Oleh. Septa Anitawati, S.I.P
Muslimahtimes.com–Hari Tahanan Palestina diperingati pada tanggal 17 April. Masyarakat di berbagai negara melakukan protes. Menuntut pembebasan Palestina. Terutama setelah Zionis mengesahkan UU hukuman mati bagi tahanan Palestina. Sejak 1967, diperkirakan 1 juta atau sekitar 20% warga Palestina pernah ditahan Zionis. Saat ini, dari 9.600 warga Palestina ditahan oleh Zionis.
Kondisi rakyat Palestina di penjara Zionis sangat mengenaskan. Mereka diperkosa, dipukuli, disiksa, dilaparkan. Bahkan sampai meninggal dunia. Ribuan warga Palestina turun ke jalan dalam peringatan Hari Tahanan. Aksi ini menyoroti nasib ribuan tahanan yang masih berada di penjara Israel. Massa juga menolak kebijakan hukuman mati yang dinilai kontroversial. Diberitakan oleh antaranews.com 17/04/2026.
Analisis Problematis
Persoalan tahanan Palestina, jika dianalisis, terdapat tiga hal penting berikut:
Pertama, penjajahan dan kekejaman Zionis atas Palestina terus menerus berlangsung. Kezaliman ini merupakan proyek imperialisme global. Yang ditopang penuh oleh negara Kapitalisme Barat. Khususnya, Amerika Serikat (AS). AS menjadikan Zionis-Israel sebagai anjing herder. Untuk menjaga kepentingan politik-ekonominya, terutama di Timur Tengah. Maka apapun, bagaimana pun dan berapapun yang diinginkan oleh Zionis. AS akan mensupport. Karena memang untuk kepentingannya juga.
Kedua, sistem hukum internasional dan lembaga-lembaga seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Apalagi Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian. Hanyalah instrumen yang tidak mampu dan tidak akan mau melindungi umat Islam yang terjajah. Hak Asasi Manusia (HAM) yang selalu dinarasikan Barat berstandar ganda. HAM dijadikan tameng AS. Satu sisi mengkampanyekan HAM untuk mengadili dunia. Sisi lain, menghegemoni negeri-negeri muslim. Sekaligus menghancurkan pihak yang tidak mau tunduk atau dikendalikan.
Ketiga, akar masalah Palestina bukan sekadar pelanggaran HAM, melainkan ketiadaan pelindung (junnah) bagi umat Islam, yaitu kepemimpinan global berasaskan akidah Islam. Konstitusinya, Al-Quran dan As-Sunnah. Sistem yang diterapkan seluruhnya adalah syariat Islam. Sistem yang mengatur seluruh kehidupan manusia baik secara privat maupun publik. Mengatur keragaman agama dan budaya. Hidup berdampingan antara berbagai keyakinan. Itulah negara Khilafah Islamiyyah.
Solusi Konstruktif dan Komprehensif
Persoalan Palestina, dari analisis problematis di atas. Terdapat tiga solusi yang ditawarkan secara konstruktif dan komprehensif.
Pertama, umat Islam wajib membangun kesadaran ideologis. Bahwa persoalan Palestina adalah persoalan umat Islam. Bukan sekadar isu kemanusiaan apalagi nasionalisme. Bahkan wajib memiliki pemahaman bahwa isu kemanusiaan dan nasionalisme adalah rekayasa penjajah untuk memecah belah dan mengadu domba diantara kaum muslimin. Seolah-olah persoalan Palestina tidak ada hubungannya dengan dirinya. Maka kepedulian terhadap masalah Palestina, harus didasari dari akidah IsIam. Bukan sekadar empati sesaat.
Kedua, umat Islam tidak boleh sekedar mengecam tindakan biadab penjajah. Apalagi berdiam diri. Tidak boleh berdiplomasi dengan penjajah yang jelas-jelas selalu melanggar perjanjian atau kesepakatan. Dan juga tidak boleh menyerahkan masalah ini pada PBB maupun BoP. Melaikan harus menyuarakan solusi jihad qital fii sabilillah. Tidak ada hubungan dengan penjajah kecuali hubungan perang. Karena negara penjajah terkatagori Negara kafir harbi fi’lan. Yaitu negara kafir yang memusuhi IsIam dan umat IsIam secara terang-terangan.
Ketiga, Palestina hanya bisa diselesaikan secara tuntas dengan institusi politik IsIam. Yakni Khilafah Islam ‘ala minhajin nubuwah. Dialah satu-satunya institusi politik yang memiliki kewenangan, kekuatan, dan kewajiban syar’i untuk mengerahkan pasukan jihad dalam rangka membebaskan Palestina. Khilafah IsIam sekaligus menjadi kepemimpinan global yang terbukti berjaya selama empat belas abad lamanya. Dan sampai saat ini pun belum ada yang mampu menandinginya.
Semoga Allah segera mewujudkan janji-Nya. Sebagaimana dalam Al-Quran surat An-Nur ayat 55. Dan kabar gembira dari Rasulullah saw.
ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ
“Kemudian akan ada kembali masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian “ (HR. Ahmad)
Dan semoga kita istiqamah dalam dakwah. Berkontribusi dalam menyolusi seluruh persoalan hidup manusia. Menjadi agent of change. Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw dengan para shahabat. Mengubah sistem jahiliyah menjadi sistem Islam.
Wallahu a’lam.
