Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2026
  • March
  • 31
  • Makna Kemenangan Sejati

Makna Kemenangan Sejati

Editor Muslimah Times 31/03/2026
WhatsApp Image 2026-03-31 at 11.08.04
Spread the love

Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S

Muslimahtimes.com—Umat Islam baru saja merayakan hari kemenangan. Ya, IdulFitri seringkali disebut sebagai hari kemenangan. Namun, sayangnya banyak kaum musliminin yang belum sepenuhnya memahami makna kemenangan hakiki dalam Islam. Oleh karena itu, hari kemenangan tak ubahnya seremonial belaka, tanpa meninggalkan makna dalam diri seorang muslim. Untuk itulah penting bagi kita untuk memahami seperti apa hakikat kemenangan tersebut sehingga seharusnya mampu melahirkan perubahan pada diri seseorang?

Kemenangan dalam Islam (Al-Fauz) berarti seorang muslim mampu menempatkan ketaatannya kepada Allah di atas segala-galanya. Artinya, hanya Allah satu-satunya tujuan hidupnya dan hanya kepada Allah saja tempat meminta. Lebih jelasnya, Islam memaknai kemenangan sebagai berikut:

1. Ketika seorang muslim beriman kepada Allah dan beramal saleh, hal ini sebagaimana firman Allah Swt, “Barang siapa yang dijauhkan dari azab pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberinya rahmat. Dan itulah kemenangan yang nyata.” [QS. Al-An’am [6]: 16]

“Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka Tuhan mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya. Itulah kemenangan yang nyata.” (QS. Al-Jatsiyah:30)

2. Ketika umat Islam meraih kekuasaan di muka bumi, sebagaimana firman Allah Swt dalam surah An-Nur ayat 50, “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai; dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Siapa yang kufur setelah (janji) tersebut, mereka itulah orang-orang fasik.”

3. Ketika umat Islam meraih surga sebagai tempat kembali yang abadi, sebagaimana dikabarkan Allah Swt dalam Al-Quran Surat At-Taubah ayat 72:

وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

”Allah telah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.” [QS. At-Taubah [9]: 72]

Al-Buruj ayat 11, “Sungguh, orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Itulah kemenangan yang besar.”

Dalam Al-Qur’an, Allah Swt menggunakan istilah kemenangan dalam berbagai bentuk, yaitu fawzun mubin (kemenangan yang nyata), fawzun kabir (kemenangan yang besar), dan fawzun ‘azhim (kemenangan yang agung). Namun ketiganya bersumber dari satu amalan yang sama yakni penghambaan totalitas kepada Allah Swt. Karena sejatinya, manusia diciptakan oleh Allah Swt untuk beribadah kepadaNya sebagaimana difirmankan dalam surah Adz-Dzariyat ayat 56: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Adapun makna ibadah ini adalah menghamba. Artinya, manusia dan jin diciptakan Allah untuk menghamba kepadaNya. Sebagainya hakikatnya hamba, harusnya tunduk sepenuhnya kepada tuannya. Wujud penghambaan manusia kepada Allah Swt adalah dengan terikat dengan syariat Islam secara kaffah.

Sejatinya seorang muslim akan meraih kemenangan sejati ketika dia mampu menghamba sepenuhnya kepada Allah. Menjadikan seluruh aktivitasnya terikat dengan hukum-hukum syariat. Artinya, dalam berbuat ia akan menimbang dulu hukumnya berdasarkan aturan Islam. Standar perbuatannya adalah hukuk syarak, bukan kepentingan pribadinya yang sudah pasti bersumber dari hawa nafsunya.

Misalnya, di era modern saat ini, aktivitas manusia tentu saja berkembang. Namun bukan berarti Islam tidak memiliki aturan terkait hal tersebut, karena fakta kehidupan manusia hakikatnya tetap sama. Hanya saja, kemasannya berbeda, jauh lebih modern dan kekinian. Oleh karena itu, umat Islam perlu terus mengkaji Islam secara kaffah agar mengetahu hukum syarak dari segala perbuatannya. Karena berkembangnya zaman, tentu saja membutuhkan pendalaman terhadap fakta untuk kemudian nantinya kita kaitkan dengan hukum syarak yang ada.

Misalnya, di momen IdulFitri, seringkali kita menghadapi perbedaan dalam penetapan waktu jatuhnya 1 Syawal. Tentu saja ini membutuhkan pendalaman terhadap dalil, karena bagaimana mungkin umat Islam akan meraih kemenangan jika faktanya kita masih terpecah-belah?

Padahal dalam penentuan awal dan akhir Ramadan, dalilnya sudah jelas, “Apabila kamu melihat hilal (Ramadhan) maka puasalah, dan apabila kamu melihat hilal (Syawwal) maka berbukalah, tetapi jika awan menutup kalian, maka berpuasalah tiga puluh hari” (HR. Muslim)

Rasulullah ﷺ bersabda, “Satu bulan itu ada dua puluh sembilan hari, maka janganlah berpuasa hingga kalian melihat hilal dan jangan berbuka hingga kalian melihat hilal. Jika hilal tertutup oleh awan dari penglihatan kalian maka genapkanlah” (HR. Muslim)

Maka jelaslah, patokannya adalah “Melihat Hilal” bukan menghitungnya. Dan melihat hilal di sini adalah hilal di mana pun terlihatnya. Artinya, wajib melihat hilal secara global, bukan lokal. Dalilnya adalah sebagaimana diriwayatkan dalam HR. Ibnu Majah, Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr bin Abu Syaibah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Husyaim] dari [Abu Bisyr] dari [Abu Umair bin Anas bin Malik] ia berkata: telah menceritakan kepadaku [paman-pamanku] dari kalangan Anshar -mereka adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- mereka berkata: “Kami tidak dapat melihat hilal bulan Syawal, maka pada pagi harinya kami masih berpuasa, lalu datanglah kafilah di penghujung siang, mereka bersaksi di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa kemarin mereka melihat hilal. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan mereka berbuka, dan keluar untuk merayakan hari rayanya pada hari esok. “

Telah menceritakan kepada kami [Amru bin Abdullah Al Audi] dan [Muhammad bin Isma’il] keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu Usamah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Za`idah bin Qudamah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Simak bin Harb] dari [Ikrimah] dari [Ibnu Abbas] ia berkata: “Seorang arab badui datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Tadi malam aku melihat hilal. ” Nabi bertanya: “Apakah kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah?” ia menjawab, “Ya. ” Beliau bersabda: “Wahai Bilal, bangun dan sampaikanlah kepada orang-orang agar besok mereka berpuasa. ” Abu Ali berkata: “Seperti ini riwayat Al Walid bin Abu Tsaur dan Al Hasan bin Ali. Hammad bin Salamah juga meriwayatkan, tetapi ia tidak menyebutkan Ibnu Abbas, dan berkata: “Maka ia (Bilal) berseru, “Agar mereka bangun dan berpuasa. ” (HR.Ibnu Majah)

Sebagaimana tergambar dalam hadis-hadis tadi, kesatuan umat Islam membutuhkan adalah seorang pemimpin yang mampu mengimplementasikan hukum syarak dalam kehidupan. Artinya, pemimpin tersebut adalah pemimpin seluruh kaum muslimin secara global, yakni seorang Khalifah. Fakta hari ini, kita tidak memiliki kepemimpinan tersebut. Yang ada adalah pemimpin dalam sekat-sekat nasionalisme, sehingga umat Islam terkooptasi dalam kebijakan lokalitas yang sangat imajiner.

Jelaslah bahwa untuk mewujudkan kemenangan sejati, kita membutuhkan perubahan sistemis, dari sistem kapitalisme sekuler menuju sistem Islam yang kaffah. Tanpa sistem Islam, umat akan terus terjajah dengan ideologi sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Umat akan terus dilemahkan dengan sistem hidup yang jauh dari aturan Allah. Wallahu’alam bis shawab

Continue Reading

Previous: Kriminalitas, Dampak Nyata Normalisasi Gaul Bebas

Related Stories

Kriminalitas, Dampak Nyata Normalisasi Gaul Bebas WhatsApp Image 2026-03-11 at 11.11.17

Kriminalitas, Dampak Nyata Normalisasi Gaul Bebas

11/03/2026
Bebas Sertifikat Halal untuk Produk AS: Amankah Isi Piring dan Meja Rias Keluarga Kita? WhatsApp Image 2026-03-01 at 17.11.40

Bebas Sertifikat Halal untuk Produk AS: Amankah Isi Piring dan Meja Rias Keluarga Kita?

01/03/2026
Nikah Dini, What’s Wrong? WhatsApp Image 2026-01-16 at 21.18.37

Nikah Dini, What’s Wrong?

16/01/2026

Recent Posts

  • Kecelakaan dan Macet Saat Mudik, Mengapa Terus Berulang?
  • Lebaran: Momen Bahagia di Tengah Lilitan Utang
  • Makna Kemenangan Sejati
  • Membentuk Kepribadian Islam pada Generasi
  • Lebaran Tak Serentak: Ujian Toleransi di Atas Piring Opor

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Kecelakaan dan Macet Saat Mudik, Mengapa Terus Berulang? WhatsApp Image 2026-03-31 at 11.30.39

Kecelakaan dan Macet Saat Mudik, Mengapa Terus Berulang?

31/03/2026
Lebaran: Momen Bahagia di Tengah Lilitan Utang WhatsApp Image 2026-03-31 at 11.18.34

Lebaran: Momen Bahagia di Tengah Lilitan Utang

31/03/2026
Makna Kemenangan Sejati WhatsApp Image 2026-03-31 at 11.08.04

Makna Kemenangan Sejati

31/03/2026
Membentuk Kepribadian Islam pada Generasi WhatsApp Image 2026-03-25 at 20.29.06

Membentuk Kepribadian Islam pada Generasi

25/03/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.