Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2026
  • May
  • 5
  • Perempuan Bukan Boneka Seks

Perempuan Bukan Boneka Seks

Editor Muslimah Times 05/05/2026
WhatsApp Image 2026-05-05 at 20.37.15
Spread the love

Oleh. Kholda Najiyah

Muslimahtimes.com–Dunia makin maju, tapi sebagian manusia masih berotak cabul. Obrolan bernuansa mesum dan merendahkan perempuan, bukannya hilang, malah makin liar. Mulai tulisan di bak belakang truk, sampai ketikan di ruang grup. Tak hanya di angkringan, tapi juga di lingkaran kaum terpelajar. Astaghfirullah. Bisa-bisanya kaum terdidik otaknya sedemikian kotor.

Ini adalah bukti kegagalan sistem pendidikan sekuler dalam menghasilkan manusia bertakwa dan beradab. Nyatanya, kepintaran tidak dibarengi dengan keimanan, hingga terhelincir pada perilaku niradab. Mereka tidak memiliki rasa takut terhadap Allah Swt. Tidak merasa diawasi dan terpapar paham kebebasan berekspresi. Tidak ingat bahwa semua yang keluar dari mulut, atau ketikan jari, akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah Swt. Apalagi jika ditujukan untuk merendahkan makhluk ciptaan-Nya, kaum perempuan.

Jangan Dinormalisasi

Selama ini, kaum laki-laki dianggap lumrah dengan ‘kenakalannya’ yang merendahkan perempuan. Perilaku seksisme, objektifikasi perempuan hingga catcalling dinormalisasi dalam pergaulan. Alasannya, itu ‘hanya bercanda.’ Pelakunya dimaklumi dengan ungkapan: ‘namanya juga laki-laki.’ Padahal, itu melanggar kehormatan manusia.

Seksisme sendiri didefinisikan sebagai bentuk prasangka, stereotip, atau diskriminasi berdasarkan jenis kelamin. Contoh, perempuan tidak dimintai pendapatnya dalam suatu pengambilan keputusan, hanya karena dia perempuan dan dinilai tidak kompeten.

Adapun objektifikasi perempuan adalah tindakan merendahkan martabat dengan membatasi nilai perempuan hanya pada fisik atau seksualitasnya semata. Cara pandang ini dimaksudkan untuk memuaskan hasrat laki-laki. Contoh, perempuan dibanding-bandingkan dari ukuran buah dadanya, bahkan di dunia kerja yang diterima yang seksi saja.

Sedangkan catcalling adalah bentuk ungkapan mengejek dengan nuansa mesum berupa siulan, komentar seksual, atau perilaku genit di ruang publik. Ini adalah awal menuju tindakan pelecehan seksual yang berbahaya jika dibiarkan. Bisa terjadi di pangkalan ojek atau pinggir jalan, bahkan juga di dalam kendaraan umum.

Budaya Primitif

Budaya merendahkan harkat dan martabat perempuan sejatinya sudah kuno dan ada sejak dulu. Misal, gambar perempuan seksi di bak belakang truk, ditambah tulisan merendahkan “kutunggu jandamu”. Seolah janda itu berkonotasi negatif, gampangan dan murahan. Padahal mereka juga perempuan suci.

Contoh lain, beberapa waktu lalu, sempat viral tindakan kontroversial kedai Feels Coffee di Semarang. Mereka membuat nama menu yang tidak pantas. Misalnya menu kopi susu, menggunakan nama-nama perempuan seperti Nadia, Putri, Bella, Cindy, dan Dewi. Bayangkan jika pengunjung pesan menu yang masing-masing dibanderol Rp18 ribu itu. “Pesan Nadia satu ya,” tentu asosiasinya menjurus kepada wanita panggilan alias pelacur.

Demikianlah, di era digital, budaya ini semakin subur dan langgeng, karena pemahaman kebebasan berekspresi yang kebablasan. Banyak yang tidak menyadari, betapa suburnya pelanggaran atas martabat perempuan di iklan, video konten, novel, film atau drama. Di sana, hampir semua menjadikan perempuan sebagai objek seksualitas semata.

Bukan Objek Seksual

Allah Swt menciptakan perempuan bukan seperti manusia menciptakan boneka seks. Jadi, jangan pernah menilai perempuan hanya dari organ-organ yang menimbulkan daya tarik seksual, seperti halnya boneka seks yang dibuat untuk membangkitkan birahi. Buang ke laut sudut pandang seperti itu.

Tubuh perempuan dengan segala keindahannya, bukan objek seksual laki-laki berpikiran kotor, tapi seperangkat organ untuk menjaga eksistensi manusia. Perempuan adalah ibu peradaban, yang dengan rahim dan organ reproduksinya, mendapat tugas menghadirkan manusia ke dunia, termasuk kaum laki-laki. Karena itu, jaga martabatnya. Hargai dan hormati dengan segala khitmad.

Kalau belum tahu caranya, pahami Islam. Karena, hanya Islam yang memiliki cara pandang benar dan bersih tentang perempuan.

Islam mendudukkan perempuan pada posisi yang mulia, tidak kalah dengan laki-laki. Perempuan diangkat menjadi pendamping dan bukan konco wingking. Artinya, kedudukan perempuan tidak kalah pentingnya dengan laki-laki dalam membawa kemaslahatan bagi dunia. Oleh karena itu, hargai, hormati dan muliakan kedudukannya.

Haram Melanggar Kehormatan

Seseorang lahir dari rahim seorang ibu yang notabene perempuan, berkat benih cinta dari sang ayah yang notabene laki-laki. Atas izin Allah, terciptalah seorang generasi manusia terbaik yang berhak diperlakukan dengan cara yang baik. Oleh karena itu, Islam melarang segala bentuk pelecehan, baik verbal, isyarat, maupun fisik. Semua itu dihukumi sebagai tindakan zalim yang merusak kehormatan (‘irdh) serta martabat manusia. Ada sanksi tegas berupa hukuman ta’zir bagi pelakunya.

Untuk mencegahnya, Islam membuat aturan yang tegas. Seperti, melarang pembuatan dan peredaran konten bermuatan pornografi dan pornoaksi. Karena, hal itu dapat merangsang syahwat, memicu fantasi seksual dan mengarah pada perilaku yang tidak bisa dikendalikan.

Islam juga memisahkan kehidupan khusus dan kehidupan umum, di mana siapa pun harus dapat mengendalikan syahwat sesuai tempatnya. Jika syahwat muncul di tempat umum, hendaklah segera pulang menemui istrinya yang sah. Bukannya melampiaskan pada perempuan lain, misalnya. Jika belum menikah, hendalkan puasa dan menundukkan pandangan. Bukannya malah berfantasi tentang perempuan dalam obrolan.

Nafsu yang tidak terkendali dan selalu dituruti, dapat melanggengkan pelecehan seksual. Pikiran terus menerus didominasi urusan seksual, perkataan dan perbuatannya pun akan mengikuti. Jika keinginan ini dibiarkan, bisa memicu perilaku melecehkan orang lain. Meskipun, korbannya belum tentu menjadi objek yang diinginkan oleh pelakunya.

Lindungi Diri

Sementara itu, Islam sangat melindungi kehormatan korban. Islam melarang keras perusakan kehormatan, menyakiti, dan mengambil hak orang lain. Siapapun pelakunya, menanggung dosa dan harus mempertanggungjawabkannya di dunia maupun akhirat.

Namun demikian, perempuan juga diperintahkan untuk menjaga diri. Jangan sampai kaum perempuan sendiri merendahkan martabat dan melecehkan dirinya. Apakah ada? Di peradaban sekuler ini, tentu saja hal itu banyak terjadi. Mereka yang dengan sadar dan sengaja mengizinkan tubuhnya direndahkan atas nama pekerjaan atau karya seni.

Cara berdandan, berpakaian dan gesture yang ditampilkan, berpotensi mengundang perilaku yang merendahkannya. Namun, mereka tidak menyadari hal itu, karena terjebak pada pola pikir feminis yang menyatakan: “Semua itu salahnya laki-laki, kenapa pikirannya kotor”.

Padahal, cara perempuan menampilkan value diri yang hanya menonjolkan fisik dan sex appeal ini, jelas tidak sejalan dengan perintah Allah Swt. Islam memerintahkan perempuan muslimah untuk menutup aurat, terbukti banyak maslahat dan hikmahnya. Di antara hikmah itu adalah, agar tidak ada laki-laki yang mengganggunya. Jika masih ada juga yang mengganggu, justru menjadi pelajaran berharga bahwa yang menutup aurat saja masih diganggu, apalagi yang tidak?

Ini bukan membela laki-laki dan menyalahkan perempuan, tapi mencegah agar tidak ada api dan asap sekaligus. Benar, laki-laki salah jika merendahkan martabat perempuan. Tidak ada alasan, siapapun korbannya, apakah wanita nakal atau muslimah salehah, laki-laki haram melecehkan mereka.

Artinya, di satu sisi, laki-laki wajib menghempaskan pikiran kotornya dan menundukkan pandangan. Tetapi di sisi lain, kaum perempuan juga harus menutup aurat dan berperilaku sesuai rambu-rambu ajaran Islam. Demikian mulianya Islam mengatur kehidupan sosial, di mana perempuan dan laki-laki harus saling menghormati dan saling menjaga agar terwujud masyarakat yang bermartabat. Maka, tidak ada alasan untuk meragukan aturan Islam. Terapkan dan rasakan maslahatnya.(*)

Continue Reading

Previous: Fenomena Day Care dan Fitrah Ibu di Bawah Bayang-bayang Kapitalisme

Related Stories

Fenomena Day Care dan Fitrah Ibu di Bawah Bayang-bayang Kapitalisme WhatsApp Image 2026-05-02 at 20.52.51

Fenomena Day Care dan Fitrah Ibu di Bawah Bayang-bayang Kapitalisme

02/05/2026
Seksualitas Bukan Candaan: Ancaman ‘Rape Culture’ di Era Kebebasan WhatsApp Image 2026-04-30 at 21.19.51

Seksualitas Bukan Candaan: Ancaman ‘Rape Culture’ di Era Kebebasan

30/04/2026
Catatan Kritis Kekerasan di Daycare dan Kecelakaan KRL: Alarm Keras bagi Perempuan untuk Lepas dari Jahatnya Kapitalisme WhatsApp Image 2026-04-30 at 20.40.57

Catatan Kritis Kekerasan di Daycare dan Kecelakaan KRL: Alarm Keras bagi Perempuan untuk Lepas dari Jahatnya Kapitalisme

30/04/2026

Recent Posts

  • Jaga Integritas, Empaskan Pola Pikir Cabul
  • Perempuan Bukan Boneka Seks
  • Fenomena Day Care dan Fitrah Ibu di Bawah Bayang-bayang Kapitalisme
  • Seksualitas Bukan Candaan: Ancaman ‘Rape Culture’ di Era Kebebasan
  • Catatan Kritis Kekerasan di Daycare dan Kecelakaan KRL: Alarm Keras bagi Perempuan untuk Lepas dari Jahatnya Kapitalisme

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Jaga Integritas, Empaskan Pola Pikir Cabul WhatsApp Image 2026-05-05 at 21.00.23

Jaga Integritas, Empaskan Pola Pikir Cabul

05/05/2026
Perempuan Bukan Boneka Seks WhatsApp Image 2026-05-05 at 20.37.15

Perempuan Bukan Boneka Seks

05/05/2026
Fenomena Day Care dan Fitrah Ibu di Bawah Bayang-bayang Kapitalisme WhatsApp Image 2026-05-02 at 20.52.51

Fenomena Day Care dan Fitrah Ibu di Bawah Bayang-bayang Kapitalisme

02/05/2026
Seksualitas Bukan Candaan: Ancaman ‘Rape Culture’ di Era Kebebasan WhatsApp Image 2026-04-30 at 21.19.51

Seksualitas Bukan Candaan: Ancaman ‘Rape Culture’ di Era Kebebasan

30/04/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.