Oleh. Rahma Al-Tafunnisa
Musliamhtimes.com–Berbagai kecaman pada Zionis Israel atas agresi dan genosida yang dilakukan terhadap Palestina silih berganti disampaikan, dari mulai ulama, masyarakat sipil bahkan pemerintah sendiri. Namun, sampai hari ini kecaman tersebut tidak membuahkan hasil. Genosida masih terjadi dan menewaskan banyak korban, termasuk di dalamnya perempuan dan anak-anak.
Jika kita melihat di dalam Islam kehilangan satu nyawa manusia diibaratkan membunuh seluruh manusia yang ada di bumi ini. Di dalam Al-Qur’an di jelaskan bahwa “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya” (QS. Al-Maidah: 32)
Kita melihat kondisi Gaza per Mei 2026 masih dalam krisis parah, baik dalam hal kesehatan, makanan, pendidikan, dll. begitu juga dengan wilayahnya, sudah 63% wilayah dikuasai oleh penjajah, serangan udara berlanjut, dan kelaparan ekstrem. Fasilitas medis hampir lumpuh total, 86% lahan pertanian rusak, dan warga bertahan di tenda darurat. Begitu juga dengan bantuan yang masuk sangat terbatas akibat blokade dan perebutan, hal ini menyebabkan malnutrisi akut di Gaza.
Disaat anak-anak di belahan dunia lain sedang menikmati hidangan makanan yang enak dan mahal. Disaat itu pula anak-anak Gaza justru mengalami malnutrisi karena kurangnya asupan makanan. Inilah gambaran ketidakadilan dunia terhadap mereka. Padahal penjajahan ini sudah puluhan tahun terjadi, dari tahun 1948 hingga kini. Maka seharusnya sudah bisa dihentikan dan diusir dari tanah Palestina.
Waktu terus berjalan seolah penderitaan ini tidak bisa dihentikan bahkan semakin melaju kencang. Mereka tak hanya kehilangan masa depan dan munculnya trauma, tapi mereka juga kehilangan keluarga tercinta seperti orang tua dan saudara mererka. Dan puncaknya mereka sendirilah yang kehilangan nyawa mereka. Tentu tidak ada harapan di depan mata mereka setelah melihat begitu sadis keluarga mereka dibunuh layaknya hewan, habkan lebih sadis lagi dari itu.
Global Sumud Flotilla (2026) Armada yang terdiri dari puluhan kapal termasuk 3 kapal dari Indonesia bertolak ke Eropa (Barcelona) menuju Gaza untuk menembus blockade Israel. Ini adalah inisiatif dari para aktivis kemanusiaan di seluruh dunia termasuk Indonesia. Ada artis papan atas dan dokter yang ikut berpartisipasi dalam aksi tersebut. Lantas pertanyaannya bagaimana dengan penguasa saat ini yang lebih punya peran untuk membantu kebebasan Palestina? Peran penguasa lebih kuat dalam hal ini, tidak seperti masyarakat biasa yang tidak punya power.
Jika tujuannya adalah membebaskan Gaza, maka tentu mereka akan berusaha bagaimana caranya agar penjajah bisa dipaksa keluar dari tanah Palestina, tidak hanya melalui jalur perundingan atau meja hijau. Namun aksi nyata dengan mengirimkan tentara kaum muslimin untuk berjuang disana.
Tapi apalah daya dengan melihat faktanya bahwa umat muslim saat ini sangat lemah, mereka justru menjadi santapan enak bagi para kafir penjajah untuk memuluskan rencana mereka. salah satunya dengan menjalin hubungan diplomatik dengan mereka bahkan antara kedua belah pihak menyetujui perjanjian dagang pada Februari lalu, dimana Amrika memberikan tarif 0% untuk 1.819 produk Indonesia. Kesepakatan ini mencakup produk sawit, kopi, komponen elektronik, tekstil, dan pesawat. Serta bertujuan meningkat ekspor RI dan memperkuat rantai pasok kedua negara.
Hal ini menunjukan ketidakseriusan penguasa dalam membantu Gaza. Hal ini justru melanggengkan penjajahan tersebut. Aneh bukan? Tapi inilah hasil yang dilahirkan oleh sistem kapitalis, asas manfaat adalah tujuan mereka, bukan yang lain.
Rasulullah saw bersabda, “Hampir-hampir bangsa-bangsa (kafir) saling mengajak untuk memerangi kalian, sebagaimana orang-orang yang akan makan saling mengajak menuju paling besar mereka”. Seorang sahabat bertanya: “Apakah disebabkan dari sedikitnya kita pada hari itu?” Beliau menjawab : “Tidak bahkan pada hari itu kalian bayak, tetapi kalian buih, seperti buih di lautan. Dan Allah akan menghilangkan rasa gentar dari dada musuh terhadap kalian. Dan Allah akan menimpakan wahn (kelemahan) di dalam hati kalian.” Seoarang sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau Saw menjawab: ‘Cinta dunia dan takut menghadapi kematian.”
Saat ini diperkirakan ada sekitar dua miliar umat muslim di dunia, yang merupakan salah satu agama terbesar di dunia. Tapi ternyata tidak mampu untuk bersatu melawan dan mengusir penjajah Israel laknatullah dari tanah Palestina. Tanah tersebut adalah tanah mereka, tanah kaum muslimin, bukan tanah para penjajah. Sampai kapan mereka harus terus dijajah dan semakin banyak yang terbunuh? Atau kita akan menunggu sampai muslim Palestina benar-benar habis sehingga tanah tersebut menjadi milik Israel dan penyokongnya?
Tetapi kondisi umat Islam sangat lemah, setidaknyaada tiga kelemahan yaitu; pertama, konflik internal dan krisis kepemimpinan. Terdapat perpecahan internal dikalangan umat muslim sendiri, kurangnya kemauan politik yang kuat dikalangan dunia Islam untuk benar-benar melawan penjajah secara total. Kedua, ketergantungan politik dam ekonomi pada kekuatan Barat. Banyak negara muslim yang memiliki hubungan atau ketergantungan pada AS dan sekutunya, yang mana merupakan sekutu utama Israel. Ketergantungan ini yang membuat pemimpin negara tersebut enggan mengambil tindakan drastis atau militer yang beresiko mengganggu posisi ekonomi dan politik mereka sendiri. Ketiga, perpecahan dan ketiadaan persatuan dunia Islam. Umat Islam saat ini terpecah belah, terutama di tingkat negara-negara Arab yang tidak memiliki kesepakatan solid untuk bertindak tegas membantu Palestina. Kepentingan politik ekonomi dan nasionalisme masing-masing negara sering kali lebih didahulukan daripada solidaritas dan keselamatan kaum muslim. Hal ini mengakibatkan kurangnya kekuatan kolektif yang nyata di antara mereka.
Kita harus ingat juga bahwa akar dari masalah Palestina adalah pendudukan, tidak ada solusi lain selain pengusiran. Dengan apa mengusir mereka? Tentu dengan mengirim tetara-tentara muslim. Merekalah yang akan melakukan jihad fi sabilillah. Namun, jihad akan efektif jika dikomando oleh seorang pemimpin, seorang khalifah dalam sistem khilafah. Karena solusi tuntas pendudukan Palesina hanya akan tuntas dengan keberadaan khilafah. Khilafah akan membebaskan Palestina dengan segenap kemampuan karena menjadi kewajibannya sebagai pelindung kaum muslim. Kaum muslimin harus menutut tegaknya Khilafah dan mengangkat seorang khalifah untuk memimpin kaum muslimin.
Khilafah akan menghentikan kolonialisasi, dominasi dan hegemoni Barat dengan tata dunia saat ini. Khilafah akan menghancurkan sistem sekuler-kapitalistik-demokrasi yang mengisap kekayaan dan keamanan negeri-negeri muslim. Khilafah akan memberikan kebaikan untuk semesta. Muslim dan orang kafir. Termasuk keadilan dan keselamatan untun anak-anak Palestina.
Wallahu a’lam bi ash-shawaab
