
Oleh. Bu Budi
Muslimahtimes.com–Serangan udara yang dilakukan oleh zionis Israel di jalur Gaza kembali menewaskan puluhan warga Gaza Palestina. Termasuk mereka yang sedang mengantri bantuan makanan di tengah krisis kemanusiaan yang makin memburuk, dan kekerasan yang terjadi setiap minggu setelah menewaskan sedikitnya 68 orang.
Di samping itu tercatat pula sebanyak 47 korban jiwa di Gaza City wilayah utara Gaza, termasuk 5 orang tewas saat mendekati pusat distribusi bantuan makanan yang dikelola oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF) di utara Rafah.
Menurut laporan kantor media pemerintah Gaza, sejak GHF mulai mengelola pengiriman bantuan di akhir Mei, lebih dari 580 warga palestina tewas dan lebih dari 4.000 orang terluka saat mendekati pusat-pusat distribusi tersebut, (CNBC Indonesia, 30/6/2025).
Dari banyaknya berita yang beredar, menerangkan bahwa kebiadapan Zionis Israel sudah tidak manusiawi lagi. Zionis memblokade bantuan untuk warga Gaza dengan tujuan menciptakan kelaparan, agar bisa digunakan sebagai senjata untuk membunuh warga Gaza perlahan-lahan. Di samping itu, mereka juga membunuh rakyat Gaza dengan menembakinya ketika mereka sibuk antre makanan.
Namun apa yang dilakukan Zionis Israel tersebut tidak menggoyahkan jiwa kaum muslimin yang ada disana. Kaum muslimin dan para mujahid di Gaza Palestina menghadapi semua itu dengan kesabaran dan keteguhan jiwa. Kesabaran dan keteguhan jiwa tersebut berasal dari keimanan mereka yang memahami bahwa hidup mulia itu hanya dengan Islam.
Maka ketika Allah memerintahkan untuk menjaga tanah agar tidak dirampas oleh para penjajah apalagi tanah itu adalah tanah Al-Quds, maka umat Islam di Gaza Palestina tidak menyerah begitu saja dan tetap melawan Zionis. Perjuangan mereka yang luar biasa ini akhirnya membuat masyarakat dunia mengarahkan perhatian mereka ke Gaza. Hal ini dibuktikan dengan adanya Global March to Gaza yang diikuti dari berbagai negara menuju perbatasan Rafah beberapa waktu lalu.
Ada pula upaya untuk menembus blokade laut palestina, meskipun upaya tersebut tidak berhasil, namun itu menunjukkan bahwa masyarakat global terus bergerak serta menunjukkan pembelaan terhadap Gaza. Tetapi yang sangat memalukan adalah sikap para penguasa-penguasa muslim yang tetap diam. Bahkan mereka masih terus bergandengan tangan dengan para penjajah Zionis.
Ironisnya, ada penguasa muslim yang mengatakan akan memberikan kesempatan untuk membuka hubungan diplomatik dengan Zionis, disaat saudara kita di bombardir, dilaparkan dan dibunuh. Dengan syarat konflik Palestina dan Zionis diselesaikan dengan solusi 2 negara. Padahal solusi tersebut adalah solusi bathil. Solusi yang berasal dari barat yang tetap ingin mengokohkan kekuasaanya atas tanah Palestina.
Disamping itu, ada juga penguasa muslim yang justru mereka menjadi tameng bagi Zionis. Dia tidak mau membuka perbatasan Rafah, tidak mengirimkan bantuan atau pun tentara ke Gaza.
Padahal wilayahnya sangat dekat dengan Palestina. Dan ada pula penguasa muslim yang menutup mata dan telinga mereka seolah-olah masalah Gaza bukan masalah negerinya. Hal tersebut karena kuatnya cinta pada kedudukan dan kekuasaan yang membuat para penguasa negeri muslim buta mata dan hatinya, serta lalai akan hubungan persaudaraan atas dasar iman.
Berbagai kondisi inilah yang membuat Gaza berjihad sendirian untuk menghadapi Zionis laknatullah. Akar persoalan konflik antar Palestina dan Zionis adalah perang ideologi antara Islam dan kapitalisme. Ideologi Islam diwakili oleh individu-individu kaum muslimin dan mujahidin yang ada di Gaza Palestina, sementara ideologi kapitalisme dimiliki oleh Zionis yang didukung penuh oleh negara adidaya Amerika Serikat dan para sekutunya.
Konflik ini jelas tidak dapat dikatakan sebagai perang, lebih tepatnya pemusnahan etnik. Karena mereka yang ada di Gaza adalah sebuah kelompok masyarakat yang bertahan hidup untuk melawan Zionis Israel dan antek-anteknya. Konfilk antara Gaza dan Israel dapat dikatakan perang yang adil jika sebuah negara melawan negara, sebagaimana negara Islam (khilafah) melawan negara kapitalisme. Seperti halnya peperangan antara pasukan salib dan kamu muslimin di perang hitin dahulu.
Maka dapat digaris bawahi, bahwa Islam dapat berjaya jika dengan persatuan umat. Umat Islam di seluruh dunia menjadi satu naungan yakni Daulah Islamiyah. Sebab hanya dengan Daulah Islamiyah yakni khilafahlah yang bisa mengusir para penjajah dengan jihad.
Negara khilafah akan mengomando tentara muslim di seluruh dunia, untuk berjihad membebaskan Palestina dari penjajahan Zionis. Disamping itu, upaya untuk menyadarkan kaum muslimin juga harus digaungkan semakin kuat dan semaksimal mungkin. Karena ketidakpahaman akan akar masalah Palestina, yang membuat penjajahan masih berlangsung sampai sekarang.
Oleh karena itu, pengemban dakwah harus terus istiqomah berusaha menguatkan dan meningkatkan upayanya. Menyadarkan umat dengan menggaungkan opini positif atas solusi hakiki persoalan Palestina adalah dengan persatuan umat dan jihad. Disamping itu, juga menguatkan hubungan dengan Allah agar pertolongan Allah segera datang. Sehingga dukungan umat atas dasar kesadaran makin kuat. Yang nantinya umat akan bergerak dan menuntut penguasa mereka agar kembali kepada tuntunan Islam. Sehingga tak mustahil jika Palestina dan seluruh kaum muslimin yang ada di dunia ini merdeka dengan sebenar-sebenarnya. Waallhua’alam bishowab