Oleh. Deni Rahma
Muslimahtimes.com–Umat Islam di Palestina masih terus berjuang menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan dunia terhadap kehidupan mereka. Padahal, umat Islam sejatinya diibaratkan sebagai satu tubuh. Namun kenyataannya, hal itu belum mampu menyadarkan para pemimpin muslim akan pentingnya persatuan dan kepedulian terhadap saudara seiman. Mereka terlena oleh kekuasaan hingga lalai terhadap sabda Rasulullah tersebut.
Jika dilihat secara nyata, perjuangan rakyat Palestina memang belum membuahkan hasil sepenuhnya. Mereka masih belum merdeka dan terusir dari tanah kelahirannya sendiri. Namun di sisi lain, perjuangan tersebut telah membuka mata dunia terhadap berbagai bentuk ketidakadilan global yang selama ini terjadi. Bahkan, kondisi ini mampu menggugah banyak manusia untuk bangkit dan bergerak melawan kezaliman.
Kepedulian tersebut ditunjukkan oleh masyarakat dunia dengan turun ke jalan untuk menyuarakan kebenaran serta mengecam tindakan zalim para penguasa kafir, terutama Amerika dan Israel yang berupaya memusnahkan rakyat Palestina secara brutal. Muncul berbagai gerakan yang turut membangkitkan kesadaran umat untuk peduli terhadap perjuangan rakyat Palestina serta menentang segala bentuk penjajahan dan ketidakadilan. Salah satunya adalah Gerakan global Sumud Flotilla.
Gerakan ini terbentuk dari aksi solidaritas masyarakat dunia yang berupaya memberikan bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina, khususnya di Gaza, sekaligus menjadi bentuk perlawanan terhadap blokade dan penindasan yang terus dilakukan oleh Israel.
Global Sumud Flotilla mulai menjalankan aksi utamanya pada 31 Agustus 2025. Ketika itu puluhan kapal kemanusiaan bergerak dan berlayar menuju Palestina terutama Gaza dengan membawa berbagai macam bantuan. Namun aksi itu mengalami kendala karena serangan dari pihak Israel yang juga membabi buta.
Masyarakat dunia yang tak gentar akan rintangan dan ingin menunjukkan solidaritas nyata bagi rakyat Palestina, terus bergerak memberikan dukungan serta bantuan kemanusiaan. Hingga akhirnya, aksi Global Sumud Flotilla 2.0 kembali dilaksanakan pada awal tahun 2026 dan resmi berangkat pada 12 April 2026 dari Barcelona, Spanyol. Tak kalah solid, misi ini juga melibatkan puluhan kapal dari berbagai dunia untuk kembali menembus blokade Gaza yang tak gampang.
Penyelenggara Global Sumud Flotilla 2.0 merilis pernyataan mengenai perlakuan militer Israel terhadap para relawan. Setidaknya ada 15 kasus kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan. Ada yang ditembak dengan peluru karet dari jarak dekat. Puluhan orang mengalami patah tulang. Warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi peserta misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) juga mengungkap perlakuan kasar yang mereka alami selama ditahan militer Israel.
Usai dibebaskan, para relawan mengaku dipukuli, disetrum hingga diteriaki sebagai teroris. Di sisi lain Pemerintah Kanada mengatakan telah menerima informasi yang merinci “perlakuan mengerikan” terhadap warganya. Adapun pemerintah Jerman dan Spanyol mengonfirmasi bahwa sejumlah warga mereka mengalami cedera, (bbcnews, 23/5/2026).
Apa yang dilakukan oleh Zionis Israel ini jelas merupakan kejahatan. Perbuatan mereka adalah bagian dari dominasi kolonialisme yang didukung Barat. Dominasi ini memunculkan arogansi untuk melakukan kejahatan pada aktivis kemanusiaan. Karena impunitas yang dimiliki Israel melahirkan kecenderungan bertindak represif.
Tak heran jika hal tersebut terjadi, karena sistem internasional ataupun hukum internasional saat ini tidak netral, tetapi dipengaruhi kepentingan negara besar. Sehingga lahirlah ketimpangan kekuatan, lemahnya akuntabilitas internasional, dan perlindungan politik global terhadap Israel. Mereka menganggap selama ada perlindungan geopolitik, pelanggaran aturan perang akan terulang.
Hukum Internasional yang ada saat ini memang lahir untuk mengokohkan penjajahan Barat juga menjadi sekutu Israel dalam melawan kaum muslimin. Tindakan jahat Isarel pada para aktivis membuktikan bahwa tidak diperbolehkanya pembelaan terhadap rakyat Palestina, dan agar mereka tetap dalam penjajahan Barat.
Tindakan brutal terhadap relawan kemanusiaan, termasuk terhadap 9 WNI menjadi tamparan keras bagi para penguasa muslim, terutama yang ada di sekitar Gaza Palestina karena sikap pengecut dan khianat kepada saudara seakidah mereka yakni kaum muslimin. Mereka dengan mudah membiarkan penjajahan entitas Yahudi, genosida, dan membuat kelaparan yang parah atas penduduk Gaza hingga saat ini.
Beginilah jika kaum muslimin tunduk dengan sistem yang berkuasa saat ini. Sistem kapitalisme, adalah yang mendominasi sistem negara di berbagai belahan dunia saat ini. Sistem yang memandang segala sesuatu berdasarkan kepentingan dan keuntungan, sehingga nilai-nilai kemanusiaan kerap diabaikan. Bahkan jika hal tersebut melanggar hak-hak manusia lain.
Berbeda halnya jika umat Islam di seluruh dunia menyadari kekuatan sistem Islam, yang telah terbukti berjaya selama berabad-abad dan pernah memimpin peradaban dunia dengan membawa keadilan, kemajuan ilmu pengetahuan, serta kesejahteraan bagi umat manusia. Islam juga pernah menguasai wilayah yang sangat luas hingga mencapai sepertiga dunia pada masanya.
Negara dengan sistem Islam akan menegakkan hukum perang di dunia, sehingga di saat perang, keselamatan warga sipil ataupun aktivis kemanusiaan (non kombatan) akan tetap terjaga dan terlindungi kehormatannya. Mereka para penjajah terutama entitas Yahudi (Israel) yang telah melakukan kejahatan paripurna layak untuk dihukum dengan memeranginya sekaligus memutus tangan-tangan sekutunya, serta sistem Internasional yang melindunginya.
Jihad ini dilakukan untuk mengusir penjajah dan mengembalikan semua tanah palestina yang dirampas. Sehingga yang dibutuhkan bukan hanya bantuan kemanusiaan. Melainkan persatuan umat muslim yang mampu membentuk kekuatan politik, militer, dan kepemimpinan yang kokoh.
Dengan penerapan sistem Islam, hal tersebut bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. Oleh karena itu, khilafah dipandang sebagai kebutuhan mendesak bagi dunia dan kewajiban syar’i untuk melindungi setiap jengkal tanah Palestina serta negeri-negeri Muslim lainnya, sekaligus mengakhiri berbagai kerusakan peradaban yang lahir dari sistem kapitalisme. Waallahua’lam bishowab
