Oleh. Emil Apriani
Muslimahtimes.com–Anjloknya nilai Test Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA, menimbulkan keresahan di kalangan pakar pendidikan khususnya para guru. Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menyarankan agar pemerintah melakukan pembenahan di jenjang pendidikan dasar. Menurut kepala bidang advokasi guru P2G, Iman Zanatul Haeri, hal ini diperlukan karena nilai test kemampuan akademik TKA jenjang SMA yang jeblok menandakan kemampuan siswa saat ini masih berada pada level dasar (kompas.com, 20/12/2025).
Para guru sebenarnya menyadari bahwa kualitas pendidikan yang rendah ini akibat kerusakan struktural pendidikan, namun masih terbatas pada masalah teknis dan administratif. Seperti kurikulum yang berganti-ganti, sehingga belum sepenuhnya dipahami oleh guru maupun siswa, serta kurangnya fasilitas sarana dan pra sarana belajar. Faktor-faktor ini dipandang sebagai akar persoalan utama, yang menyebabkan merosotnya capaian akademik peserta didik. Padahal akar masalah sesungguhnya bersifat sistemik, di mana pendidikan kita hari ini telah disetir oleh kapitalisme yang bersifat materialistik.
Dalam sistem ini, sekolah bukan lagi tempat menyemai ilmu, melainkan dipaksa memenuhi pesanan pasar kerja dan kebutuhan industri. Akhirnya, pendidikan tidak lagi diarahkan untuk membentuk manusia berilmu yang memiliki kedalaman berpikir dan kepribadian yang utuh. Sebaliknya, siswa hanya dilatih terampil secara teknis demi efisiensi ekonomi. Inilah yang menyebabkan kemampuan akademik siswa jeblok pada level dasar, karena mereka kehilangan ruh keilmuan dan kemampuan berpikir kritis.
Secara fakta, pendidikan memang sektor yang sangat efektif untuk membentuk pemikiran generasi secara luas. Pendidikan pun, menjadi pintu bagi manusia agar terhindar dari kebodohan dan kekufuran. Karena itu, Islam sangat memperhatikan pendidikan bagi generasi. Islam memandang pendidikan bukan sebagai komoditas, melainkan kewajiban negara yang harus dijamin aksesnya sebagai kebutuhan dasar publik yang tidak dikomersilkan. Pondasinya bukan kepentingan industri, melainkan akidah Islam.
Kurikulum pendidikan Islam mencakup mata pelajaran dan metode pengajaran. Mata pelajaran akan dibedakan menjadi tsaqofah (pengetahuan yang membentuk cara pandang tertentu), dan ilmu pengetahuan terapan (sains dan teknologi). Tsaqofah meliputi aturan, hadis, bahasa Arab, dan sejenisnya, yang wajib dibangun dari akidah Islam. Sementara ilmu pengetahuan dan terapan meliputi sains, teknologi, teknik, dan sejenisnya. Ilmu ini bersifat bebas nilai, artinya memang tidak terpancar dari akidah islam, namun ketika mengambilnya wajib menjadikan akidah Islam sebagai standar.
Adapun metode pengajaran pendidikan Islam dilakukan dengan ‘talqiyan fikriyan’. Metode ini mengharuskan penyampaian pemikiran dari pengajar kepada pelajar, dengan memberikan pemahaman melalui aktivitas berpikir. Sehingga memahami realitas sesuatu, dan dalil-dalil terkait serta penerapannya. Dengan metode ini, siswa tidak sekadar menghafal rumus atau teori, tetapi diajak mengaitkan fakta dengan pemikiran yang benar. Walhasil, pendidikan Islam tidak hanya mencetak individu yang ahli di bidang sains, tetapi juga sosok berkepribadian mulia yang menggunakan ilmunya untuk kemaslahatan umat, bukan sekadar mengejar materi.
Seperti inilah sistem penidikan Islam yang diterapkan oleh Daulah Islam. Kurikulum pendidikan dan metode pengajarannya dibangun dari akidah Islam, yang memuliakan ilmu di atas materi. Sehingga dapat mencetak generasi yang tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berpikir kritis, dan peka dengan kondisi umat. Tak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh dalam kepribadian.
Wallahua’lam bishshowwab.
