Oleh. Kholda Najiyah
Muslimahtimes.com–Child grooming secara sederhana bisa didefinisikan sebagai bentuk manipulasi psikologis anak, yang dilakukan secara bertahap oleh orang yang lebih dewasa, untuk membangun hubungan emosional. Perlahan-lahan, orang dewasa yang memiliki otoritas atau figur yang tampak aman ini, akan meyakinkan si anak agar mempercayainya, hingga terjalin ikatan emosional. Namun, tujuan akhirnya, si anak dieksploitasi, terutama secara seksual.
Pelaku child grooming menunjukkan wajah manis bak malaikat di awal, hingga korban tidak merasakan bahayanya. Pelaku tidak menggunakan kekerasan fisik, tetapi menggunakan pendekatan persuasif dengan kata-kata yang memikat, perhatian yang berlebihan, memenuhi kebutuhan korban dengan hadiah, komunikasi yang intens, hingga korban tidak merasa ada yang salah.
Siapapun, penting untuk memahami persoalan ini. Pasalnya, ketidaktahuan terhadap child grooming akan menjadi celah yang dimanfaatkan pelaku, terutama di lingkungan institusi yang meniscayakan relasi kuasa antara orang dewasa dan anak. Misalnya di lembaga pendidikan, seperti sekolah, pesantren dan bahkan kampus. Guru dan orang tua, penting mengenali ciri-ciri pelaku child grooming dan tanda-tanda jika anak mulai masuk perangkap mereka.
Lantas seperti apa tanda-tanda yang harus diwaspadai? Beberapa alarm bahaya dalam proses child grooming dapat terlihat dari pola hubungan yang tidak sehat dan manipulatif, antara lain:
- Hubungan anak dengan orang dewasa yang tiba-tiba terlalu intens
Jika ada seorang anak yang tiba-tiba punya hubungan dekat dengan orang dewasa, secara kualitas maupun kuantitas cukup intens, maka perlu diwaspadai. Misal, anak tiba-tiba dekat dengan salah satu gurunya yang berbeda jenis kelamin. Sering terlihat mereka berduaan. Guru sering mendekati si anak, sering ditunjuk, diperhatikan, disebut namanya sebagai contoh, dibersamai mengerjakan tugas atau bahkan mungkin diantarkan pulang. Siapapun, baik guru lain di lingkungan sekolah maupun orang tuanya wajib waspada.
Jangan biarkan anak bepergian dengan orang dewasa berduaan, meski itu gurunya dan dengan alasan tugas sekolah, mengantar pulang atau apapun. Orang tua jangan mudah percaya dan wajib waspada.
- Anak diminta merahasiakan hubungannya dengan orang dewasa
Jika ada seorang anak yang tiba-tiba diminta oleh orang dewasa agar tidak menceritakan hubungan mereka berdua, ini termasuk perangkap child grooming. Anak harus diajari agar tidak bermain rahasia kepada orang tua, jika diperintahkan oleh orang dewasa manapun, bahkan jika itu gurunya. Tanamkan agar anak mempercayai orang tuanya, bahwa tidak ada yang lebih peduli akan keselamatan mereka kecuali ayah ibunya.
Karena itu, penting orang tua membangun kepercayaan dan ikatan emosional yang dekat dengan anak. Kerap, korban child grooming adalah mereka yang di rumah kurang kasih sayang, seperti anak yang fatherless alias kurang perhatian dari ayahnya. Ini berlaku bagi anak perempuan maupun laki-laki, mengingat korban child groming tidak memandang gender.
- Anak memiliki barang-barang dari hadiah
Pelaku child grooming akan menanamkan “perasaan berhutang” kepada korbannya. Membuat korban merasa harus berbalas budi atas segala kebaikan dan perhatian pelaku. Salah satu bentuknya adalah dengan memberikan hadiah, mengajaknya ke tempat yang disukai, menraktirnya dan mengabulkan keinginan si anak akan barang dan jasa tertentu. Segala pemberian tersebut, akan menjadi alat kendali pelaku, sehingga korban tidak lagi merasakan kemerdekaannya.
Jika suatu waktu anak tidak menuruti keinginan pelaku, dia akan mengungkit-ungkit pemberiannya, sehingga korban merasa bersalah dan tidak enak untuk menolak. Itulah jerat yang menyebabkan korban pasrah diminta melakukan apapun oleh pelaku. Termasuk memenuhi hasrat seksualnya.
Oleh karena itu, jika anak tiba-tiba membawa pulang atau menyimpan barang yang tidak pernah dibelikan oleh orang tua, wajib ditanya darimana asalnya.
Tentu dengan cara komunikasi yang persuatif, bukan penghakiman atau emosional. Biarkan anak menemukan kenyamanan pada orang tua, sehingga mau terbuka tanpa takut dihakimi dan dimarahi. Ini penting agar orang tua bisa segera bertindak jika ada alarm bahaya.
- Anak menarik diri dari pergaulan dengan sesama temannya
Perhatikan dengan siapa anak bergaul, apakah masih taraf normal atau mengalami keanehan. Jika anak mulai menarik diri dari lingkungan sosialnya, tidak suka berteman dengan sahabat-sahabat kecilnya dan malah lebih suka menyendiri, patut diwaspadai bahwa dia punya teman rahasia. Oleh karena itu, orang tua harus memperhatikan gerak-geriknya dalam kehidupan sosial, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Jika ada kecurigaan yang mengganggu, bisa bertanya kepada teman-temannya. Bekerjasama dengan guru yang bisa dipercaya atau kepala sekolahnya.
- Anak tidak mempercayai orang tua dan lebih percaya pada pelaku
Perhatikan perubahan perilaku anak, apakah terlalu ekstrim atau tidak. Misal, emosinya tidak stabil. Mudah berubah-ubah. Terlihat murung, atau bahkan menangis. Tidak fokus dalam belajar. Tidak bersemangat. Seperti ada masalah yang dipendam. Atau sebaliknya, dia terlalu ceria dibanding aslinya. Sangat bersemangat pergi ke sekolah. Pokoknya orang tua tidak boleh bersikap biasa-biasa saja. Tetap waspada.
Apalagi jika anak tidak mau terbuka pada orang tua. Tidak lagi percaya dengan orang tua. Jika punya HP, dia cenderung menyembunyikan smartphonenya, dikunci layar dan tidak suka jika orang tuanya banyak bertanya. Waspadai, jangan-jangan dia menjadi korban manipulasi orang dewasa dan sudah mendalam, sehingga tidak bisa melepaskan diri darinya.
Demikianlah, dunia memang sudah segila ini, sehingga kewaspadaan terhadap orang yang sebenarnya mungkin bermaksud baik pun, terpaksa harus dilakukan. Jangan sampai menyesal, setelah kejadian baru menyadari bahwa anak telah menjadi korban child grooming. Ini merupakan ancaman tersembunyi yang memerlukan perhatian serius dan siapapun tidak boleh lengah.(*)
