Oleh. Dien Kamilatunnisa
Muslimahtimes.com–Sistem hidup sekuler menempatkan pemenuhan kebutuhan pokok pada masing-masing individu. Dalam sistem ini, penguasa hadir tidak sebagai pengurus urusan umat. Akibatnya, kebutuhan hidup mendasar untuk mendapatkan sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, keamanan sangat bergantung pada kekuatan ekonomi setiap keluarga.
Hal ini menyebabkan kesenjangan yang besar dalam masyarakat. Bagi keluarga yang memiliki ekonomi kuat maka mereka akan mampu memenuhi kebutuhan pokoknya dengan standar terbaik. Sementara bagi ekonomi lemah maka mereka akan terengah-engah hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya.
Realitas ini dirasakan pula oleh berbagai kategori generasi, termasuk gen Z. Istilah Gen Z ditujukan untuk generasi yang lahir antara pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2010. Mereka dihadapkan pada berbagai dinamika dan tantangan fakta hidup seperti masalah pekerjaan, keuangan, kebutuhan pokok hidup, dan kehidupan keluarga.
Tekanan Ekonomi Bertemu dengan Media Sosial
Kondisi ini ditambah dengan tekanan dari media sosial. Patut diakui bahwa gen Z berada ditengah pesatnya kemajuan teknologi sehingga media sosial tidak terpisahkan dalam kesehariannya. Hanya saja, masifnya media sosial seringkali menyebabkan seseorang untuk menjadikan trend di medsos sebagai standar keberhasilan. Bahkan menurut survei yang dilakukan oleh McKinsey Health Institute menunjukan bahwa penyebab utama generasi Z lebih stres dibandingkan generasi lainnya adalah akibat hubungan mereka dengan media sosial.
Media sosial hakikatnya adalah madaniyah atau produk dari teknologi yang bersifat netral. Hanya saja, sistem sekuler mengakar saat ini, sehingga media sosial menjadi ajang untuk menunjukan berbagai keberhasilan dan mencari validasi. Walhasil, media sosial dipenuhi dengan berbagai pencapaian yang bersifat materialis dan juga gaya hidup hedonis.
Hal ini mendorong seseorang untuk memiliki pemikiran bahwa dirinya bisa dianggap sukses jika sudah memiliki pencapaian seperti yang dipertontonkan di media sosial. Akibatnya, timbulah tekanan untuk mengejar standar tertentu seperti harus sukses duniawi, harus punya penghasilan sekian digit, harus selalu terlihat bahagia. Padahal, konten di media sosial itu sendiri tidak sepenuhnya memberikan gambaran akurat tentang realita hidup seseorang.
Ketika kesenjangan hidup bertemu dengan godaan untuk mengikuti trend medsos maka menjadi tekanan besar bagi gen Z dalam menjalani hidup. Bayangkan saja, kerasnya hidup harus membuat mereka berhati-hati dalam mengeluarkan uangnya dan harus bekerja keras untuk menambah pemasukan. Tapi disisi lain, tayangan kemewahan di medos setiap saat bersahutan, menggoda mereka untuk merasakan pengalaman hidup mewah. Disinilah pentingnya mengetahui tujuan hidup yang sebenarnya yaitu hanya untuk meraih ridho Allah SWT.
Solusi Islam
Dalam Islam, negara hadir sebagai pengurus umat. Kebutuhan pokok masyarakat dijamin oleh negara sehingga individu tidak dianggap harus menghadapi masalah hidup sendirian. Kebutuhan mendasar seperti pangan, pendidikan, kesehatan, kemanan dianggap sebagai tanggung jawab negara dan bukanlah urusan individu.
Oleh karena itu, Gen Z tidak dianggap sebagai generasi yang harus menghadapi seluruh persoalan ekonomi sendirian. Misalnya, ketika memasuki usia kerja, mereka tetap berusaha memperoleh pekerjaan dan mengembangkan kemampuan, tetapi negara dipandang memiliki tanggung jawab menciptakan sistem ekonomi dan pelayanan publik yang mendukung mereka.
Kemudian, negara mengelola sumber daya alam yang termasuk kepemilikan umum. Hasilnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalilnya adalah Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api. (HR Abu Dawud dan Ahmad). Sumber daya alam yang termasuk kepemilikan umum ini tidak boleh dimiliki oleh individu.
Sementara itu terkait posisi media sosial, negara wajib menciptakan lingkungan media yang selaras dengan Islam sehingga generasi tidak terus menerus mengejar popularitas, dan materialis. Media digunakan untuk sarana pendidikan, mendakwahkan Islam, informasi yang bermanfaat sehingga mampu membentuk ketakwaan.
Bagaimanapun harus diakui bahwa media memiliki pengaruh untuk membentuk pola pikir. Media bisa menjadi sarana untuk membentuk cara berpikir untuk menilai kesuksesan, kebahagiaan maupun gaya hidup. Karena dalam Islam hidup bukan untuk mengejar kemewahan dan popularitas tapi untuk mencari rida Allah.
Dalam Islam, tujuan hidup adalah untuk beribadah kepada Allah. Ibadah disini tidak terbatas pada ibadah yang bersifat ritual semata tapi juga mengikatkan setiap aktivitas pada hukum syara pun dikatakan ibadah. Dengan demikian seseorang tidak menjadikan popularitas, kemewahan sebagai standar kesuksesan yang hakiki.
Wallohu’alam
