Oleh. Yulida Hasanah
Muslimahtimes.com–Baru-baru ini, publik dibuat marah dan geram atas terungkapnya kasus kekerasan anak di penitipan anak atau daycare Little Aresha di Umbulharjo, Jogja. Anak-anak yang dititipkan di daycare tersebut mendapat perlakuan kejam dan tidak manusiawi oleh para pengasuh. Salah satu yang jadi sorotan adalah para pengasuh disebut menempatkan anak-anak dalam satu ruangan dengan sirkulasi udara yang sangat minim.
Tak hanya itu, anak-anak tersebut juga diikat ke pintu menggunakan kain yang dibuat seperti tali. Bahkan, beberapa anak juga disebut mengalami luka lebam di pergelangan tangan dan kaki. Setelah dilakukan penggerebekan terhadap daycare Little Aresha, polisi mengamankan 30 orang, dan 13 orang telah ditetapkan jadi tersangka. Salah satunya adalah petinggi yayasan.
Dari hasil penelusuran sebuah media online, motif para pengasuh melakukan kekerasan terhadap anak-anak? Diduga kuat, motifnya karena ekonomi. Pengelola ingin menekan jumlah pengasuh untuk anak yang dititipkan di daycare. Hal ini terlihat dari 103 anak yang dititipkan di daycare tidak sebanding dengan jumlah pengasuh yang ada. Selain karena beban kerja yang berat, juga karena ketua yayasan dan kepala sekolah dengan sengaja memberi arahan langsung untuk melakukan tindakan keji yang tidak tertulis di SOP Daycare. (Beautynesia.id/28/04/2026)
Dan beberapa waktu setelah viralnya Daycare di atas, ada peristiwa yang mengundang pilu dan duka mendalam. Tabrakan kereta terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam. Insiden bermula saat KRL Cikarang arah Jakarta menabrak taksi yang melintas di perlintasan tanpa palang pintu. Akhirnya, perjalanan KRL lainnya arah Jakarta-Cikarang yang ada di Stasiun Bekasi Timur terhambat sehingga rangkaian KRL tersebut belum melaju. Namun, nahasnya, rangkaian KRL itu ditabrak kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Pasar Turi sehingga kecelakaan tak dapat dihindari. Akibat kejadian tersebut, hingga Rabu (29/4), tercatat 16 orang (ter update) meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Korban seluruhnya perempuan yang berada di gerbong perempuan (gerbong belakang). (news.detik.com/29/04/2026)
Di balik data korban yang terus diperbarui, ada cerita-cerita pilu yang sulit diabaikan. Mereka berangkat hanya dengan harapan sederhana yakni mengusahakan kesejahteraan dan pulang ke rumah dengan selamat bertemu keluarga tercinta. Bahkan salah satu korban tewas adalah seorang ibu muda yang baru kembali bekerja di hari pertama setelah cuti melahirkan. Dan pilunya, Cooler Bag ASI yang berisi botol-botol susu penuh ASI menjadi saksi atas kepergiannya.
Kekerasan di Daycare dan Kecelakaan KRL : Satu Benang Merah yang Sama
Melihat dua peristiwa yang sungguh menguras emosi, khususnya di kalangan kaum perempuan ini memang tidak bisa hanya dilihat hanya dari satu sisi, yakni dari sisi menejemen Daycare atau masalah posisi gerbong kereta saja. Bukan juga hanya dilihat dari sisi pelaku kekerasan di daycare atau kecelakaan ini adalah bagian dari musibah/qadla’. Tetapi ada hal krusial yang keduanya memiliki satu benang merah yang sama yaitu kondisi yang menimpa kaum perempuan hari ini. Daycare menjadi salah satu pilihan tepat saat ibu yang memiliki bayi ikut bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, terutama bagi perempuan di wilayah perkotaan. Termasuk gambaran lalu lalang perempuan di KRL yang menjadi pilihan utama bagi banyak perempuan pekerja di Jabodetabek karena menyediakan Gerbong Khusus Wanita dengan asumsi memberikan rasa aman dan efisiensi waktu yang lebih tinggi dibanding moda transportasi lain.
Dan keduanya menjadi cerminan terhadap kondisi perempuan di tengah kehidupan sekuler kapitalisme sebagai dampak langsung dari kapitalisasi perempuan. Hal ini bermula dari mindset ‘kemandirian perempuan’ yang diklaim bisa mengatasi segala permasalahan yang menimpa perempuan, termasuk muslimah. Padahal realitasnya justru mereka dikapitalisasi hanya demi memutar roda perekonomian sebuah negara. Alih-alih dijamin hak finansial dan keamanannya, kaum perempuan terjebak dalam kemiskinan struktural yang diciptakan sistem kapitalisme global dan dikukuhkan penguasa.
Inilah problem nyata yang dialami kaum perempuan dalam jeratan sistem sekuler kapitalisme. Karena sejatinya, sistem ini memang bukanlah sistem yang layak memberikan jaminan keamanan, kesejahteraan dan terpenuhinya hak ibu dan anak. Mengapa demikian?
Sistem Sekuler Kapitalisme, Sistem Bobrok dan Biang Masalah yang Melanda Kaum Perempuan
Barat begitu bernafsu mengeluarkan perempuan dari habitat ternyamannya dalam rumah. Mereka merusak potensi keibuan dan pengabdiannya dalam rumah tangga dan umat. Mereka berupaya mengganti peran perempuan hanya pada peran ekonomi saja. Ketika perempuan didorong untuk mandiri, tidak membutuhkan siapapun bahkan suaminya sekalipun, ini jelas melawan fitrah. Bagaimanapun perempuan tetap ingin dan butuh dilindungi, ingin dijaga, mau tidak mau harus bergantung kepada laki laki, apakah suami atau walinya. Apakah kebebasan perempuan menjadikan ia sebagai ujung tombak ekonomi keluarga membawa kebahagiaan? Sama sekali tidak.
Dalam pandangan kapitalisme sekuler, perempuan dipandang sama dengan laki-laki dalam posisi mereka sebagai pemutar roda ekonomi negara. Sehingga perempuan pun akan disebut berdaya jika dapat menghasilkan uang. Sebaliknya jika perempuan hanya beraktivitas di rumah (domestik) dan tidak menghasilkan uang atau materi apa pun, maka itu dianggap belum berdaya bahkan dapat berpotensi membebani ekonomi keluarga. Walhasil, perempuan terus didorong untuk bekerja, bekerja, dan bekerja. agar menghasilkan uang, berdaya optimal dan tak menjadi beban orang lain.
Di sisi lain, kehidupan bernegaranya pun masih dikelola oleh para pemimpin yang tidak amanah, tidak takut pada Rabb-nya, dan mencampakkan syariat sebagai panduan sahih dalam bernegara. Sementara sistem ekonomi kapitalisme liberal yang dijalankan di negeri ini telah menghadirkan kemiskinan sistemik di masyarakat. Perampokan SDA oleh pihak swasta asing dan aseng, masif berjalan atas nama investasi yang dilegalkan oleh undang-undang hasil ketok palu dewan legislatif ala demokrasi.
Ketidakmandirian negara dalam mengelola SDA melahirkan berbagai kesulitan lain bagi rakyat, baik laki-laki maupun perempuan. Negara yang terjebak dalam kerapuhan sistem ekonomi kapitalisme, kian terseret pada jebakan hutang yang tak berkesudahan. Keluarga muslim pun kena imbasnya. Banyak rumah tangga yang rapuh karena lemah imannya, tak mampu bertahan menghadapi rentetan nestapa yang diciptakan oleh sistem kapitalisme sekuler tersebut. Bahkan banyak yang berakhir dengan perceraian. Dan angka perempuan kepala keluarga pun kian meningkat.
Berbagai kebobrokan sebagai karkater dari sistem kapitalisme inilah yang melahirkan berbagai masalah yang melanda kaum perempuan. Maka sungguh, sistem ini tidak boleh dipertahankan dan kaum perempuan harus berjuang keras untuk lepas dari jeratan sistem ini. Hanya dengan kembali pada penerapan Islam kaffah, perempuan terjaga semua kewajibannya dan terjamin semua hak-haknya.
Perjuangan Muslimah Mengembalikan Islam sebagai Sistem Kehidupan
Sejarah mencatat para perempuan handal semisal Khadijah binti Khuwailid ra., Fatimah Az-Zahra ra., Asma’ binti Abu Bakar ra., Sumayyah ra., Ummu Imarah ra., Fathimah binti al-Khaththab ra., Ummu Sulaym, Ummu Syarik ra. dan lain-lain. Sejak bersentuhan dengan Islam, keseharian mereka hanya dipersembahkan demi kemuliaan Islam. Sebagian dari mereka ada yang harus kehilangan harta, terpisah dari orang-orang yang dicinta, bahkan rela harus kehilangan nyawa. Merekalah pelopor dan peletak dasar pilar-pilar pergerakan Muslimah yang hakiki, yang layak menjadi teladan.
Pada masa Khulafaur-Rasyidin dan para khalifah sesudahnya, perjuangan dan pergerakan Muslimah di kancah kehidupan demikian besar, baik dalam aktivitas amar makruf nahi munkar, mengoreksi penguasa, bahkan dalam aktivitas jihad. Istimewanya, pada saat yang sama, mereka pun berhasil mencetak generasi terbaik—generasi mujahid dan mujtahid—yang mampu membangun peradaban Islam yang tinggi, mengalahkan peradaban lainnya di dunia dalam rentang waktu yang sangat panjang. Tak aneh jika umat Islam tampil sebagai khayru ummah.
Inilah sekilas sejarah terkait keberadaan gerakan Muslimah, generasi Islam awal. Sebuah gerakan yang sarat nilai-nilai Ilahiyah dan menjadi bagian pergerakan kolektif (jamaah) Islam. Kiprah nyata mereka ini justru telah menafikan ‘keyakinan’ dan sekaligus ‘kecurigaan’ sebagian kalangan yang berpendapat bahwa Islam sama sekali tak memberikan ruang bagi kaum perempuan untuk berkiprah di tengah-tengah umat, turut serta membangun masyarakatnya menuju kebangkitan hakiki dengan kembalinya Islam sebagai sistem kehidupan.
Dalam kerangka perjuangan mengembalikan sistem kehidupan Islam inilah seharusnya gerakan muslimah bangkit dan bergerak mengambil peran. Kehidupan pejuang muslimah senafas dengan kehidupan Rasulullah saw. Hal ini terwujud dalam 4 perkara sebagai berikut:
- Menjadikan Akidah dan syariat sebagai landasan gerak dan perjuangannya. Bukan feminisme dan keuntungan materi yang menjadi motivasi perjuangannya.
- Wajib mengambil visi dan misi gerakan jamaah Islam yakni meninggikan kalimat Allah. Dengan jalan aktif melakukan rekrutmen/pembinaan (‘amaliyah tatsqifiyah) dalam rangka membangkitkan aqidah yang benar dan mewujudkan pemahaman yang benar di tengah kaum perempuan.
- Pejuang muslimah tidak boleh memisahkan perjuangannya dari perjuangan umat secara keseluruhan. Karena sesungguhnya semua punya tanggungjawab yang sama untuk menjadikan Islam sebagai solusi bagi semua masalah umat (baik laki-laki dan perempuan)
- Mengarahkan perjuangannya kepada optimalisasi peran politik perempuan, yakni peran dan fungsi pencetak dan penyangga generasi (ummun wa rabbatul bait dan ummu ajyal)
Dari perjuangan inilah, maka insyaaAllah cita-cita kembalinya kehidupan Islam bisa terwujud, dan keberkahan dari langit dan bumi Allah limpahkan kepada umat ini. Wallaahu a’lam
