Oleh. Choirin Fitri
Muslimahtimes.com–“My body is mine” sebuah kalimat yang sering diviralkan, bahkan menjadi judul sebuah lagu keselamatan diri dan pendidikan reproduksi layak dikritisi. Mengapa? Ini karena kalimat yang berarti tubuhku milikku dalam pandangan Islam kurang tepat.
Islam memandang bahwa tubuh adalah titipan Allah. Dialah Yang Menciptakan tubuh manusia sebagai sebaik-baik makhluk, maka Dia pula yang membuat aturan untuk tubuh. Tidak boleh manusia membuat aturan untuk tubuhnya sendiri seperti yang kebanyakan terjadi hari ini.
Prinsip kalimat istirja’, innalillahi wa inna ilaihi raajiuun, sesungguhnya semua datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah, seharusnya menjadi pegangan. Sehingga, manusia sebagai abdullah, hamba Allah tidak merasa memiliki tubuhnya. Sejatinya tubuh ini hanya pinjaman ketika nafas masih berhembus. Jika nyawa tak lagi dikandung badan, tubuh ini mau tak mau harus kembali pada Pemiliknya, Allah.
Sayang seribu sayang, di alam sekularisme, pemisahan antara agama dan kehidupan prinsip “My body is mine” mendapat kedudukan tinggi. Manusia merasa enggan menggunakan aturan Allah dalam mengatur tubuhnya. Alhasil, aurat yang seharusnya ditutupi malah ditebar ke mana-mana, maksiat pun berkibar. Lebih mirisnya batasan aurat banyak yang tak paham atau enggan memahaminya.
Agar tidak terjebak pada frasa “My body is mine” karya sekularisme, ada beberapa hal yang harus kita pahami terkait pandangan Islam dalam mengatur tubuh kita, yakni:
Pertama, batasan aurat. Aurat laki-laki dan perempuan berbeda. Aurat laki-laki hanya dari pusar hingga lutut. Sedangkan, perempuan lebih dari itu, yakni seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.
Kedua, Allah memerintahkan untuk mengenakan kerudung bagi perempuan untuk menutupi aurat bagian atasnya.
Allah berfirman:
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ
“Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” (QS An-Nur:31)
Ketiga, Allah memerintahkan pada para muslimah untuk mengenakan jilbab. Jilbab sama dengan gamis bukan kerudung. Ini termaktub dalam firman Allah di surah Al-Ahzab ayat 59.
يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَاجِكَ وَبَنٰتِكَ وَنِسَاۤءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيْبِهِنَّۗ ذٰلِكَ اَدْنٰىٓ اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ٥٩
“Wahai Nabi (Muhammad), katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin supaya mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Keempat, Allah memerintahkan bagi laki-laki dan perempuan untuk menundukkan pandangannya. Cek surah An-Nur ayat 30 dan 31 terkait hal ini!
Mengapa Allah menyuruh kita menundukkan pandangan? Ini karena berawal dari pandangan yang salah timbul berbagai dosa, kemaksiatan, dan keburukan.
Lihat saja hari ini ketika pergaulan bebas efek dari liberalisasi di bidang pergaulan bagaimana pandangan mata menjadi awal dari kemaksiatan berikutnya! Awal dari zina. Awal dari perbuatan pornoaksi, pornografi, bahkan pornoliterasi. Inilah mengapa Allah sebagai Zat yang Menciptakan dan Mengatur manusia memberikan clue yang jelas agar kita tidak menebar aurat dan mengibarkan kemaksiatan.
Kelima, Allah mengharamkan pergaulan bebas. Allah berfirman dalam surah Al-Isra’ ayat 36.
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا ٣٢
“Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk.”
Aturan Allah yang demikian kompleks terkait tubuh ini tidak mungkin maksimal jika diterapkan oleh individu saja. Dikarenakan jika aturan ini diterapkan oleh individu, maka tidak akan maksimal mengingat individu hanya bisa taat sendiri, sedangkan ketika ia bergaul di ranah umum is harus melihat aurat bertebaran. Maka, masyarakat dan negara pun harus siap menerapkan aturan Allah ini.
Pertanyaannya, mau atau tidak?Jika tidak berarti ini adalah PR besar kaum muslimin untuk melakukan misi dakwah, menyeru agar masyarakat dan negara siap menerapkan aturan Allah.
Wallahua’lam.
