepada siapapun, khususnya para laki-laki, miliki keimanan yang kokoh dan pola pikir yang lurus, agar terbebas dari belenggu pola pikir cabul. Jangan biarkan benak disibukkan hal-hal mesum yang dapat mendorong tindakan yang kelak akan disesali. Termasuk anak laki-laki kita, mari jaga agar selamat dari fitnah syahwat.
Berikut pola pikir yang harusnya dimiliki agar tidak mudah tergoda syahwat:
- Imani Identitas Diri dan Konsekuensinya
Sejak lahir, identitas kita terkait jenis kelamin sudah jelas, kecuali kasus khuntsa atau berkelamin ganda yang sifatnya langka. Itu pun, saat mereka dewasa, kelak akan ketahuan juga dan memilih, kelamin dominannya apa. Dan, Allah Swt hanya menciptakan dua jenis kelamin: laki-laki atau perempuan.
Koksekuensinya, seseorang harus menerima diri dan hidup berdasar aturan yang sesuai dengan jenis kelamin tersebut. Misal, kalau laki-laki, ya pakai celana dan bukan rok. Tidak gemulai, tapi tegap. Tidak menyukai sejenis, tapi lawan jenis. Jadi, dia harus mendidik diri sesuai dengan jenis kelaminnya, peran dan tugasnya, termasuk cara mengelola syahwatnya.
- Menjaga Diri dan Pandangan dari Syahwat
Islam mengutamakan tindakan preventif dalam mengantisipasi potensi terjadinya penyimpangan syahwat. Antara lain, memerintahkan mukmin dan mukminat untuk menutup aurat, menjaga kemaluan dan menundukkan pandangan dari syawat. Allah Swt berfirman yang artinya: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa
yang mereka perbuat”. (TQS An-Nur: 30)
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (QS An-Nur:31)
Bangkitnya syahwat, dimulai dari mata yang memandang aurat ditambah pikiran ngeres yang menjurus pada interaksi seksual. Karena itu, jaga pandangan, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Hentikan scroll konten perempuan jogat-joget atau berbusana merangsang. Jangan akses film biru dan sejenisnya.
- Haram Sentuhan Seksual Selain dalam Pernikahan
Jangan menormalisasi hubungan seksual laki-laki dan perempuan tanpa pernikahan. Laki-laki dan perempuan hanya boleh bersentuhan fisik dan menjalin keintiman setelah akad nikah. Lalu, tidak ada pernikahan sesama jenis. Keharamannya sudah jelas. Yang halal hanya menikah berbeda jenis kelamin. Inilah cara Allah Swt menjaga agar syahwat manusia tidak liar. Jadi, kalau sudah siap menikah, carilah jodoh atau minta dicarikan. Dan setelah menikah, tanamkan rasa cukup, jangan mencari-cari kenikmatan biologis dengan aneka jenis penyimpangan meski kesempatan itu ada. Ingat dosa!
- Membangun Integritas Positif
Merintis jalan untuk menjadi laki-laki dewasa yang mandiri, punya integritas dan kesalehan, bukan perkara mudah. Penuh perjuangan yang menghabiskan waktu, tenaga, pikiran dan bahkan harta. Sejak kecil, remaja sampai dewasa, perjalanan itu panjang.
Sampai seseorang meraih status sosial, pekerjaan, jabatan, keuangan dan nama baik, itu adalah investasi yang mahal. Maka, jangan hancurkan itu semua hanya gara-gara tergoda syahwat.
- Memilih Lingkup Pergaulan yang Sehat
Anak maupun dewasa, tetap bergaul dalam lingkungan sosial. Baik di dunia nyata maupun dunia maya. Oleh karena itu, memilih komunitas pergaulan dan lingkaran pertemanan yang positif, sangat penting. Biarkan dianggap aneh, dikucilkan atau diremehkan ketika tidak mau ikut arus, asalkan diri selamat dari tergelincir syahwat. Jadi, jangan biarkan lingkungan membentuk siapa dirimu, tapi bentuk dirimu agar bisa mewarnai lingkungan. Jangan biarkan lingkungan menjadi alasan kamu terseret pelanggaran syariat, karena sungguh itu tidak akan bisa diterima.
- Sibukkan Diri dengan Ilmu
Hanya ada dua kemungkinan kita dalam memanfaatkan waktu: sibuk dengan kegiatan yang bermanfaat atau sebaliknya, tenggelam dalam perilaku yang sia-sia. Bangkitnya syahwat sudah tentu terjadi karena seseorang sibuk melakukan hal yang sia-sia. Seperti nonton film yang membangkitkan syahwat, scroll konten merangsang dan ngobrol ngalor-ngidul bernada cabul. Maka, jauhkan itu semua. Hempaskan. Jangan lakukan. Lebih baik sibukkan dengan ilmu. Ulama dahulu, begitu tenggelam dalam ilmu, hingga tak sempat memikirkan syahwat. Jangankan melakukan penyimpangan, menikah yang halal pun sampai lupa.
Demikianlah, kejahatan seksual adalah tindakan yang sangat memalukan. Benar-benar perilaku yang keji. Bukan hanya merusak nama baik dan masa depan korban, juga nama baik dan reputasi pelaku itu sendiri. Alangkah buruknya skandal ini. Pantas jika Allah Swt tegas memberikan sanksi. Semoga kita terjauhkan dari bencana syahwat ini.(*)
