Oleh. Kholda Najiyah
Muslimahtimes.com–Penculikan anak marak lagi. Seperti kasus yang menimpa Bilqis di Makassar, yang diculik selama tujuh hari dan ditemukan di Jambi. Meski sudah ditangkap para penculiknya, namun sindikatnya belum terbongkar sampai ke akar. Bagaimana mungkin para pelaku penculik yang notabene perempuan itu, bisa membawa Bilqis lintas pulau dengan aman. Jelas ini bukan amatiran.
Terlepas dari itu, kasus ini menjadi pelajaran bagi orang tua, agar lebih waspada dalam melindungi anak. Orang tua tidak boleh lengah sedikitpun, di tengah potensi kejahatan di sekitar anak. Di satu sisi, penting membekali anak dengan keterampilan untuk menjaga diri. Seperti, harus pergi seizin orang tua, jangan mau diajak orang asing, jangan mau menerima pemberian siapapun tanpa izin orang, berani menolak atau berkata tidak, berani meminta pertolongan dan bila perlu dibekali ilmu bela diri.
Di sisi lain, orang tua juga perlu mengambil langkah-langkah pencegahan guna meminimalkan risiko penculikan. Beberapa langkah berikut, semoga bisa mengantisipasi tindak kriminal pada anak, khususnya untuk anak-anak balita dan prabligh:
- Bonding yang Kuat dengan Anak
Hubungan orang tua dan anak yang dekat dan penuh kasih sayang, akan menjadi pengikat sehingga anak tidak mudah tergoda dengan kedekatan yang ditawarkan orang lain. Orang tua harus menunjukkan rasa kasih sayangnya, hingga anak merasa aman dan nyaman bersamanya. Anak memiliki ketergantungan emosi pada orang tua, sehingga tidak kosong dari kasih sayang yang bisa diisi orang lain.
Selain itu, bonding menciptakan rasa percaya anak pada orang tua dan tidak mudah percaya pada pihak lain. Di sini orang tua harus memahamkan pada anak, bahwa tidak semua orang punya niat baik. Di dunia ini ada orang yang jahat pada anak-anak. Ceritakan tanda-tanda dan indikasi orang yang biasanya punya niat jahat itu, sehingga anak punya insting untuk waspada.
- Pantau Keberadaan Anak
Baik di tempat pribadi maupun di tempat umum, keberadaan anak harus selalu berada dalam jangkauan orang tua. Artinya, orang tua tahu persis dia sedang di mana. Misal saat di rumah, apakah di teras, kamar, atau ruang tamu. Apakah sedang bertandang di tetangga sebelah rumah, sedang di rumah nenek dan sebagainya.
Ini bukan berarti anak dikurung di dalam ruangan khusus, atau dipakaikan rantai agar tidak terlepas dari orang tua. Cukup diketahui keberadaannya di tempat yang aman. Terlebih lagi di tempat umum, jangan lepaskan anak bermain sendirian tanpa pengawasan. Seperti di pusat perbelanjaan, taman bermain, lokasi wisata atau area parkir. Apalagi jika lokasi itu baru pertama kali dikunjungi, masih asing dan belum familiar untuk anak.
- Kenali Circle dan Rute Perjalanan Anak
Orang tua tidak mungkin bisa memantau keberadaan anak 24 jam. Anak juga punya kehidupan sosial yang menjadi haknya. Seperti bersekolah dan bermain dengan teman-temannya. Orang tua perlu tahu siapa saja lingkup pergaulan anak. Jika anak pergi-pulang sekolah jalan kaki, pastikan tidak sendiri dan bareng-bareng dengan temannya. Kenali teman-teman anak ini, lokasi rumah dan jika perlu kedua orang tuanya. Demikian pula jika anak bermain dan bersosialisasi dengan tetangga atau lingkungan sekitar, pastikan orang tahu di mana dan dengan siapa dia berinteraksi.
- Sepakati Aturan Keamanan Bersama
Ajak bicara anak sesuai usia mereka, untuk bersama-sama membuat semacam kesepakatan tentang pentingnya rasa aman. Misal, buat aturan yang jelas tentang tempat-tempat yang boleh dan tidak boleh dikunjungi anak. Buat batasan juga, dengan siapa saja mereka boleh pergi dan tidak boleh. Buat kata kunci atau semacam password yang harus diucapkan oleh penjemput anak, misalnya. Pastikan anak selalu meminta izin kepada orang tua sebelum pergi ke suatu tempat.
- Pantau Aktivitas Online Anak
Jika anak-anak sudah bersentuhan dengan dunia digital, tambahkan obrolan tentang keamanan cyber dengan anak. Internet sering dimanfaatkan oleh predator anak, dengan memanfaatkan kepolosan anak kecil. Tidak sedikit, anak usia SD atau SMP yang diajak bertemu teman di medsos, yang lebih dewasa dari dirinya dan ternyata predator seksual.
Akan lebih baik jika anak di bawah usia 13 tahun, tidak bermain medsos dan tidak usah dibelikan smartphone. Jika sudah terlanjur, mau tidak mau harus meminta anak untuk terbuka tentang akun dan pertemanannya. Ajak anak bicara dari hati ke hati, agar waspada dan tidak sembarangan berkomunikasi di media sosial.
Buat kesepakatan tentang batasan waktu mengakses internet dan situs atau apalikasi apa saja yang diizinkan. dan batasi akses mereka ke situs yang tidak sesuai. Jangan lupa, orang tua juga perlu bijak dalam membagikan informasi pribadi tentang anak di media sosial. Anak punya hak privacy yang harus dijaga.
- Bekali Anak Kemampuan Mengidentifikasi Diri
Pahamkan anak dengan identitas dirinya, sehingga jika suatu saat meminta pertolongan ia bisa menjawab dengan jelas tentang dirinya. Nama, alamat, nama ayah dan ibu, serta nomor kontak yang bisa dihubungi. Jika perlu, buatkan anak kartu identitas khusus. Taruh di tasnya, atau mungkin ditulis di bagian dalam pakaiannya dengan spidol permanen. Khususnya untuk anak-anak yang rawan berpisah dengan orang tuanya. Misal, orang tuanya kerja, atau ibunya punya bayi di rumah, sehingga yang menjemput paman, bibi atau bahkan tukang jemputan langganan.
- Koordinasi dengan Pihak Sekolah
Untuk anak usia sekolah, koordinasilah dengan pihak sekolah tentang siapa saja yang boleh berinteraksi dengan anak.
- Titipkan pada Allah dengan Tawakal
Berbagai upaya di atas, tentunya dilakukan disertai tawakal. Titipkan keamanan dan keselamatan anak pada Allah Swt. Dialah sebaik-baik penjaga, karena orang tua tentu punya banyak keterbatasan. Apalagi di sistem hidup jahat seperti saat ini, di mana potensi kejahatan terhadap anak ada di mana-mana. Oleh karena itu, pastikan kita memilih lingkungan yang aman saat membawa anak-anak beraktivitas di luar rumah atau ke tempat umum. Semoga Allah Swt menjaga anak-anak kita dalam penjagaan terbaik.(*)
