Oleh. Rahma Al-Tafunnisa
Muslimahtimes.com–Dahulu, masa muda adalah sinonim dari idealisme dan harapan. Namun hari ini, wajah masa muda itu tampak kusam di balik filter kecantikan media sosial. Kita melihat sebuah generasi yang kaya akan informasi namun miskin jati diri, terjebak dalam krisis eksistensi yang mendalam. Kerusakan ini bukan lagi sekadar isu di pinggir jalan, melainkan sudah mengetuk pintu rumah kita setiap hari melalui gawai di tangan anak-anak kita.
Fenomena degradasi moral pada generasi muda saat ini bukanlah sebuah kecelakaan sejarah yang terjadi secara alami. Ini adalah buah pahit dari sistem sekuler kapitalis yang mulai abai terhadap pendidikan yang berasaskan Islam. Ketika teknologi bergerak lebih cepat daripada penanaman etika, kita tidak hanya melahirkan generasi yang pintar secara digital, tapi juga generasi yang rapuh secara mental dan kehilangan kompas moral.
Berita hari ini kembali dihiasi oleh rentetan kisah miris: tawuran antarpelajar, penyalahgunaan narkoba, hingga rusaknya mental generasi akibat gempuran algoritma di dunia maya. Kerusakan ini bukanlah sekadar kenakalan remaja biasa, melainkan alarm tanda bahaya bagi peradaban.
Padahal pemuda adalah orang yang diharapkan oleh negara untuk meneruskan perjuangan bangsa ini. Untuk menata kehidupan yang lebih baik lagi dari segala sektor, baik dalam segi ekonomi, politik yang jujur, menciptakan berbagai kreasi untuk mengembangkan teknologi industi, dan juga menjadi orang yang bisa menjadikan negara ini menjadi negara yang sehat. Berjuang tak hanya untuk kemajuan negara saja, namun juga berjuang untuk keberkahannya dan menjadi negara yang dirahmati oleh Allah.
Jika sebuah bangsa diibaratkan sebuah bangunan, maka generasi mudanya adalah fondasi utamanya. Pertanyaannya, seberapa kuat bangunan kita akan bertahan jika fondasi tersebut kini mulai retak oleh budaya instan, hilangnya rasa hormat, dan pengabaian nilai-nilai spiritual? Kerusakan generasi hari ini adalah alarm keras yang mengingatkan bahwa kita sedang menggadaikan masa depan demi kenyamanan semu saat ini.
Orientasi hidup di dunia ini hanya untuk mencari kesenangan semata, karena yang mereka lihat pun tidak jauh dari itu. Dari pendidikan orang tua mereka, tontonan di televisi dan medsos, terlebih negara tidak menekankan pendidikan yang berorientasi pada parbaikan akidah dan akhlak. Inilah wajah sekuler kapitalis yang punya tujuan mengejar materi. Sistem ini mencetak generasi yang pemalas, menginginkan segala sesuatu yang serba instan, generasi yang kriminal dan tak punya prinsip hidup. Mau jadi apa jika terus dibiarkan terus menerus seperti ini?
Umat Islam harus bersegera menyelamatkan mereka agar tidak terus menerus menjadi korban sistem kapitalisme. Aktivitas dakwah Islam harus terus digencarkan untuk mengembalikan akal dan kesadaran mereka sebagai hamba Allah.Umat Islam harus bersatu membangun visi politik bersama dengan pemuda mewujudkan generasi khayru ummah. Umat harus mampu menggambarkan bahwa Islam itu sebuah tawaran dan solusi, bukan beban. Tentu agar pemuda bisa berubah menjadi lebih baik, lebih kritis dan tidak mudah terbawa arus penjajahan ideologi kapitalisme.
Inilah kondisi dimana semakin rapuhnya mental pemuda, gempuran dari berbagai sudut terus dilakukan. Pemuda kita tidak akan bisa terselamatkan jika kita berdiam diri, mayarakat pun diam, dan negara tidak mengambil peran dalam upaya menyelamatkan mereka.
Islam memandang manusia secara utuh dan menyeluruh. Karena itu pembangunan manusia tidak hanya pada aspek fisik. Namun juga mental dan menjadikan akidah Islam sebagai asas, sehingga menghasilkan manusia yang tangguh, sabar, tidak mudah rapuh, dan beriman pada hari akhir.
Kita tengok ketika peradaban Islam merajai dunia, bahwa Islam dipakai tidak hanya dalam lingkup keluarga dan masyarakat, namun juga sampai dalam lingkup negara. Peradaban Islam yang pernah berjaya selama 13 abad lebih telah banyak mencetak pemuda-pemuda hebat yang bisa berguna untuk agama, bahkan negara. Seperti Abbas ibn Firnas (Penemu pesawat terbang yang dihormati dengan didirikannya Bandara Ibn Firnas), Al-Khawarizmi (Pencipta sistem penomoran yang masih digunakan hingga sekarang dan dikenal sebagai Bapak Aljabar Dunia), Al-Biruni (Ahli matematika asal Turkmenistan yang menulis lebih dari 120 buku tentang ilmu matematika, geometri, dan teorema Archimedes), Muhammad Al Fatih (Penakluk Konstantinopel) sekarang disebut Istanbul Turki, dan masih banyak lagi.
Di usia mereka yang masih tergolong sangat muda sudah menghasilkan karya dan pencapaian yang sangat besar. Sampai-sampai mata dunia terbelalak dengan prestasi mereka, apalagi di masa itu teknologi belum secanggih sekarang ini. Namun mereka mampu bergerak dan berkembang menciptakan karya fenomenal. Layaknya Muhammad Al Fatih diusia 21 tahun sudah berhasil menaklukkan kota Konstantinopel yang sekaligus mengakhiri riwayat Kekaisaran Romawi Timur. Konstantinopel yang ditaklukkan oleh Sultan Muhammad Al Fatih pada tahun 1453 memiliki beberapa karakteristik, di antaranya: Kota yang dibangun oleh Kaisar Romawi Timur, Constantine I, pada tahun 330, ibu kota Bizantium dan pusat agama Kristen, Kota yang sangat strategis, terletak di antara batas Eropa dan Asia, kota yang dikelilingi oleh Teluk Bosporus, Laut Marmara, dan Teluk Emas, kota yang memiliki pertahanan yang sangat kuat, seperti dinding kecil yang didirikan oleh Konstantinus I dan Tembok Theodosian, dan kota yang dijaga oleh rangkaian rantai besi sehingga armada kapal laut yang hendak masuk selalu tertahan.
Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel dengan strategi yang terencana dengan matang. Beberapa strategi yang digunakannya, di antaranya: Memperkuat angkatan perangnya menjadi 250.000 pasukan dan 400 kapal laut, membuat benteng Anaduli Hisar dan Rumilia Hisar, mengadakan perjanjian dengan beberapa musuhnya, dan mengumpulkan informasi, mengintai, dan mengawasi Konstantinopel. Penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Al Fatih menandai berakhirnya abad pertengahan.
Banyak hal yang perlu kita contoh dari peradaban Islam, salah satunya melahirkan generasi emas peradaban. Oleh karena itu, menginginkan kembali suasana dan kehidupan Islam tidak diraih dengan usaha yang mudah, perlu perjuangan dan niat yang kokoh. Serta individu, masyarakat dan negara harus bersinergi untuk menciptakan kehidupan tersebut. Agar bangsa dan dunia yang kita cintai ini bisa berjaya dan diberkahi oleh Allah.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 41 bahwa kerusakan di darat dan di laut telah nampak akibat perbuatan tangan manusia. Realitas ini sangat lekat dengan potret pemuda hari ini yang kian jauh dari tuntunan agama. Krisis identitas, hilangnya rasa malu, dan budaya hedonisme telah menjadi ancaman nyata yang merusak masa depan mereka. Sudah saatnya kita menyadari bahwa sistem sekuler telah gagal membina moral. Tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa, selain membentengi mereka dengan akidah dan syariat Islam.
Wallahua’lam bi ash-shawab
