Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2026
  • September
  • 18
  • Karhutla Berulang, Perempuan dan Generasi Menanggung Beban Berlapis

Karhutla Berulang, Perempuan dan Generasi Menanggung Beban Berlapis

Editor Muslimah Times 18/09/2026
WhatsApp Image 2026-09-18 at 13.21.20
Spread the love

Oleh. Mery Isneini

Muslimahtimes.com–Bencana tahunan kebakaran hutan di Kalimantan Selatan kembali terulang. Data dari Kementerian Kehutanan menunjukkan luas karhutla berfluktuasi sepanjang tahun 2015–2025, dengan lonjakan besar pada tahun-tahun tertentu.

Pada tahun 2015, luas lahan terbakar mencapai 196.516,77 hektar. Angkanya kembali naik menjadi 137.848 hektar pada tahun 2019 dan 190.394,58 hektar pada tahun 2023. Pola tersebut memperlihatkan bahwa karhutla bukan kejadian sesaat, melainkan krisis ekologis yang selalu berulang ketika musim kemarau tiba.

Kebakaran pun berlanjut kembali pada tahun 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalimantan Selatan mencatat 512 kejadian karhutla dengan luas terdampak mencapai 1.345,79 hektar sepanjang bulan Januari hingga 31 Juli 2026. Banjarbaru menjadi wilayah dengan kejadian tertinggi, yakni 162 kebakaran yang menghanguskan sekitar 392,63 hektar.

Kabut asap berakibat meningkatkan gangguan kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan mencatat 6.329 kasus infeksi saluran pernapasan akut pada rentang 19–25 Juli 2026. Jumlah tersebut meningkat sekitar 20,1 persen dibandingkan pada pekan sebelumnya.

Perempuan dan anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi dampak bencana karhutla. Paparan partikel PM2,5 serta gas beracun dapat meningkatkan gangguan kesehatan yaitu risiko gangguan pernapasan dan kesehatan reproduksi, termasuk komplikasi kehamilan, kelahiran prematur, serta gangguan tumbuh kembang janin.

Karhutla juga menambah pekerjaan domestik yang umumnya masih dibebankan kepada kaum perempuan. Pekerjaan mereka dalam membersihkan rumah dan mencuci pakaian yang terkena abu serta bau asap menjadi lebih sering. Pada saat yang sama, perempuan bertanggung jawab merawat anggota keluarga yang sedang sakit dan menjaga anak ketika kegiatan belajar terganggu akibat buruknya kualitas udara.

Beban ekonomi keluarga juga ikut bertambah karena kebutuhan membeli kebutuhan tambahan seperti masker dan obat-obatan. Jika sumber penghidupan terganggu, maka perempuan juga kerap harus mencari cara agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. Namun, suara mereka masih minim dilibatkan dalam penyusunan kebijakan mitigasi bencana karhutla.

Pemerintah daerah menyebut kemarau dan aktivitas manusia sebagai penyebab utama bencana kebakaran. Namun, Walhi Kalimantan Selatan menemukan 907 titik panas berada di wilayah konsesi pertambangan dan perkebunan sawit sepanjang 1 Mei hingga 22 Juli 2026.

Karhutla terus berulang setiap tahun akibat dari pembukaan lahan masif, sementara respons pemerintah sangat minim yaitu sebatas pemadaman di hilir tanpa mampu memberhentikan pemicu utama di hulu.

Merusak Alam Haram

Islam secara tegas mengharamkan segala bentuk tindakan yang dapat membahayakan dan merusak alam. Dalam pandangan Islam, hutan termasuk dalam kepemilikan umum (al-milkiyyah al-‘ammah) yang haram diprivatisasi oleh individu maupun swasta demi keuntungan segelintir orang. Hutan milik umat yang pengelolaan dan hasilnya harus diatur berdasarkan syariat.

Negara yang menerapkan sistem Islam kaffah (Khilafah) bertindak sebagai pelindung (junnah) dan pengurus (raa’in). Negara wajib memberikan jaminan rasa aman, kesehatan, fasilitas medis yang berkualitas secara gratis, serta pasokan air bersih yang sangat dibutuhkan bagi perempuan dan anak-anak, sehingga beban kebutuhan domestik keluarga tidak makin terhimpit saat bencana terjadi.

Dalam sistem Islam, negara berkewajiban menindak tegas dan memberikan sanksi yang berat (ta’zir) kepada para pelaku perusakan lingkungan/pembakaran hutan. Dan di saat yang sama, negara harus tegas menghentikan seluruh izin eksplorasi lahan yang merusak ekosistem demi menjamin kualitas hidup generasi mendatang. Perusakan alam yang membahayakan bagi masyarakat adalah pelanggaran yang tidak bisa ditoleriansi.

Sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan saat ini sudah jelas-jelas membawa berbagai persoalan. Para kapital dengan rakus melakukan berbagai cara untuk mendapatkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya tanpa mengindahkan halal haram. Bagi kapital, penderitaan masyarakat akibat dari bencana karhutla sudah tidak diindahkan lagi, bagi mereka yang penting bisa menanam sawit lagi untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Sudah saatnya sistem kapitalis yang rusak dan merusak ini harus dicampakkan dari negeri ini. Sudah berapa banyak kerusakan alam dan lautan yang sudah terjadi akibat dari kerakusan manusia yang bermental kapitalis yang hanya mementingkan keuntungan dan kepentingannya sendiri tanpa mengindahkan aturan dari Sang Pencipta. Semoga sistem Islam kaffah yang bisa menyelesaikan persoalan karhutla dan persoalan umat yang lainnya segera tegak agar Allah memberikan ridha kepada kita semua. Sehingga kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat bisa segera terwujud. Allahu’alambishawab.

Continue Reading

Previous: Zionis Penjarakan 370 Anak Palestina, di Mana para Penguasa Muslim?
Next: Warga Gaza Terancam Pengusiran, Kehadiran Perisai Umat Sudah Sangat Mendesak

Related Stories

Kapitalisasi Dunia Medis Berujung Petaka WhatsApp Image 2026-09-18 at 13.45.47

Kapitalisasi Dunia Medis Berujung Petaka

18/09/2026
Keracunan Massal MBG, Persoalan Sistemis Bukan Sekadar Pelanggaran SOP WhatsApp Image 2026-09-18 at 13.37.47

Keracunan Massal MBG, Persoalan Sistemis Bukan Sekadar Pelanggaran SOP

18/09/2026
Warga Gaza Terancam Pengusiran, Kehadiran Perisai Umat Sudah Sangat Mendesak WhatsApp Image 2026-09-18 at 13.29.45

Warga Gaza Terancam Pengusiran, Kehadiran Perisai Umat Sudah Sangat Mendesak

18/09/2026

Recent Posts

  • Kapitalisasi Dunia Medis Berujung Petaka
  • Keracunan Massal MBG, Persoalan Sistemis Bukan Sekadar Pelanggaran SOP
  • Warga Gaza Terancam Pengusiran, Kehadiran Perisai Umat Sudah Sangat Mendesak
  • Karhutla Berulang, Perempuan dan Generasi Menanggung Beban Berlapis
  • Zionis Penjarakan 370 Anak Palestina, di Mana para Penguasa Muslim?

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Kapitalisasi Dunia Medis Berujung Petaka WhatsApp Image 2026-09-18 at 13.45.47

Kapitalisasi Dunia Medis Berujung Petaka

18/09/2026
Keracunan Massal MBG, Persoalan Sistemis Bukan Sekadar Pelanggaran SOP WhatsApp Image 2026-09-18 at 13.37.47

Keracunan Massal MBG, Persoalan Sistemis Bukan Sekadar Pelanggaran SOP

18/09/2026
Warga Gaza Terancam Pengusiran, Kehadiran Perisai Umat Sudah Sangat Mendesak WhatsApp Image 2026-09-18 at 13.29.45

Warga Gaza Terancam Pengusiran, Kehadiran Perisai Umat Sudah Sangat Mendesak

18/09/2026
Karhutla Berulang, Perempuan dan Generasi Menanggung Beban Berlapis WhatsApp Image 2026-09-18 at 13.21.20

Karhutla Berulang, Perempuan dan Generasi Menanggung Beban Berlapis

18/09/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.