Oleh. VieDihardjo
Muslimahtimes.com–Pemuda adalah aset peradaban, jika mereka menjadi agen transformasi kemajuan dan kebaikan. Namun belakangan muncul kekhawatiran terhadap para pemuda, seiring dengan meluasnya perilaku narsistik atau Narcissistic Personality Disorder (NPD). NPD adalah gangguan kesehatan mental. Kebutuhan untuk diperhatikan, dikagumi dan dipuji secara berlebihan. Pelaku NPD kebanyakan merasa superior, pusat dunia, memiliki kepekaan terhadap kritik diluar normal dan kurang empati.
Pemuda yang berperilaku NPD berpotensi mengalami bahaya, pertama, ketidakstabilan emosi. Kebutuhan akan validasi dan pujian berlebihan mendorong mereka cepat marah, tantrum karena merasa diremehkan. Kedua, rasa marah dan merasa diremehkan terus menerus akan menjadi depresi, kecemasan akut bahkan rasa hampa yang kronis. Ketiga, pada perilaku akan tampak sulit menerima kritik, melakukan manipulasi, menyangkal kesalahan sendiri, menyalahkan orang lain (playing victim) dan menghindari tanggungjawab. Keempat, agar nampak sempurna dan mengejar validasi, mereka bisa mengambil berbagai keputusan tanpa pertimbangan matang, misalnya, mengambil resiko finansial seperti pinjol, judol dan lainnya. Kelima, mereka kehilangan identitas karena terus menerus mengalami tuntutan narsistik, seperti harus selalu sempurna, tidak boleh gagal dan lainnya.
Jika pemuda sebagai agen perubahan ke arah lebih baik justru terperangkap pada pola perilaku NPD, mereka tumbuh pada budaya yang menilai mereka berdasrkan like dan followers menjadi sumber harga diri, bagaimana arah masa depan?
Mengapa NPD Meluas?
Meskipun genetik memiliki andil dalam kepribadian narsistik (NPD) misalnya pada regulasi emosi, impulsif dan cara membangun harga diri, namun, pola pengasuhan memberi pengaruh kuat pada kepribadian NPD. Misalnya, pola overvaluation (memberi pujian berlebihan) tanpa mengaitkan dengan proses, akan muncul superioritas palsu, atau, pola asuh permissif (tidak memberi batasan dan tanggungjawab), anak akan berfikir “ia selalu benar”. Atau anak yang mengalami pengabaian emosional akan merasa”tidak ada yang mengagumiku maka aku harus mengagumi diriku sendiri”
Mesin penguat “narsisisme” adalah penggunaan media sosial tanpa kendali logika. Kecenderungannya bisa mencapai 64-76%, tergantung platform media sosial yang digunakan, WhatsApp 76,60%, Tiktok 72,28% dan Instagram64,69%(www.jounal1.uad.ac.id). Meta analysis global terhadap 57 studi (total 25.600 responden) terdapat efek kecil hingga sedang antara kepribadian narsistik dengan perilaku pada media sosial (https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov).
Sistem Kapitalisme menjadi habitat yang menyuburkan NPD. Pada Kapitalisme kehidupan berpusat pada individu atau “aku” bukan pada orang lain atau “kita”. Pencapaian personal yang dipamerkan pada media sosial dan mendapatkan validasi dari netizen, menjadi sesuatu yang paling penting dan menjadi ukuran menilai seseorang. Identitas menjadi komoditas yang dibangun melalui status sosial, gaya hdup, merek dan lainnya, maka yang terjadi adalah menonjolkan citra dan status, membandingkan diri dengan orang lain secara material dan mengejar simbol-simbol prestise secara agresif. Maka Kapitalisme telah memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk mengambil keuntungan dari ekonomi atensi, dimana manusia “menjual diri” di dunia digital untuk mendapatkan atensi (perhatian) melalui likes, views, followers, dimana hal ini adaalah bahan bakar utama berkembangnya perilaku NPD.
Cegah NPD dengan Takwa
Ketika Narsisme membawa pola pikir “aku diatas semua”, taqwa menanamkan kesadaran bahwa manusia adalah hamba, bukan pusat dunia. Taqwa adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, bukan sekedar konsep spiritual, memurnikan ibadah tetapi juga kesadaran moral tentang hubungan antar manusia, membentuk karakter baik, mengedalikan ego dan rendah hati, hal ini akan mencegah perilaku NPD.
Sombong adalah sifat yang dibenci Allah, sebagaimana firman-Nya,
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS.Lukman : 18)
Cegah NPD dengan berusaha menjalankan perintah Allah, menjauhi sifat sombong, yakni merasa lebih baik, lebih tinggi, superior sekaligus merendahkan orang lain. Selain itu, Islam juga mengajarkan tentang kepedulian pada orang lain yang pada perilaku narsistik (NPD) hal ini tidak terjadi, Allah berfirman,
وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS.Al Maidah : 2)
Mengembalikan niat berbuat terbaik karena Allah juga mencegah NPD. Niat ikhlas karena Allah akan meminimalkan dorongan untuk mencari validasi dari orang lain. Rasulullah saw bersabda,
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya”([HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)
Takwa yang dilakukan secara individual tidaklah cukup untuk mencegah NPD. Perlu menciptakan keadaan agar perilaku NPD tidak semakin meluas dikalangan pemuda, yakni menghidupkan amar ma’ruf nahi mungkar di tengah masyarakat. Dan peran negara akan menguatkan dengan menjadikan Islam sebagai sistem yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia. Negara yang menerapkan Islam secara menyeluruh menggunakan segala kekuatan yang dimilikinya, misalnya melalui kurikulum pendidikan, sistem informasi, teknologi, pertahanan kemanan untuk melindungi segenap warga negara agar terhindar dari segala gangguan yang merusak aqidah, diantaranya adalah NPD.
Wallahu’alam bisshowab
