Oleh. Widi Yanti, S.Pd
Muslimahtimes.com–Saat ini kita hidup dalam situasi ekonomi yang tidak mudah. Para ibu sebagai manager rumah tangga harus berpikir ulang untuk menata pengeluaran seiring bergantinya harga barang dan jasa. Demikian juga bagi Gen Z baik sebagai ibu muda maupun yang masih single. Mereka dituntut untuk mandiri, produktif dan mampu membangun masa depan cerah. Namun biaya hidup semakin meningkat, sementara dunia kerja mengalami persaingan ketat. Banyak pekerjaan yang mulai tergantikan dengan teknologi otomatisasi semacam AI. Sehingga butuh adaptasi yang tinggi agar relevan di dunia kerja.
Dunia kerja saat ini menjadi lebih menantang dengan munculnya sistem kerja fleksibel seperti gig economy. Dimana orang bekerja secara bebas dan fleksibel menurut kontrak, pekerjaan lepas (freelance) atau proyek per tugas, bukan sebagai karyawan tetap dengan gaji bulanan. Stabilitas kerja menjadi lebih sulit dicapai dibanding pekerjaan konvensional. Kondisi ini mengakibatkan kecemasan finansial bagi Gen Z.
Namun di tengah tekanan ekonomi ini, keinginan untuk gaya hidup semakin meningkat. Mereka menganggap ini adalah bagian dari kebutuhan hidupnya. Setelah bekerja keras butuh sesuatu sebagai self reward dan healing. Dengan cara belanja, membeli makanan mahal, traveling, menikmati hiburan sebagai bentuk penghargaan untuk dirinya sendiri. Sistem saat ini mendukung untuk mempermudah tercapainya keinginan mereka. Berbagai penawaran menarik barbau bisnis dalam balutan sosial media sangat akrab dalam lingkungan mereka.
Kemudahan akses terhadap layanan keuangan digital menjadi pedang bermata dua yang perlu diperhatikan dalam kehidupan modern. Berbagai metode pembayaran seperti pay later atau kredit instan membuat transaksi menjadi lebih praktis dan cepat. Namun, kemudahan ini juga berpotensi mendorong perilaku konsumtif karena proses pembayaran terasa lebih ringan dan mudah. Sekilas, fenomena ini tampak sebagai persoalan kebiasaan konsumsi. Namun jika di cermati ada persoalan mendasar yaitu krisis pemaknaan hidup.
Di dalam tata kehidupan kapitalis saat ini, pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat diserahkan sepenuhnya pada mekanisme ekonomi yang berorientasi pada keuntungan. Artinya setiap individu harus mempunyai daya beli yang cukup, jika tidak dia akan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya. Untuk itu dituntut untuk meningkatkan skill, membangun personal branding, bahkan membuat sumber pendapatan lain. Sungguh berat tanggungjwabnya sebagai pribadi, karena faktanya pemerintah hanya sebagai regulator saja. Padahal, kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, kesehatan, keamanan, dan tempat tinggal merupakan persoalan yang berkaitan dengan tanggung jawab negara. Ketika negara tidak mampu memberikan jaminan yang memadai, tekanan hidup akan semakin besar dan generasi muda menjadi kelompok yang harus berjuang sendiri menghadapi kerasnya kehidupan.
Dengan pemahaman sekuler-liberal yang telah merasuki kaum Gen Z, mereka menjadikan kesenangan terhadap materi adalah sumber kebahagiaan. Belanja dan perilaku konsumtif merupakan pelarian jika didera masalah. Sosial media menjadi acuan mereka dalam bertindak. Budaya FOMO (Fear of Missing Out) muncul, yaitu rasa takut tertinggal dari satu tren atau pengalaman yang sedang dinikmati orang lain. Akhirnya mereka akan memaksakan diri ikut tren meski secara finansial tidak memadai. Tidak sedikit dari mereka harus dengan meminjam uang, dan terjerat pinjol.
Apakah ini hanya menyangkut persoalan ekonomi dan gaya hidup? Tentu tidak. Makna kebahagiaan ini sebenarnya menyangkut tujuan hidup. Ketika kehidupan dipandang hanya sebagai rangkaian aktivitas untuk mendapatkan kenyamanan dan kesenangan, maka kebahagiaan akan mudah diukur berdasarkan kepemilikan materi. Semakin banyak yang dimiliki, semakin bahagia. Semakin sering bepergian, semakin healing. Semakin mahal barang yang dibeli, semakin tinggi pula rasa penghargaan terhadap diri. Padahal manusia tidak diciptakan hanya untuk mengejar kenikmatan dunia.
Allah SWT berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini memerintahkan manusia punya pandangan khas tentang kehidupan. Bahwa tujuan manusia hidup bukan semata-mata mengejar kebahagiaan di dunia yang fana ini, namun untuk beribadah kepada Allah. Menjalani kehidupan di dunia dalam ketaatan untuk mempersiapkan diri menuju akhirat. Karena akan ada pertanggungjawaban atas apa yang kita perbuat di dunia. Sehingga bukan bergantung pada banyak sedikitnya harta yang dipunyai, tapi rasa tenang yang didapati saat tujuan sudah pasti. Sehingga akan mampu memilah antara kebutuhan dan keinginan. Semua dilandaskan pada ketaatan kepada perintah Allah Swt
Allah Swt juga mengingatkan:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Islam tidak melarang individu menjadi kaya, namun membolehkan manusia menikmati rezeki yang halal, beristirahat, bepergian, menikmati makanan, berpakaian dengan baik, dan mendapatkan kesenangan selama tidak melanggar syariat. Semua diatur secara proporsional, karena harta merupakan sarana untuk meraih keridhaan Allah Set. Dengan demikian, ketika mendapatkan kesenangan ia bersyukur, ketika mendapatkan kesulitan ia bersabar, dan ketika menghadapi tekanan hidup ia tidak menjadikan konsumsi sebagai satu-satunya jalan untuk mendapatkan ketenangan.
Secara sistemis, Islam mengatur pemenuhan kebutuhan dasar rakyat ini sebagai tanggung jawab negara. Islam memiliki seperangkat aturan yang mengatur kehidupan manusia, termasuk ekonomi, pendidikan, sosial, dan pemerintahan. Pada saat yang sama, pendidikan Islam akan membentuk generasi yang memahami bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir. Mereka diarahkan menjadi pribadi yang produktif, bertanggung jawab, memiliki etos kerja, tetapi tetap menjadikan keridaan Allah sebagai orientasi utama.
Rasulullah saw bersabda:
الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam (pemimpin) adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Prinsip inilah yang menjadi landasan bahwa kekuasaan bukan sekadar sarana memperoleh otoritas, tetapi amanah untuk mengurusi kehidupan rakyat. Negara akan mempermudah masyarakat untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Terutama bagi laki-laki karena punya tanggung jawab untuk menafkahi dirinya dan keluarganya. Jadi Gen Z tidak harus menghadapi tekanan ekonomi sendiri, negara hadir untuk memberi solusi. Dalam hal ini hanya dalam institusi negara Islam yaitu Khilafah Islamiyah.
