Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2026
  • January
  • 28
  • Banjir dan Longsor Aceh; Harapan Warga Ikut Tenggelam

Banjir dan Longsor Aceh; Harapan Warga Ikut Tenggelam

Editor Muslimah Times 28/01/2026
WhatsApp Image 2026-01-28 at 20.54.27
Spread the love

Oleh. Aulia Shafiyyah

Muslimahtimes.com–Bagi banyak warga Aceh, banjir dan longsor bukan sekadar peristiwa alam yang datang lalu pergi. Ia hadir membawa lumpur, merusak rumah, memutus jalan, dan yang paling menyakitkan: merampas sumber penghidupan. Di balik istilah “bencana hidrometeorologi”, ada petani yang menatap sawahnya dengan mata basah, ada buruh tani yang kehilangan pekerjaan, dan ada keluarga yang bertahan dengan sisa harapan.

Data menunjukkan, sekitar 56.652 hektare lahan persawahan di 18 kabupaten dan kota di Aceh rusak akibat banjir bandang dan longsor (Media Indonesia, 25/01/2026). Angka ini bukan sekadar statistik. Ia mewakili ribuan keluarga yang menggantungkan hidup pada tanah, air, dan hasil panen. Ketika sawah rusak, bukan hanya beras yang hilang, tetapi juga rasa aman atas masa depan.

Di wilayah Aceh pegunungan, kondisi warga bahkan lebih berat. Hasil pertanian dan perkebunan masih terpuruk karena akses transportasi darat belum sepenuhnya pulih, sehingga panen sulit dijual dan harga jatuh (Kompas.id, 19/01/2026). Petani tetap bekerja, tetapi jerih payahnya belum mampu menghidupi keluarga. Jalan yang rusak seolah menjadi simbol terputusnya harapan.

Situasi ini semakin terasa pahit ketika status tanggap darurat kembali diperpanjang untuk keempat kalinya (Kompas.id, 23/01/2026). Perpanjangan ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana belum benar-benar tuntas. Hidup dalam kondisi “darurat” yang berkepanjangan membuat warga kelelahan, bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental. Mereka menunggu kapan kehidupan kembali normal, kapan negara benar-benar hadir.

Lambannya pemulihan berdampak langsung pada perekonomian rakyat. Banyak warga kesulitan mencari kerja, sementara sektor pertanian dan perkebunan—yang menjadi tulang punggung ekonomi—belum bangkit. Dalam kondisi seperti ini, negara seharusnya tampil sebagai pelindung dan pengurus rakyat. Namun kenyataannya, paradigma bernegara yang masih bertumpu pada logika untung-rugi membuat pemulihan berjalan terbatas. Anggaran dihitung dengan kacamata efisiensi, sementara kebutuhan rakyat di lapangan bersifat mendesak.

Padahal Islam dengan tegas memerintahkan penguasa untuk berlaku adil dan mengurus urusan rakyat. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil” (QS. An-Nisa: 58). Ayat ini menegaskan bahwa kekuasaan adalah amanah, termasuk amanah mengurus rakyat yang tertimpa bencana.

Lemahnya pengelolaan bencana juga tampak dari koordinasi yang minim dan pola tanggap darurat yang berulang. Dalam sistem kapitalis, anggaran negara sering lebih diarahkan pada investasi dan proyek bernilai ekonomi, sementara rakyat korban bencana seolah dipaksa bertahan mandiri. Padahal Rasulullah SAW mengingatkan, “Imam (pemimpin) adalah raa’in (pengurus), dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa pemimpin tidak boleh lepas tangan, apalagi dalam situasi krisis.

Islam menawarkan solusi yang jelas dan menyeluruh. Negara wajib bertindak sebagai raa’in, memastikan pemulihan infrastruktur, jalan, lahan pertanian, serta kebutuhan dasar warga secara cepat dan adil. Bantuan tidak boleh berhenti pada tahap darurat, tetapi harus berlanjut hingga rakyat benar-benar pulih dan mandiri kembali.

Bantuan juga harus disalurkan sesuai kebutuhan nyata warga, terutama bagi mereka yang sakit, lanjut usia, difabel, atau kehilangan mata pencaharian. Islam menekankan keadilan dalam distribusi. Allah Swt berfirman, “Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu” (QS. Al-Hasyr: 7). Ayat ini menjadi landasan bahwa pengelolaan dana negara harus berpihak pada rakyat yang membutuhkan.

Pendanaan pemulihan dalam Islam bersumber dari Baitul Mal, yang dialokasikan berdasarkan kemaslahatan umat, baik untuk pemulihan ekonomi, pendidikan, maupun layanan dasar. Dengan mekanisme ini, rakyat korban bencana tidak dibiarkan menunggu tanpa kepastian.

Setiap program pemulihan harus berjalan dengan aturan sederhana, pelayanan cepat, dan penanganan profesional. Birokrasi tidak boleh menjadi penghalang bagi rakyat yang sedang kesulitan. Sebab Islam melarang membiarkan penderitaan berlarut-larut. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak beriman seseorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan” (HR. Thabrani).

Banjir dan longsor Aceh seharusnya menjadi pengingat bahwa bencana alam tidak boleh berubah menjadi bencana kemanusiaan berkepanjangan. Selama negara belum sepenuhnya hadir sebagai raa’in, sawah yang terendam bukan hanya merusak tanaman, tetapi juga menenggelamkan harapan. Islam memberikan arah yang jelas: kepemimpinan yang amanah, kebijakan yang adil, dan perlindungan nyata bagi rakyat.
Wallahu a‘lam bish-shawab.

Continue Reading

Previous: Child Grooming Marak, Extraordinary Crime yang Mengancam Anak
Next: Game Online: Media Penghancur Pemikiran Generasi

Related Stories

Rupiah Melemah, Rakyat Kian Susah WhatsApp Image 2026-06-12 at 21.06.07

Rupiah Melemah, Rakyat Kian Susah

12/06/2026
PHK Massal: Bukti Nyata Gagalnya Kapitalisme, Islam Solusinya WhatsApp Image 2026-06-12 at 20.25.23

PHK Massal: Bukti Nyata Gagalnya Kapitalisme, Islam Solusinya

12/06/2026
Rupiah Melemah, Beban Rakyat Miskin Makin Berat WhatsApp Image 2026-06-09 at 18.55.52

Rupiah Melemah, Beban Rakyat Miskin Makin Berat

11/06/2026

Recent Posts

  • Hari Kurban: Kurban Perasaan, Apa Benar?
  • UU PPRT Sejatinya Hanya Melegalkan Eksploitasi terhadap Perempuan
  • Rupiah Melemah, Rakyat Kian Susah
  • Belajar Ketaatan dari Bunda Hajar: Menjemput Ketakwaan di Momentum Idul Adha
  • Perundungan Kian Marak, Ada Apa?

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Hari Kurban: Kurban Perasaan, Apa Benar? IMG_20260615_210443

Hari Kurban: Kurban Perasaan, Apa Benar?

15/06/2026
UU PPRT Sejatinya Hanya Melegalkan Eksploitasi terhadap Perempuan WhatsApp Image 2026-06-12 at 21.19.11

UU PPRT Sejatinya Hanya Melegalkan Eksploitasi terhadap Perempuan

12/06/2026
Rupiah Melemah, Rakyat Kian Susah WhatsApp Image 2026-06-12 at 21.06.07

Rupiah Melemah, Rakyat Kian Susah

12/06/2026
Belajar Ketaatan dari Bunda Hajar: Menjemput Ketakwaan di Momentum Idul Adha 1001876614

Belajar Ketaatan dari Bunda Hajar: Menjemput Ketakwaan di Momentum Idul Adha

12/06/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.