Oleh. Hanum Hanindita, S.Si
Muslimahtimes.com–Duka mendalam kembali menyelimuti dunia transportasi tanah air. Sebuah insiden tragis yang melibatkan rangkaian kereta api di wilayah Bekasi telah menyita perhatian publik dan menyisakan luka yang mendalam, terutama bagi kaum wanita yang menjadi korban terdampak paling parah.
Kecelakaan kereta di Bekasi Timur melibatkan kereta api jarak jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line lintas Cikarang. Peristiwa ini terjadi pada Senin (27/4/2026) malam. Sejumlah informasi telah dihimpun terkait kejadian tersebut, mulai dari kronologi tabrakan, data korban terbaru, hingga dugaan penyebab yang masih dalam proses investigasi. (news.detik.com, 28-04-26)
Kecelakaan yang merenggut nyawa belasan wanita di perlintasan kereta bukan hanya musibah fisik, melainkan potret duka dari perjuangan mereka yang berujung tragis. Nyawa para ibu dan istri yang berjuang demi sesuap nasi seolah terabaikan oleh sistem yang gagal menjamin keamanan bagi mereka yang paling rentan.
Sekularisme Kapitalisme Memaksa Wanita Turun ke Jalan
Akar masalah dari fenomena ini adalah penerapan sistem sekularisme kapitalisme. Dalam pandangan kapitalistik, setiap individu dinilai berdasarkan produktivitas materielnya. Wanita tidak lagi dipandang sebagai “Rabbul Bait” (pengatur rumah tangga) atau pendidik generasi, melainkan sebagai faktor produksi atau tenaga kerja murah.
Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan membuat negara berlepas tangan dari kewajiban menjamin kesejahteraan rakyat secara individu. Akibatnya, beban ekonomi yang berat memaksa wanita untuk keluar dari zona aman rumah mereka. Mereka harus bertaruh nyawa di jalanan, menerjang kemacetan, dan menghadapi risiko kecelakaan di perlintasan kereta api hanya untuk menutupi lubang kebutuhan yang tak kunjung terpenuhi oleh nafkah suami yang minim atau ketiadaan jaminan negara.
Hilangnya Perlindungan dan Kemuliaan Wanita
Dalam sistem saat ini, perlindungan terhadap wanita seringkali hanya menjadi jargon politik. Faktanya, fasilitas transportasi yang tidak memadai dan sistem keamanan perlintasan yang lemah menjadi “lubang maut” bagi para pejuang nafkah, termasuk wanita. Secara fisik, wanita diciptakan dengan kelembutan, namun kapitalisme memaksa mereka memiliki ketahanan fisik layaknya laki-laki untuk bertahan di rimba transportasi publik yang keras.
Ketika seorang wanita meninggal dalam kecelakaan saat berangkat bekerja karena himpitan ekonomi, ini adalah sebuah “alarm” keras bahwa ada yang salah dengan cara penguasa mengatur masyarakat. Kehormatan dan nyawa wanita yang seharusnya dijaga rapat-rapat, kini justru terpapar bahaya di ruang publik yang tidak ramah.
Nafkah dan Jaminan Kesejahteraan dalam Pandangan Islam
Islam memiliki mekanisme yang sangat kontras dengan kapitalisme. Dalam Islam, kewajiban mencari nafkah sepenuhnya dibebankan kepada laki-laki (suami, ayah, atau saudara laki-laki). Allah Swt. berfirman, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa: 34).
Jika pihak laki-laki tidak mampu atau tidak ada, maka negara (Khilafah) wajib menjamin kebutuhan pokok setiap individu, termasuk wanita. Islam tidak melarang wanita bekerja, namun bekerja bagi wanita adalah pilihan (mubah) untuk mengaktualisasikan ilmu, bukan sebuah keterpaksaan demi menyambung nyawa. Dalam sistem Islam, seorang wanita tidak perlu bertaruh nyawa di perlintasan kereta api mulai dari pagi buta hanya karena takut kelaparan. Negara menjamin martabatnya agar ia tetap bisa menjalankan peran utamanya tanpa tekanan ekonomi yang menghimpit.
Menuju Solusi Hakiki: Mengembalikan Fungsi Negara
Kecelakaan kereta di Bekasi harus menjadi momentum untuk mengevaluasi secara total sistem transportasi, ekonomi dan sosial kita. Solusinya bukan sekadar teknis seperti perbaikan sistem keamanan dan palang pintu kereta atau memindah posisi gerbong khusus wanita, melainkan mencabut akar masalahnya, yakni musibah sistemik akibat kapitalisme.
Kita membutuhkan sistem yang menempatkan keamanan dan kesejahteraan rakyat sebagai prioritas utama. Bukan semata keuntungan korporasi yang selalu diutamakan. Kita butuh sistem yang memuliakan wanita dengan memberikan hak-hak finansial tanpa harus menuntut mereka bertaruh nyawa di jalanan.
Sistem seperti ini hanya dapat didapat dengan mengembalikan aturan Islam dalam bingkai kehidupan. Ini adalah satu-satunya jalan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi darah yang tertumpah di rel kereta hanya karena tuntutan perut yang tak terpenuhi. Dengan demikian solusinya harus berupa perombakan sistemik menuju tatanan Islam.
Di dalam sistem Islam, Khilafah-lah yang bertindak sebagai pengurus rakyat (raa’in) yang menempatkan perlindungan nyawa dan kehormatan di atas segalanya. Secara ekonomi, Khilafah menjamin kesejahteraan melalui pemenuhan nafkah oleh wali atau negara, sehingga wanita dapat kembali ke peran mulianya tanpa terbebani tuntutan ekonomi yang membahayakan nyawa di jalanan.
Di sisi lain, Khilafah membangun infrastruktur transportasi sebagai layanan publik yang berkualitas tinggi dan aman, bukan sebagai ladang bisnis korporasi. Seluruh kebijakan ini dijalankan atas dasar ketakwaan pemimpin yang sadar bahwa setiap darah yang tertumpah akibat kelalaian negara akan dimintai pertanggungjawabannya secara berat di hadapan Allah Swt.
“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari)
Tragedi ini adalah pengingat bahwa di bawah langit sekularisme kapitalisme, wanita seringkali menjadi korban paling pertama dan paling terluka. Sudah saatnya kita kembali pada aturan Sang Pencipta yang menjamin keselamatan, kehormatan, dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Wallahua’lam bishowab
