Oleh. Deny Rahma
Muslimahtimes.com–Generasi Z merupakan kelompok masyarakat yang kini mulai mendominasi berbagai aspek kehidupan. Mereka tumbuh seiring pesatnya perkembangan teknologi digital sehingga memiliki kedekatan yang tinggi dengan berbagai perangkat dan platform digital sejak usia dini. Tidak heran jika Gen Z dikenal lebih melek teknologi, adaptif, serta kreatif dalam memanfaatkan berbagai inovasi yang terus berkembang.
Namun, di balik berbagai keunggulan tersebut, Gen Z juga lebih rentan mengalami kecemasan, tekanan psikologis, hingga kehilangan arah hidup. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya kemudahan akses informasi, tekanan sosial, serta besarnya dorongan untuk meraih pengakuan dan popularitas melalui media sosial. Apalagi, hingga kini belum ada filter yang benar-benar mampu membatasi akses terhadap berbagai konten di internet. Akibatnya, siapa pun dapat berselancar dengan bebas di dunia maya dan mengonsumsi beragam informasi tanpa penyaringan yang memadai.
Media sosial juga kerap menghadirkan budaya saling membandingkan diri. Fenomena flexing atau pamer gaya hidup, kekayaan, prestasi, hingga kehidupan pribadi dengan mudah ditemui. Tanpa disadari, kondisi ini dapat memicu tekanan mental, menumbuhkan rasa tidak percaya diri, serta memperburuk kecemasan yang dialami banyak anak muda.
Dikutip dari Kompas (18/06/2026), secara global Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi satu dari tujuh anak berusia 10–19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental. Kondisi ini menyumbang sekitar 15 persen dari beban penyakit global pada kelompok usia tersebut. Ironisnya, sebagian besar kasus gangguan kesehatan mental pada remaja tidak terdeteksi maupun tidak mendapatkan penanganan yang memadai.
Kondisi serupa juga terjadi di Indonesia. Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 mencatat bahwa 34,8 persen atau sekitar 15,5 juta remaja di Tanah Air mengalami masalah kesehatan mental. Sementara itu, 5,5 persen di antaranya memenuhi kriteria sebagai penyandang gangguan mental. Berbagai faktor menjadi pemicunya, mulai dari perubahan fisik dan emosional pada masa pubertas, tekanan sosial, hingga berbagai tantangan yang dihadapi remaja dalam kehidupan sehari-hari.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menggejala di berbagai belahan dunia. Ketidakpastian karier dan masa depan membuat banyak Gen Z bersikap lebih skeptis terhadap prospek kehidupan yang akan mereka hadapi.
Di sisi lain, Generasi Z dikenal sebagai generasi yang kritis karena tumbuh di era digital dengan akses informasi yang sangat luas. Mereka terbiasa membandingkan berbagai sudut pandang sehingga tidak mudah menerima suatu aturan atau kebijakan tanpa mempertanyakan alasan dan dampaknya. Selain itu, mereka lebih terbuka dalam menyampaikan kritik serta memiliki kepedulian yang tinggi terhadap berbagai isu sosial. Karakteristik tersebut menjadikan mereka lebih berani menyuarakan kritik dan melakukan resistensi terhadap sistem atau kebijakan yang dianggap tidak adil maupun tidak lagi relevan dengan tantangan zaman. Gelombang ini dapat menjadi titik balik bagi Generasi Z untuk mendorong perubahan ke arah yang lebih baik.
Jika ditelaah lebih dalam, berbagai persoalan tersebut tidak muncul begitu saja. Krisis multidimensi yang melanda dunia saat ini turut menjadi pemicu kecemasan di kalangan Generasi Z. Ketidakstabilan ekonomi, perubahan sosial yang begitu cepat, dan ketidakpastian masa depan membuat arah kehidupan terasa semakin tidak menentu. Di tengah kondisi tersebut, mereka juga dihadapkan pada berbagai pengaruh yang lahir dari peradaban sekuler-kapitalistik yang dinilai mengikis jati diri serta nilai-nilai moral.
Di sisi lain, lemahnya perhatian (riayah) negara terhadap pembinaan generasi muda semakin memperparah keadaan. Alih-alih memperoleh pembinaan, perlindungan, dan dukungan yang memadai, mereka justru kerap menerima stigma negatif dari generasi sebelumnya. Berbagai upaya yang dilakukan selama ini, seperti edukasi kesehatan mental maupun literasi digital, memang penting, tetapi belum menyentuh akar persoalan. Selama sistem yang melahirkan berbagai krisis tersebut tetap dipertahankan, persoalan yang sama akan terus berulang.
Oleh karena itu, diperlukan solusi yang mampu menyelesaikan persoalan hingga ke akarnya. Solusi tersebut tidak lain adalah Islam, yang menawarkan penyelesaian menyeluruh atas berbagai krisis kehidupan. Penerapan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan akan menghadirkan rahmatan lil ‘alamin, yakni membawa ketenangan, keadilan, dan keselamatan bagi seluruh umat manusia. Islam tidak hanya memberikan pedoman akidah yang menenteramkan jiwa, tetapi juga mengatur kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, hingga peran negara dalam melindungi dan membina masyarakat.
Sejarah pun membuktikan bahwa Islam mampu melahirkan peradaban yang gemilang. Generasi yang tumbuh di bawah naungan sistem Islam dikenal sebagai generasi yang cerdas, berkepribadian Islam, serta unggul dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Hal tersebut tidak terlepas dari peran negara yang memberikan perlindungan, pelayanan, dan pembinaan secara adil kepada seluruh rakyat.
Karena itu, sudah saatnya generasi muda disadarkan akan pentingnya mengemban mabda Islam serta memiliki kepedulian terhadap persoalan umat. Gen Z bukanlah generasi yang lemah, melainkan generasi yang memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan. Dengan arah perjuangan yang benar dan sistem yang sesuai dengan tuntunan Islam, cita-cita mewujudkan masa depan yang gemilang bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan dapat menjadi kenyataan.
