Oleh . Fernanda Reisma Saputri
Muslimahtimes.com–Self reward, hidup cuma sekali tapi ekonomi pas-pasan adalah fakta yang di alami generasi zillenial atau akrab disapa dengan Gen Z ini. Dilansir dari kompas.com (12/8/26), banyak gen z yg sudah memiliki gaji sendiri selain untuk memenuhi kebutuhan hidup, gen z sering kali menghabiskan sisa gajinya untuk healing tipis-tipis ataupun self reward. Ketika dilakukan wawancara dengan Gen Z yang hidup di ibukota, mereka sepakat bahwa self reward bukanlah pemborosan melainkan cara untuk menghilangkan stress setelah lelah bekerja selama 1 bulan serta memang kondisi ekonomi ataupun gaji yang tidak lagi kompetitif.
Harga kebutuhan pokok yang selalu mengalami kenaikan dan kebutuhan primer seperti rumah sudah berubah menjadi kebutuh tersier yang sangat sulit dijangkau oleh generasi saat ini. Walaupun ditinjau dalam periode 2016 hingga 2024 harga properti cenderung stagnan secara rill, letak masalanya ada pada Housing Affordability Index yang kian memburuk; rasio harga yang rumah terhadap pendapatan tahunan telah mencapai 10 kali lipat, jauh diatas standar ideal sebesar 3 kali lipat. Fenomena inilah yang akhirnya membuat gen z menghadapi cost-living-squezee. Gaji ataupun pendapatan Gen Z saat ini tidaklah mampu lagi untuk mengikuti arus inflansi, gaya hidup dan hunian.
Rendahnya pendapatan gen z ditengah inflansi, self reward, gaya hidup yang sedikit-sedikit healing ini membuat gen z merasa bahwa tujuan hidup hanyalah sebatas itu, kesenangan dan kepuasan ketika mampu menggapai hal-hal standar sosial media. Hingga pada akhirnya, banyak gen z yang mengalami krisis tujuan hidup, bingung arah hidup akan kemana lalu bermuara pada gen z yang bingung, burnout sampai mengalami gangguan mental.
Impitan yang dialami oleh gen z saat ini terutama himpitan ekonomi bukanlah hanya masalah individu yang malas serta tak mampu berkembang. Persoalan ini lebih kompleks dari itu, masalah ini berasal dari minimnya upah yang diberikan, sedikitnya lapangan kerja, skill yang dimiliki tidak memadai, tidak adanya bimbingan dan semua akar dari masalah ini adalah sistem kapitalisme. Kapitalisme memaksa generasi hidup dan berjuang sendiri, negara benar-benar berlepas tangan dari memenuhi kebutuhan primer setiap individu rakyatnya. Ditambah lagi sulit sekali menemukan pekerjaan dengan gaji yang memang benar-benar cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tekanan ini bukan hanya dari sisi sulitnya mencari pekerjaan yang layak dan gaji yang cukup, diperparah lagi oleh tingginya gaya hidup yang sekuler-liberal sehingga menjadikan self reward, healing adalah sesuatu yang wajib dilakukan serta sebagai solusi cepat untuk melarikan diri. Sosial media pun menjadi salah satu pemicu terbesar generasi saat ini menjadi generasi yang FOMO terhadap trend serta budaya check out aja dulu menyesal kemudian membuat gen z semakin tertekan jika tidak berhasil memenuhi hal tersebut. Karena paham sekuler-liberal yang membebaskan setiap orang untuk berperilaku tanpa batasan yang jelas, inilah yang membuat generasi untuk memenuhi kesenangan dengan hal-hal yang bersifat hedon.
Masalahnya tidak hanya sampai di situ, karena di balik ini semua ada krisis yang lebih dalam dan berbahaya apa itu? Jawabannya adalah tidak memahami tujuan hidup. Gen Z saat ini dengan akidah sekuler kapitalis menganggap tujuan hidup adalah meraih kebahagiaan dengan memiliki materi sebanyak-banyaknya sehingga bisa menikmati seluruh fasilitas dengan nyaman. Tujuan hidup gen z bukanlah berdasarkan rida Allah dan kemuliaan islam.
Hal ini berbanding terbalik dengan islam yang memiliki prinsip dari Allah dan memiliki sistem yang sangat mensejahterkan rakyatnya. Pasalnya dalam sistem islam yang dijalankan oleh negara sebut saja institusi Khilafah ini memenuhi semua kebutuhan primer bukan hanya golongan tapi perindividu dijamin oleh negara. Negara memastikan sendiri pengelolaan dengan baik dan optimal seluruh kekayaan SDA bukan dikelola oleh perusahaan ataupun asing. Dengan terkelolanya SDA oleh negara membuat negara bisa dengan mudah memberikan pekerjaan kepada seluruh laki-laki dengan gaji yang layak sehingga rakyat tidak berjuang sendiri lagi. Rakyat hadir membersamai dan memfasilitasi seluruh kebutuhan hidup, dengan dikelolanya SDA sehingga rakyat bisa memiliki pekerjaan dan upah gaji yang diberikan pun akan memadai serta cukup untuk biaya hidup keluarga.
Islam pun mengatur dari sisi gaya hidup, di dalam islam tidak akan dibiarkan seseorang memiliki sifat hedonisme. Islam akan menutup seluruh pintu-pintu hedonisme, melindungi generasi dari paparan konten yang kapitalis dan liberal. Dan negara khilafah juga akan memberikan edukasi mendasar sampai akhirnya rakyat berlomba-lomba untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Selaras dengan meningkatkan ketakwaan ini sesuai dengan yang difirmankan oleh Allah dalam QS.Adz -Dzariyat ayat 56 yang artinya “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Islam juga sangatlah jelas dalam menerangkan tentang hakikat hidup manusia sesuai dengan Adz-Dzariyat ayat 56 bahwa visi ataupun tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Allah bukan hanya solat tapi keseluruhan dalam kehidupan dari invidu sampai negara. Islam akan membentuk generasi dengan akidah yang kokoh, sehingga lahirlah generasi yang bertakwa, paham tujuan hidupnya dan siap untuk membangun peradaban islam.
Wallahu A’lam Bissowab
