Oleh. Umi Zadit Zareen
Muslimahtimes.com–Bulan ini menandakan awal tahun Islam. Bulan pertama dalam Hijriah dan 1 dari 4 bulan “Haram” yang dimuliakan Allah. Setiap muslim harus merasa bahagia ketika memasuki bulan Muharam, bulan yang penuh dengan pahala. Pada 1 Muharram 17H merupakan Awal Tahun Hijriah yang ditetapkan oleh Khalifah Umar bin Khattab menetapkan tahun Hijrah Nabi ke Madinah. Karena hijrah Nabi bagian titik balik Islam dari lemah jadi negara.
Semangat bulan muharram inilah yang harus dijaga dan dikuatkan kembali dalam tubuh kaum muslimin, dengan kondisi kesulitan yang tengah dihadapi kaum muslimin mejadi pemersatu umat dan bulan Muharram kali ini menjadi muhasabah bagi umat Islam. Di bulan yang dimuliakan Allah ini, dianjurkan memperbanyak amalan saleh. Setiap perbuatan baik akan dibalas dengan pahala yang besar, sementara perbuatan dosa akan dibalas dengan dosa besar pula pada Muharam. Mereka yang beramal saleh akan menuai pahala besar sebagai kasih sayang dan kemurahan Allah kepada hamba-Nya.
Seorang muslim harus menyegerakan bertobat dan menyadari kesalahannya karena ia tidak mengetahui kapan kematian menjemputnya. Firman Allah Taala, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran: 133)
Ada hal yang juga dilakukan setiap muslim ketika menyambut tahun baru Islam. Pertama, bertafakur (berpikir). Memikirkan dan bagaimana kaum muslim terlepas dalam kesulitan yang diatur bukan dalam aturan islam yang menghasilkan kesengsaraan umat saat ini.
Lalu teringat (tadzakur) akan dosa-dosanya, hingga hatinya menyesal, dan mengingat kembali apa yang sudah diusahakan untuk kondisi yang lebih baik teruntuk agama Allah ini. Hingga lisannya pun beristigfar memohon ampunan Allah Ta’ala ketika semua belum berjalan secara optimal.
Setelahnya tidak lupa mempersiapkan untuk melakukan berbagai ketaatan sembari memohon pertolongan Allah. Tahun baru Islam adalah momentum untuk kembali berhukum pada hukum Allah Swt. dan meninggalkan hukum-hukum buatan manusia. Apalagi, saat ini kita masih berada dalam aturan sekuler kapitalistik. Dimana aturan Allah tidak berlakukan, melainkan hanya menjadi “pemanis” jika dibutuhkan.
Para pemilik kekuasaan di setiap negeri muslim tidak menjadikan Al-Qur’an dan sunah sebagai landasan dalam sistem pemerintahan, malah mengambil asas yang lahir dari pemikiran orang kafir. Seolah-olah perkara tersebut bukanlah bagian dari menyekutukan Allah Taala.
Dengan demikian, jika kita mengharapkan keberkahan menyelimuti bulan ini, satu-satunya cara ialah menjadikan Muharam momentum muhasabah dan mengembalikan kembali kehidupan Islam. Berjuang agar aturan Allah Swt. Diterapkan oleh kaum muslim, bukan hanya pada individu semata, melainkan oleh negara.
Wallahualam bissawab.
