Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2026
  • April
  • 30
  • Seksualitas Bukan Candaan: Ancaman ‘Rape Culture’ di Era Kebebasan

Seksualitas Bukan Candaan: Ancaman ‘Rape Culture’ di Era Kebebasan

Editor Muslimah Times 30/04/2026
WhatsApp Image 2026-04-30 at 21.19.51
Spread the love

Oleh. Dien Kamilatunnisa

Muslimahtimes.com–Kebebasan berekspresi saat ini dianggap sebagai bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM). Hal yang mendasarinya adalah pandangan hidup sekularisme yang telah mencengkram dunia pasca keruntuhan daulah khilafah Islam di Turki. Klaim kebebasan dianggap menjadi solusi dalam berbagai masalah kehidupan. Salah satunya adalah kebebasan berekspresi dalam menunjukkan kecenderungan seksual dalam berbagai cara.

Salah satu caranya adalah melalui musik. Musik saat ini sering mengangkat tema seksual. Tema seksual bisa terlihat dari lirik lagu yang ditampilkan yang menggambarkan pengalaman seksual, hasrat, atau kecenderungan identitas seksual. Jika dikonsumsi terus menerus, dikhawatirkan akan mempengaruhi perilaku seseorang.

Fenomena ini bisa dilihat dari sebuah video viral beberapa waktu lalu. Masyarakat dikejutkan dengan sebuah video yang menunjukkan sejumlah mahasiswa berjoged dan bernyanyi dengan tema seksual. Lagu tersebut berjudul ‘Erika” dengan tema objektivikasi tubuh perempuan dan sarat pelecehan seksual. Kejadian tersebut dianggap sebagai bagian dari ‘rape culture’. Rape culture adalah sebuah istilah yang biasa digunakan untuk menggambarkan suatu lingkungan dan budaya dimana kekerasan seksual dianggap wajar, diremehkan, atau bahkan dibenarkan baik langsung ataupun tidak langsung (bbcnews.17/04/2026).

Bentuk ‘rape culture’ itu sendiri sebenarnya bisa didapati dalam berbagai bentuk seperti lelucon yang berbau seksualitas, memberikan komentar mesum dan menganggapnya sebagai candaan. Titik kritisnya adalah pelaku dan korban sama-sama menormalisasi perbuatan tersebut karena menganggapnya sebagai bagian dari ‘bumbu’ komunikasi sehari-hari.

Ironisnya, hal ini terjadi di lingkungan kampus dimana masyarakat masih menganggap kampus sebagai tempat untuk membentuk manusia yang bermartabat dan berbudi luhur. Selain itu, akibat normalisasi ‘rape culture’ ini menjadikan interaksi sesama manusia hanya dari ‘kacamata’ seksualitas.

Rape Culture Hasil Sekularisme

Rape culture lahir dari sistem sekulerisme yang memisahkan aturan Allah dalam interaksi kehidupan. Sistem sekuler membiarkan hawa nafsu manusia liar. Meski ada HAM yang diharapkan menjadi penyaring dalam kebebasan tapi hakikatnya hanya ilusi karena kebebasan absolut tidak bisa bersanding dengan aturan Islam.

Kondisi ini bertolak belakang dengan Islam yang meletakan penghambaan pada Allah sebagai poros utama. Aturan dari Allah SWT yang tercantum dalam Al-Quran adalah solusi dari berbagai masalah hidup. Solusi Islam menjadi cara pandang yang khas yang mendasari interaksi antar manusia, interaksi dengan diri sendiri atau dengan Al Khaliq. Dalam Islam, setiap perbuatan- termasuk lisan- terikat dengan syariat.

Menjaga lisan adalah bagian dari syariat yang mengikat manusia. Karena setiap perbuatan manusia akan diminta pertanggungjawaban di hari penghisaban. Dengan adanya pemahaman yang khas ini, seseorang diharapkan memiliki kontrol yang kuat dalam menjaga lisan.

Terjemahan surat Al-Ahzab : 70-71 berbunyi “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar” . Ayat tersebut menjelaskan bahwa perkataan yang benar adalah perwujudan dari ketakwaan.

Begitu pula dalam terjemahan hadist Bukhari dalam kitab Shahihnya hadis nomor10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya “

Masih banyak dalil syarak lain yang memberikan pedoman dalam menjaga lisan. Dalam ajaran Islam, berbicara yang sesuai syariat akan mendapatkan pahala, sehingga setiap muslim senantiasa untuk menghiasi ucapannya dengan lisan mulia. Jadi, dengan menerapkan aturan Islam maka fenomena ‘rape culture‘ tidak akan menemukan tempat yang subur untuk tumbuh.

Namun peran, peran negara dalam sistem Islam Kaffah akan menerapkan syariat yang tertuang dalam regulasi kehidupan bernegara. Hal ini membutuhkan mekanisme khusus yang berkaitan antara satu sistem dengan sistem lainnya. Sistem yang memberikan efek pencegahan dan sanksi agar ‘rape culture‘ tidak terjadi. Sistem Islam memiliki aturan pergaulan sosial yang dijelaskan secara rinci dalam syariat Islam.

Sistem pergaulan Islam adalah sistem yang mengatur interaksi antara pria dan wanita atau sebaliknya, mengatur hubungan yang timbul sebagai implikasi dari adanya interaksi keduanya dan menyelesaikan segala persoalan yang terkait dengan hubungan tersebut. Sehingga dalam Islam aktivitas yang mendorong timbulnya naluri seksualitas yang tidak sesuai syariat itu terlarang, dalam hal ini termasuk ‘rape culture’.

Oleh karena itu, keberadaan negara yang menerapkan syari’at Islam Kaffah mutlak dibutuhkan. Sehingga permasalahan manusia akan mendapatkan solusi yang pas karena aturan bersumber dari wahyu.

Namun peran individu saja tidak cukup. Dibutuhkan peran negara dalam sistem Islam Kaffah. Negara akan menerapkan syari’at yang memberikan efek pencegahan dan sanksi agar ‘rape culture‘ tidak terjadi. Sistem Islam yang mendetail dan mengatur pergaulan sosial tertuang dalam sistem pergaulan Islam.

Sistem pergaulan Islam adalah sistem yang mengatur interaksi antara pria dan wanita atau sebaliknya. Selain itu juga mengatur hubungan yang timbul sebagai implikasi dari adanya interaksi keduanya. Kemudian menyelesaikan segala persoalan yang terkait dengan hubungan tersebut. Sehingga dalam Islam aktivitas yang mendorong timbulnya naluri seksualitas yang tidak sesuai syariat itu terlarang, dalam hal ini termasuk ‘rape culture’.

Oleh karena itu, keberadaan negara yang menerapkan syari’at Islam Kaffah mutlak dibutuhkan. Sehingga permasalahan manusia akan mendapatkan solusi yang pas karena aturan bersumber dari wahyu.

Wallohu’alam

Continue Reading

Previous: Catatan Kritis Kekerasan di Daycare dan Kecelakaan KRL: Alarm Keras bagi Perempuan untuk Lepas dari Jahatnya Kapitalisme

Related Stories

Catatan Kritis Kekerasan di Daycare dan Kecelakaan KRL: Alarm Keras bagi Perempuan untuk Lepas dari Jahatnya Kapitalisme WhatsApp Image 2026-04-30 at 20.40.57

Catatan Kritis Kekerasan di Daycare dan Kecelakaan KRL: Alarm Keras bagi Perempuan untuk Lepas dari Jahatnya Kapitalisme

30/04/2026
Zionis Legalkan Hukuman Mati bagi Tahanan Palestina, Biadab! WhatsApp Image 2026-04-30 at 20.49.56

Zionis Legalkan Hukuman Mati bagi Tahanan Palestina, Biadab!

30/04/2026
Tragedi di Rel Bekasi: Potret Perjuangan Berujung Duka WhatsApp Image 2026-04-30 at 11.18.08

Tragedi di Rel Bekasi: Potret Perjuangan Berujung Duka

30/04/2026

Recent Posts

  • Seksualitas Bukan Candaan: Ancaman ‘Rape Culture’ di Era Kebebasan
  • Catatan Kritis Kekerasan di Daycare dan Kecelakaan KRL: Alarm Keras bagi Perempuan untuk Lepas dari Jahatnya Kapitalisme
  • Zionis Legalkan Hukuman Mati bagi Tahanan Palestina, Biadab!
  • Tragedi di Rel Bekasi: Potret Perjuangan Berujung Duka
  • Ironi Hukum sang Calon Penegak Hukum

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Seksualitas Bukan Candaan: Ancaman ‘Rape Culture’ di Era Kebebasan WhatsApp Image 2026-04-30 at 21.19.51

Seksualitas Bukan Candaan: Ancaman ‘Rape Culture’ di Era Kebebasan

30/04/2026
Catatan Kritis Kekerasan di Daycare dan Kecelakaan KRL: Alarm Keras bagi Perempuan untuk Lepas dari Jahatnya Kapitalisme WhatsApp Image 2026-04-30 at 20.40.57

Catatan Kritis Kekerasan di Daycare dan Kecelakaan KRL: Alarm Keras bagi Perempuan untuk Lepas dari Jahatnya Kapitalisme

30/04/2026
Zionis Legalkan Hukuman Mati bagi Tahanan Palestina, Biadab! WhatsApp Image 2026-04-30 at 20.49.56

Zionis Legalkan Hukuman Mati bagi Tahanan Palestina, Biadab!

30/04/2026
Tragedi di Rel Bekasi: Potret Perjuangan Berujung Duka WhatsApp Image 2026-04-30 at 11.18.08

Tragedi di Rel Bekasi: Potret Perjuangan Berujung Duka

30/04/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.