Oleh. Kholda Najiyah
Muslimahtimes.com–“Boleh nggak, istri nggak taat sama suami yang gajinya di bawah UMR?” Pertanyaan itu memicu pembahasan soal ukuran gaji seorang suami ideal. Ada yang berpendapat, gaji suami minimal harus 30 juta, 50 juta, bahkan 100 juta. Ada juga yang bilang, cowok yang layak dinikahi itu, harus punya 3-5X gaji ceweknya.
Tak hanya gaji besar, suami ideal itu dikaitkan dengan rumah sendiri, mobil, bebas utang, dan mampu membiayai lifestyle istri. Pria miskin, gaji hanya UMR atau malah di bawah itu, tidak ada harganya bagi perempuan. Muncul istilah provider husband, yaitu laki-laki yang bertanggungjawab penuh membiayai pasangan hidupnya, termasuk gaya hidup yang mahal. Sebaliknya, muncul istilah trophy wife, yaitu perempuan muda dan cantik yang dinikahi untuk menaikkan gengsi suami.
Mereduksi Peran Suami
Provider husband merujuk pada suami yang perannya dititikberatkan secara eksklusif pada kemampuan finansial. Seorang suami hanya diukur semata-mata dari seberapa banyak uang yang dihasilkan. Suami dianggap baik, terpuji, hebat dan layak ditaati, hanya jika uangnya banyak, kaya dan mapan. Suami mampu membiayai semua biaya hidup istri dan keluarga, termasuk gaya hidupnya yang mahal.
Suami seperti ini juga dituntut proaktif memperlakukan pasangan bak “ratu”, seperti membukakan pintu, memberikan bunga, menghujani pujian, hadiah dll. Suami yang mampu memanjakan istri, itulah suami idaman.
Adapun peran dan fungsi lain diabaikan. Seperti peran emosional, yaitu menjaga kestabilan hubungan agar rumah tangga harmonis. Mereka pikir, keharmonisan itu akan tercipta asal uang berlimpah. Padahal belum tentu. Kesabaran, keteguhan dan kekuatan mental suami dalam meredam konflik, seharusnya menjadi nilai plus dalam hubungan. Tapi, sesabar apapun suami, jika miskin, tidak bernilai di mata istri.
Lalu peran spiritual, yaitu menjadi panutan dalam ibadah dan ketakwaan, ladang pahala bagi istri yang melayani dengan taat dan ‘kunci surga’-nya. Ini tidak lagi jadi pertimbangan. Kasarnya, sesaleh apapun suami, kalau gaji cuma UMR, tetap tidak bernilai di mata istri. Tidak dianggap suami idaman.
Peran sebagai pelindung keamanan, yaitu menjadi wali dan bertanggungjawab atas keselamatan keluarganya di dunia maupun di akhirat. Kewajiban istri untuk taat dan izin, sesungguhnya adalah tameng penjaga kemuliakan, moral dan jaminan aman. Namun, banyak istri yang tidak menyadari dan hanya fokus pada uang dan uang.
Bahkan peran sebagai sami dan ayah yang turut bertanggung jawab atas pengasuhan dan pendidikan anak, tidak dilirik sama sekali. Asal uang berlimpah, urusan pengasuhan anak, cukup serahkan pada pembantu rumah tangga. Masalah pendidikan, tinggal panggil guru-guru les atau antarkan ke bimbel. Tak butuh kontrbusi suami.
Belum lagi fungsi afeksi dan fungsi reproduksi, di mana suami punya kontribusi dalam memberikan kasih sayang, rasa cinta dan kehadiran anak-anak. Kerap, istri mencampakkan suami yang kurang materi, tapi menguasai anak-anak tanpa empati.
Merendahkan Peran Istri
Sementara itu, standar istri masa kini itu adalah trophy wife, yaitu seorang istri yang diposisikan sebagai simbol status, “pajangan” atau “piala” bagi kesuksesan suaminya. Fokus utamanya, menjaga penampilan fisik agar selalu sempurna. Kulitnya licin, wajahnya glowing, dan kukunya mengkilap. Berbusana mewah dan tampil menarik di ruang publik atau media sosial, untuk menunjukkan “prestise” sang suami.
Nilai seorang perempuan direduksi hanya pada estetika visual dan materi, sementara kontribusi intelektual, peran domestik yang penuh makna pengabdian, atau kedalaman karakter keibuan diabaikan. Istri tidak perlu pandai mengatur uang, karena materi berlimpah ruah. Tak perlu cerdas dalam mengolah bahan pangan untuk gizi keluarga, karena bisa beli atau membayar tukang masak.
Tak perlu mengotori jemari dengan guratan bekas mengupas bawang, mengulek sambal dan menyiangi sayuran. Cukup duduk manis, mendampingi guru les anak-anak yang mengajarkan membaca Alquran.
Peran perempuan sungguh telah kehilangan makna, hanya dianggap boneka pajangan suami, untuk kebanggaan dan status sosial. Suami sukses jika istrinya punya visual sempurna: cantik, terawat dan awet muda. Istri yang memiliki lingkungan pergaulan kelas atas nan eksklusif (sosialita).
Istri yang berharga, harus bebas dari beban domestik. Tugasnya mendampingi suami, tampil menjadi figur yang anggun dan menawan. Media sosial menjadi “panggung” untuk pamer keharmonisan, hadiah mewah, gaya hidup glamour dan kesempurnaan fisik. Kasarnya, sepintar apapun perempuan, kalau tidak cantik maka tidak akan dilirik laki-laki mapan. Ini merendahkan perempuan.
Akar Sejarah
Sebelum abad ke-19 di era agraris, unit ekonomi keluarga berbasis rumah tangga, di mana suami, istri, dan anak-anak bekerja bersama-sama di ladang. Nilai-nilai materialistis belum muncul, karena keluarga menghasilkan sumber ekonomi yang mencukupi kebutuhan semata, bukan gaya hidup.
Lalu di era revolusi industri, lahir para ”The Breadwinner” atau pencari nafkah utama. Ketika pabrik-pabrik bermunculan di perkotaan, laki-laki bekerja sebagai buruh atau pekerja kantoran. Perempuan tinggal di rumah mengurus domestik. Para suami menjadi pencari nafkah tunggal untuk menghidupi keluarganya.
Masalah muncul ketika perempuan terjun ke dunia kerja di era modern abad 20. Karena tampil di publik, mereka juga memikirkan penampilan. Akhirnya, gaji suami untuk bertahan hidup, dan gaji istri untuk gaya hidup. Capek, lama-lama, para suami dituntut untuk menanggung 100% kemapanan finansial, cicilan, hingga gaya hidup konsumtif pasangannya. Muncul istilah provider husband.
Sementara itu, istilah trophy wife dipopulerkan pertama kali oleh jurnalis Julie Connelly di majalah bisnis Fortune, pada Agustus 1989, dalam artikel berjudul “The CEO’s Second Wife”. Dekade 1980-an pada era kejayaan kapitalisme itu, para eksekutif pria sukses dan kaya raya kerap menceraikan istri pertama mereka yang sudah menemani dari nol, lalu menikahi perempuan yang jauh lebih muda dan menarik secara fisik.
Kehadiran istri baru ini, dipamerkan di ruang publik untuk menunjukkan status sosial sang suami. Istilah ini langsung diadopsi oleh kolumnis bahasa seperti William Safire di The New York Times, masuk ke kamus, dan menjadi fenomena budaya global hingga hari ini.
Begitulah, konsep provider husband yang notabene produk dari pembagian kerja era industri, bertemu konsep trophy wife yang notabene produk dari budaya kapitalisme korporat 1980-an. Pertemuan itu menciptakan sebuah pola hubungan transaksional: suami membuktikan kesuksesan ekonominya dengan menjadi provider bagi gaya hidup mewah. Sebagai imbalannya, ia menikahi perempuan cantik yang menampilkan diri sebagai trophy yang memperindah status sosial sang suami di hadapan publik.
Merusak Relasi Pernikahan
Jika konsep provider husband bertemu trophy wife, maka yang terjadi adalah pernikahan transaksional, bukan kasih sayang murni. Suami memberi kemapanan dan kemewahan, istri memberi kepuasan estetika sebagai simbol suksesnya. Hilanglah mawaddah wa rahmah, yaitu katan batin yang sakral, karena digantikan oleh untung-rugi.
Suami merasa berhak mendikte istri karena telah “membeli” kecantikannya. Sebaliknya, istri merasa berhak menuntut tanpa batas karena ia telah “menjual” gengsi, atau kepatuhan yang diinginkan suami.
Hubungan seperti ini rapuh, rentan retak, saat kondisi berubah. Jika suami bangkrut finansial (gagal jadi provider), istri cenderung kehilangan rasa hormat dan mencampakannya. Sebaliknya, jika istri mengalami penuaan, sakit, atau perubahan fisik (kehilangan status trophy), suami akan kehilangan ketertarikan dan mencari pengganti.
Pernikahan seperti ini, juga akan menimbulkan tekanan mental dan beban psikologis yang tinggi. Suami stres kronis karena harga dirinya dipertaruhkan demi memenuhi standar gaya hidup mewah.
Di sisi lain, istri akan hidup dalam kecemasan konstan: takut menua, keriput, atau takut gagal memenuhi ekspektasi visual suami.
Pernikahan yang dibangun di atas fondasi gengsi, tuntutan berlebihan, dan pandangan yang mereduki esensi manusia, jauh dari nilai-nilai ketakwaan. Suami hanya jadi ATM, dan istri jadi barang pajangan. Niscaya tidak ada kepuasan batin yang permanen, meski secara materi terlihat sempurna.
Banyak rumah tangga yang hancur, marak perceraian dan perselingkuhan, karena pria mengejar istri estetik dan wanita mengejar laki-laki mapan. Para istri kurang bersyukur, hingga menuntut biaya hidup di luar batas kemampuan suami. Kecewa serta tidak bahagia jika tidak dipenuhi ekspektasinya. Suami pun kewalahan dan tertekan secara psikologis, karena tingginya tuntutan untuk menjadi “suami sempurna” yang tidak sesuai dengan fitrahnya.
Di sisi lain, para pria lajang yang belum mapan, akan takut menikah. Sementara yang mapan ekonomi hanya memilih pasangan muda yang cantik tanpa menilai aspek lainnya. Perempuan lajang yang merasa tidak good looking, akan minder. Karena itu, harus memoles penampilan agar dapat pria mapan. Enggan menerima pria bergaji UMR, takut dicap perempuan bodoh.
Pandangan Islam
Konsep suami sebagai qowwam dalam Islam memuliakan laki-laki, bukan sekadar dari kemampuan mencari materi, tapi karena bernilai kepemimpinan dan perlindungan. Konsep istri dalam Islam jauh lebih terhormat daripada sekadar trophy wife karena ia adalah mitra strategis peradaban dan pembangun generasi.
Suami adalah qawwam, bukan provider keuangan (QS. An-Nisa: 34). Peran suami memang menafkahi, tapi tak seperti mesin ATM. Ia juga sekaligus melindungi, mengarahkan, mendidik agama, dan menjaga kehormatan keluarganya. Memang benar, nafkah sandang, pangan, dan papan adalah kewajiban mutlak suami tanpa boleh membebankannya kepada istri, namun bukan berarti harus menanggung gaya hidup hedonis pasangan.
Sementara itu, istri salehah sangat jauh dari sekadar istri pajangan. Islam mengangkat derajat perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga —mmu wa rabbatul bait. Istri adalah mitra musyawarah yang menenangkan bagi suami. Madrasah pertama dan utama bagi anak-anak, pilar penjaga generasi. Penjaga kehormatan harta dan diri suami.
Lebih dari itu, pernikahan bukan ajang pamer kemewahan atau gengsi sosial, tapi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menyempurnakan separuh agama. Ada perjuangan dan pengorbanan, musyawarah dan kerjasama untuk mewujudkan nilai-nilai ketakwaan, bukan nilai-nilai materi semata.
Suami menunaikan kewajiban nafkah dan kepemimpinan; istri menunaikan ketaatan dalam hal yang makruf dan amanah domestik. Keduanya menjalin persahabatan yang menentramkan. Firman Allah Swt dalam surat An-Nisa 19: “Dan bergaulah dengan mereka secara patut.”
Islam memandang pernikahan dengan memfokuskan pada substansi, bukan estetika kosong. Keluarga yang sukses diukur dari ketakwaan, keberkahan, dan kualitas didikan anak, bukan dari seberapa mahalnya gaya hidup atau seberapa “sempurna” penampilan fisik istri di media sosial.
Konsep suami sebagai qowwam dalam Islam memuliakan laki-laki, bukan sekadar dari kemampuan mencari materi, tapi karena bernilai kepemimpinan dan perlindungan. Konsep istri dalam Islam jauh lebih terhormat daripada sekadar trophy wife karena ia adalah mitra strategis peradaban dan pembangun generasi.
Karena itu, kembalikan pernikahan pada panduan wahyu. Jadikan takwa, bukan standar kapitalis-materialis, sebagai kompas utama dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Karena, standar membangun rumah tangga harus syariat, bukan trend sosial sesaat.(*)
