Oleh.Nila Yustisa Paramitha, S.Ip
Muslimahtimes.com–Paparan gawai tanpa henti memang menimbulkan persoalan hebat yang dialami banyak orang saat ini. Hal ini banyak dialami oleh Generasi Z dibanding dengan orang-orang di atas usianya. Generasi yang merupakan Digital Native ini merupakan kelompok paling rentan dengan bahaya paparan digital. Kondisi yang paling banyak muncul adalah penggunaan media sosial membawa rasa cemas dan khawatir berlebihan pada diri mereka. (kompas.id, 6 juni 2023)
Pada diri gen Z seringkali merasa overthinking, takut ketinggalan isu (FOMO), tidak percaya diri dengan kehidupannya dan berpotensi membandingkan diri dengan orang lain, timbul kecemasan berlebihan berujung pada tindakan menyakiti diri sendiri hingga bunuh diri, dan berbagai persoalan kesehatan mental mulai dari ringan hingga berat.
Budaya flexing seringkali terjadi di ruang layar sehingga memicu rasa haus validasi yang berlebih pada diri Gen Z. Trend-trend materialis yang massif menjadikan mereka mempunyai standar hidup dan kecantikan yang palsu. Kesenangan yang timbul dari scrolling merupakan dopamine instan yang menimbulkan efek bahagia sesaat dan kecanduan untuk terus menatap layar. Mereka menghabiskan waktunya menatap layar tanpa batas yang berujung pada hilangnya kualitas diri, kejenuhan otak (brain root), dan parahnya menjadikan waktu beribadah dan mendekatkan diri pada pencipta mereka semakin sedikit. Pada tahapan selanjutnya jiwa mereka digerogoti penyakit yang mengerikan yaitu “kekosongan jiwa”. Iya sih, media sosial memang sebuah alat yang netral yang bisa jadi alat yang positif untuk kita atau justru negatif. Jadi, kita perlu tahu penyebab kenapa media sosial saat ini seoleh menjadi momok yang mengerikan bagi kita!
Bangunan Nilai di Balik Sosial Media
Perlu kita dudukkan bersama bahwa media sosial saat ini bukan sekedar alat kumunikasi, ia adalah produk industry yang merupakan bagian dari system ekonomi yang saat ini diterapkan dunia. Industri digital menciptakan setiap fitur yang ada didalamnya dengan tujuan tertentu. Kita garis bawahi bahwa teknologi akan selalu membawa setiap nilai yang dibawa oleh penciptanya.
Kita juga perlu sadari bahwa saat ini kita hidup ditengah system kapitalisme yang sangat mendewakan keuntungan. Kapitalisme akan mengubah apapun menjadi komoditas lahan cuan. Nah di sini kita akan temukan bahwa kapitalisme juga menjadikan manusia sebagai barang dagangan mereka. Dalam dunia digital data pengguna adalah aset ekonomi yang sangat berharga. Mereka bukan menjual aplikasi tapi kita. Ya, Anda tidak salah baca. Kita adalah sesuatu yang mereka jual.
Semakin lama scrolling industri digital akan semakin diuntungkan. Mereka memainkan algoritma bukan untuk kemaslahatan, tapi untuk keuntungan industry kapitalis. Menjadikan perhatian kita sebagai komoditas, juga menjadikan emosi kemarahan kita seperti takut, senang, marah sebagai bahan bakar yang semakin meningkatkan keuntungan yang mereka dapat. Kapitalisme memandang bahwa ketenangan tidaklah menguntungkan, maka mereka selalu membuat inovasi baru yang tujuannya adalah meningkatkan keuntungan mereka walaupun merusak tatanan nilai masyarakat.
Demi keuntungan material mereka menghalalkan segala cara. Menciptakan gaya hidup bebas secara brutal, menjual tubuh, memberi harapan palsu tentang nilai pencapaian material yang membahagiakan. Manusia dipandang sebagai konsumen, bukan hamba Allah yang punya potensi kehidupan.
Kapitalisme Menggerus Nilai Kehidupan
Bangunan nilai kapitalisme tersebutlah yang telah menggeser nilai hidup manusia. Kapitalisme menjadikan manusia terobsesi dengan angka bukan makna. Mereka menjadikan manusia gila akan citra dimata manusia daripada amal sholih yang akan dipertanggungjawabkan nantinya.
Kapitalisme telah menjadikan manusia hidup dengan standar yang sangat berbeda dari fitrahnya. Tolok ukur kesuksesan manusia bukan lagi menjadi hamba Allah yang taat, diridhai Allah swt, dan mendapat pahala tapi berubah menjadi sekedar jumlah views, likes, dan follower saja.
Dampaknya jiwa manusia kosong, hatinya pincang, akalnya tertutup dengan kefanaan. Insecure masal terjadi, ketika melihat influencer memamerkan kekayaannya, padahal bisa jadi mereka juga mendapatkan dengan cara yang tidak sehat. Munculnya kompetisi yang tidak sehat, si kaya akan tetap menjadi kaya bahkan semakin kaya, namun si miskin akan terperosok dalam jurang kemiskinan. Banyak orang memaksakan diri mendapatkan sesuatu yang diluar kemampuannya.
Kapitalisme menangkap peluang dengan mengembangkan dunia fintech lewat pinjol dan judol. Dan masyarakat semakin terbawa kedalam jurang yang lebih dalam dengan merebaknya riba. Pada akhirnya terjadilah keletihan batin yang menjangkiti jiwa-jiwa kosong itu dan mulailah terjadi dampak yang lebih buruk dengan menurunnya kesehatan mental manusia hingga berujung depresi dan bunuh diri.
Efek Kapitalisme ini bukan perkara lemahnya iman individu tapi merupakan sistem yang sangat menekan. Sistem yang terkait dengan kebijakan Negara juga secara global. Mereka hanya dikuasai segelintir elit yang menguasai dan memainkan peranannya secara menggurita. Sehingga dampaknya bukan hanya individu saja yang terkena dampaknya, bahkan negarapun dibuat jatuh terperosok di dalamnya.
Islam Solusi Perubahan
Bangunan Kapitalisme Global yang menggurita dan saling terkait saat ini akan tetap berdampak kepada kita jika tetap digunakan. Kapitalisme merupakan ideologi, ia membentuk cara bekerja, nilai yang tertanam di tengah kehidupan, dan cara pandang manusia terhadap kehidupan.
Selama cara pandang kapitalisme masih digunakan oleh Negara dalam pengambilan solusi maka selama itu pula Negara hanya akan mengambil langkah perbaikan yang tak menyentuh akar masalah. Masalah kesehatan mental hanya akan menjadi isu yang terus berkembang dan semakin besar. Di sinilah penting untuk menyadari bahwa persoalan yang kita hadapi bukan semata kegagalan individu mengelola hidup, melainkan hasil logis dari sistem yang negara digunakan. Sebuah sistem yang menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama akan terus melahirkan eksploitasi, ketimpangan, dan krisis makna.
Islam memandang persoalan ini dari sudut yang berbeda. Islam tidak hadir hanya untuk memperbaiki akhlak individu di dalam sistem yang rusak, melainkan menawarkan bangunan sistem yang benar. Dalam Islam, manusia tidak diciptakan untuk melayani pasar, tetapi untuk beribadah kepada Allah. Kehidupan ekonomi bukan arena bebas nilai, melainkan aktivitas yang terikat tujuan dan hukum syariat. Maka penggunaan ruang ekonomi dan digital dalam Islam harus disesuaikan dengan perintah dan larangan Allah, tujuannya untuk menggapai keridhoan Allah.
Perubahan cara pandang kapitalisme kepada Islam adalah langkah awal yang perlu kita tempuh, jika kita menginginkan perubahan pada kehidupan kita. Allah berfirman:
اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ ࣖ ٥٠
“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” (Al-Ma’idah : Ayat 50)
Wallahu A’lam
