Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2026
  • January
  • 15
  • Atasi Gap Generasi dengan Peran Orang Tua

Atasi Gap Generasi dengan Peran Orang Tua

Editor Muslimah Times 15/01/2026
WhatsApp Image 2026-01-15 at 10.25.50
Spread the love

Oleh. Tari Ummu Hamzah

Muslimahtimes.com–Menurut Cambridge University Press & Assessment, generation gap adalah situasi yang mana orang yang lebih tua dan yang lebih muda tidak saling memahami karena perbedaan pengalaman, pendapat, kebiasaan, dan perilaku. (dictionary.cambridge.org). Tapi Menurut Merriam-Webster, generation gap adalah perbedaan pendapat, nilai, dll., antara orang yang lebih muda dan orang yang lebih tua.

Narasi gap generasi makin menguat di sosial media ketika arus opini ini makin kencang dengan cara, mengklasifikasikan generasi sesuai dengan karakternya. Seperti Gen X dianggap terlalu konvensional, Gen Y disebut sebagai generasi yang limbung identitas, Gen Z dicap rapuh mental, sementara Gen Alpha dipersepsikan sebagai kelompok paling mudah dipengaruhi teknologi.

Pembelahan ini menciptakan perbedaan nilai, pola pikir, dan perilaku antar kelompok usia. Sehingga wajar kalau koneksi sesama generasi itu tidak saling terhubung. Padahal syarat kuatnya sebuah bangsa itu salah satunya dengan koneksi. Keterhubungan satu sama lain itu akan menciptakan kesatuan.

Gap Generasi di Ranah Keluarga.

Tidak dimungkiri lagi kalau narasi gap generasi itu memang dari sosial media. Generasi yang paling mudalah yang sering terpapar teknologi. Parahnya, ini jadi pengaruh besar dalam membentuk karakter dan cara berfikir mereka. Alhasil Baby boomer sibuk ngomong soal kestabilan hidup. Gen x menjadi si paling paham soal nilai hidup. Milenial sibuk beradaptasi, dan gen Z sibuk dengan tren.

Akhirnya narasi gap generasi ini juga mempengaruhi kondisi didalam keluarga. Karena satu rumah jelas beda generasi. Belum lagi jika ada nenek atau kakek. Tiga generasi ini akan berkumpul dibawah satu atap. Kalau tidak saling memahami karakter masing-masing, runyam pastinya.

Si anak jadi enggan terbuka dengan orang tuanya, karena si anak merasa ortu tidak paham generasi masa kini. Si orang tua, sebenarnya ingin menyelami kehidupan anak-anak muda, tapi sering kali gagal karena sifat ketidak sabaran mereka dalam menghadapi anak muda. Jadi, kedekatan dan komunikasi sesama anggota keluarga harus dipertimbangkan dari sisi generasi, bukan lagi soal membangun kehangatan. Saat dua atau tiga generasi berinteraksi, wajar jika ada sisi-sisi yang berbeda yang bisa saja diatasi dengan sikap toleransi. Karena berbeda itu memang suatu kewajaran.

Dalam esai karya sosiolog Hungaria, Karl Mannheim (1893–1947). Ia menerbitkan esai berjudul Das Problem der Generationen, lalu diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul The Problem of Generations pada 1952.

Dalam esainya dia mengatakan bahwa perubahan sosial itu tidak terletak pada interval generasi secara teratur. Misalnya interval 25 tahunan. Perubahan sosial itu juga dipengaruhi dengan kecepatan perubahan teknologi.

Namun teknologi dan sosial media masa kini, didorong motif kapitalistik yang dimodifikasi sedemikian rupa, demi tercapainya tujuan komersial. Jadi, perbedaan ditengah sosial masyarakat bisa dimanfaatkan oleh para kapitalis membuat ceruk-ceruk pasar, untuk memudahkan mereka memasarkan produk.

Mana gap generation itu lahir dari sistem kapitalisme yang di era digital ini diperkuat oleh sistem alogaritma. Atau kita bisa menyebutnya dengan “Rezim Algoritma”. Tugasnya memisahkan setiap generasi. Membuat segmentasi pasar, untuk mempermudah produsen menjual produk. Tapi produk itu tidak berupa barang aja ya. Tapi informasi berupa konten-konten soal nilai-nilai, behaviour, dan budaya.

Pandangan Islam soal Gap Generasi.

Gap generasi itu bisa dihilangkan dengan peran orang tua. Karena dalam Islam orang tua memiliki kewajiban untuk mendidik anaknya. Baik didik dalam hal-hal bersifat ilmiah dan teknis, tapi juga dididik dalam hal komunikasi. Skill komunikasi anak itu berawal dari suasana komunikasi didalam rumah.

Ketika kehadiran dan sentuhan org tua hadir sepenuhnya, maka akan membuat anak memahami cara berinteraksi dg orang tuanya. Alhasil, anak kita terlatih skill komunikasi dan interaksi dengana generasi sebelumnya. Maka cara pandang dan sikap mereka terhadap generasi seniornya bukan seperti hakim dan terdakwa. Namun sebagai pihak yang bisa membimbing mereka.

Interaksi dan koneksi ini akan menyingkirkan jurang pemisah antara dua generasi, serta menghilangkan stigma dan asumsi buruk. Maka peran orang tua di sini adalah menguatkan Identitas mereka sebagai seorang muslim, dimana baik tua atau muda memiliki kewajiban, amanah, dan perjuangan yang sama. Yaitu memperjuangkan kembali penerapan syariat Islam.

Sehingga mereka punya arah tujuan yang jelas tanpa harus membandingkan dirinya dengan generasi sebelumnya. Pemuda juga makin sadar bahwa, gap generasi itu tidak ada dalam Islam. Itu hanyalah akal-akalan kapitalisme yang ingin mengotak-kotakkan kaum muslimin.

Maka dari itu, generasi senior dan junior harus bahu-membahu memberikan potensinya untuk Islam dan kaum muslim. Para pemuda menjadi kader tangguh pelopor perubahan, sedangkan orang tua menjadi sahabat takwa anak. Dua generasi, satu amanah.

Islam tidak mengenal adanya gap generasi. Justru antar generasi tersambung dengan satu way of life dan satu amanah. Fondasi hidup, standar kesuksesan, dan amanah yang wajib diperjuangkan adalah Islam. Untuk itu, peran orang tua dalam membimbing anak-anak mereka untuk menuju ketaatan, adalah upaya bahu membahu dr generasi untuk menjadi pelopor penggerak perubahan.

Continue Reading

Previous: Gugurnya Perisai Rakyat, Kritik Dibalas dengan Api dan Teror

Related Stories

Gugurnya Perisai Rakyat, Kritik Dibalas dengan Api dan Teror WhatsApp Image 2026-01-15 at 10.09.42

Gugurnya Perisai Rakyat, Kritik Dibalas dengan Api dan Teror

15/01/2026
Palestina, antara Harapan dan Pengkhianatan Dunia WhatsApp Image 2026-01-15 at 09.49.40

Palestina, antara Harapan dan Pengkhianatan Dunia

15/01/2026
Influencer Kena Teror di Rezim Antikritik WhatsApp Image 2026-01-11 at 07.11.41

Influencer Kena Teror di Rezim Antikritik

11/01/2026

Recent Posts

  • Atasi Gap Generasi dengan Peran Orang Tua
  • Gugurnya Perisai Rakyat, Kritik Dibalas dengan Api dan Teror
  • Palestina, antara Harapan dan Pengkhianatan Dunia
  • Influencer Kena Teror di Rezim Antikritik
  • Konten Kreator Diteror

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Atasi Gap Generasi dengan Peran Orang Tua WhatsApp Image 2026-01-15 at 10.25.50

Atasi Gap Generasi dengan Peran Orang Tua

15/01/2026
Gugurnya Perisai Rakyat, Kritik Dibalas dengan Api dan Teror WhatsApp Image 2026-01-15 at 10.09.42

Gugurnya Perisai Rakyat, Kritik Dibalas dengan Api dan Teror

15/01/2026
Palestina, antara Harapan dan Pengkhianatan Dunia WhatsApp Image 2026-01-15 at 09.49.40

Palestina, antara Harapan dan Pengkhianatan Dunia

15/01/2026
Influencer Kena Teror di Rezim Antikritik WhatsApp Image 2026-01-11 at 07.11.41

Influencer Kena Teror di Rezim Antikritik

11/01/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.