Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S
MuslimahTimes.com–Seorang siswi mengacungkan jari tengah di belakang kepala gurunya, bahkan aksi tersebut dilakukan sambil menjulurkan lidahnya sebagai simbol ejekan. Sementara di sekitarnya siswa-siswi yang lain pun turut mengacungkan jari tengahnya sambil tertawa-tawa dan merekam dengan ponselnya. Demikianlah video berdurasi 31 detik itu akhirnya viral di media sosial. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Purwanto mengungkap mereka merupakan siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Purwakarta.
Sungguh ironis! Pelajar yang seharusnya mencerminkan sosok terpelajar, baik sikap fisiknya maupun batinnya. Namun dari fakta tersebut, kita menangkap fenomena yang justru mengusik kesadaran kita bahwa dunia pendidikan hari ini sedang tidak baik-baik saja. Krisis moralitas menjadi ancaman serius bagi output dunia pendidikan hari ini.
Tak Hanya Dibina, tapi Diberi Efek Jera
Akibat perbuatan yang tidak terpuji tersebut, sekolah memberikan sanksi berupa skorsing selama 19 hari kepada 9 siswa yang terlibat aksi tidak terpuji tersebut. Namun demikian, sanksi tersebut dikritisi oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menurutnya lebih baik sanksinya berupa membersihkan halaman sekolah, menyapu dan membersihkan toilet sekolah setiap hari. (tribunnews.com/18-04-2026)
Jika kita kembalikan kepada tujuan pemberian sanksi dalam Islam, maka sanksi harus berfungsi sebagai jawabir dan jawazir, yakni penebus dosa dan pemberi efek jera. Oleh karena itu, dalam hal perilaku siswa yang tidak terpuji tersebut, harusnya pemberian sanksi merujuk pada tujuan tersebut. Bukan sekadar malihat adanya manfaat atau tidak atas pemberian sanksi tadi. Jika disarankan sanksinya berupa membersihkan halaman sekolah dan toilet, tentu saja ini kurang memberikan efek jera. Bahkan bisa jadi malah menumpulkan kepedulian anak pada sebuah nilai kebaikan. Ya, karena sejatinya membersihkan halaman sekolah, menyapu dan membersihkan toilet merupakan sebuah kebaikan. Maka, tidak layak dijadikan hukuman. Harusnya hukuman adalah sesuatu yang merenggut kenyamanan, sehingga diharapkan membuat si pelaku merenungkan kesalahan yang telah dilakukannya. Ini sanksi dengan level pelanggaran yang masih bisa ditoleransi, namun ada sanksi yang lebih tegas atas pelanggaran dengan tingkat yang lebih tinggi, yakni pelanggaran terhadap hukum syarak alias perilaku yang berupa maksiat. Inilah konsep pemberian sanksi dalam Islam.
Di sisi lain, Islam juga mengajarkan agar generasi muda dibina dengan Islam sehingga terwujud kepribadian Islam di dalam diri mereka. Adapun kepribadian Islam terbentuk dari dua unsur yakni Aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap). Kedua unsur ini terbentuk dari akidah Islam. Maka, impelementasi bagi seseorang yang memiliki kepribadian Islam adalah mereka mampu berpikir benar sesuai dengan tuntunan syariat Islam dan bersikap benar sesuai dorongan pemikiran Islam yang dimilikinya.
Krisis Moral Akibat Sistem Sekuler
Namun sayangnya sistem pendidikan hari ini tidak melandaskan pada Islam, melainkan pada asas sekularisme yakni pemisahan agama dari kehidupan (fashludien ‘anil hayyah). Sehingga Islam tidak diinternalisasikan ke dalam diri pemeluknya sebagai sebuah sistem kehidupan yang mengatur segala urusannya. Islam dikenalkan sebatas ajaran ritual semata, seperti salat, puasa, zakat dan haji. Islam dianggap tidak ada korelasinya dengan urusan kemasyarakatan apalagi bernegara. Oleh karena itu, sistem pendidikan sekuler melahirkan generasi sekuler yang minim adab.
Perilaku siswa yang mengejek gurunya bukan kali ini saja terjadi. Sudah banyak kasus serupa bahkan lebih parah dari itu. Beberapa waktu lalu bahkan ada siswa yang tega memukul gurunya karena tidak terima ditegur. Tak hanya itu, banyak siswa yang tega melaporkan gurunya ke polisi karena tidak terima dinasehati atau sedikit diberikan pukulan karena melanggar aturan sekolah. Ini sungguh memprihatinkan. Krisis moralitas di tubuh generasi hari ini adalah persoalan sistemis yang harus kita pecahkan sampai ke akarnya. Karena sejatinya generasi muda hari ini adalah harapan sebuah peradaban di masa depan.
Sistem Islam Wujudkan Peradaban Mulia
Sistem Islam ketika diterapkan dalam kehidupan tentu saja akan mewujudkan kesejahteraan dan kemuliaan bagi seluruh umat manusia. Karena hakikatnya, Islam diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad saw sebagai rahmat bagi semesta alam.
وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
Ketika sistem Islam diterapkan secara sempurna, termasuk dalam pendidikan, niscaya akan lahirlah generasi berkualitas yang memiliki ketinggian dalam ilmu dan adab. Karena sejatinya sistem Islam akan menjadikan akidah sebagai asasnya bagi kurikulumnya, sehingga output pendidikan yang akan tercetak adalah generasi yang berkepribadian Islam.
Adapun generasi yang berkepribadian Islam akan memancarkan sebagai generasi yang bertakwa alias takut kepada Allah. Ia pun akan menjaga lisan dan perbuatannya untuk tetap bersesuaian dengan syariat Islam karena hanya rida Allah yang dicari. Oleh karena itu, tentu saja krisis moralitas tidak akan pernah terjadi ketika sistem Islam tersebut benar-benar ditegakkan. Inilah yang menjadi alasan betapa urgennya kita menegakkan kembali kehidupan Islam sebagaimana yang pernah dipraktikkan di masa Rasulullah saw dan para sahabat. Mereka benar-benar menjadi manusia yang mulia dan beradab dipayungi oleh sistem Islam yang membawa kedamaian dan rahmat.
Guru dalam Islam sangat dimuliakan kedudukannya. Betapa banyak kisah-kisah para ulama terdahulu yang begitu menghormati gurunya. Misalnya saja Imam Syafi’I seorang ulama mazhab yang sangat dikenal di tengah masyarakat, beliau begitu menghormati gurunya. Suatu ketika beliau bertemu gurunya yang sudah sangat tua di pasar. Imam Syafi’I pun segera mencium tangan gurunya dan memeluknya sebagai tanda penghormatan. Begitu pula murid imam Syafi’I yang bernama Ar-Rabi’ bin Sulaiman yang begitu menghormati gurunya. Dikisahkan beliau tidak berani minum air saat Imam Syafi’I sedang melihat kepadanya.
Demikianlah akhlak orang-orang saleh di masa Islam, mereka begitu memuliakan orang yang telah mengajarkan ilmu dan tidak memandang berdasarkan status sosialnya. Ini sungguh sangat berbeda dengan akhlak generasi hari ini, yang seringkali meremehkan guru bahkan menghinanya. Wajar sebab sistem hari ini adalah sistem sekuler liberal yang telah gagal mewujudkan generasi mulia berkepribadian Islam.
