Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2026
  • January
  • 28
  • Tekad Ibu yang Terpaksa Pret pada Waktunya

Tekad Ibu yang Terpaksa Pret pada Waktunya

Editor Muslimah Times 28/01/2026
WhatsApp Image 2026-01-28 at 20.41.04
Spread the love

Oleh. Kholda Najiyah

Muslimahtimes.com–Belakangan ini viral ungkapan: “semua akan pret pada waktunya.” Istilah gaul yang merujuk pada sesuatu yang awalnya tampak begitu ideal, ujung-ujungnya terbongkar juga bahwa realita sebenarnya tidak seindah itu. Misal, tampak sepasang suami istri yang mesra di ruang publik, ternyata ujungnya bercerai juga. Atau selebgram yang postingan hidupnya begitu indah, ternyata di dunia nyata menjadi korban KDRT pasangannya.

Nah, dalam konteks menjadi ibu rumah tangga, banyak yang ingin menerapkan konsep ideal, namun terbentur segala keterbatasan. Sebelum menikah punya angan-angan begini dan begitu, setelah menikah ternyata kondisi berbeda 180 derajat. Sulit menerapkan teori ideal. Inilah yang memicu “pret pada waktunya”, lantaran kenyataan tak sesuai harapan. Apa saja hal-hal ideal yang sulit diterapkan ibu di masa kini?

  1. Janji Tidak Marah-marah, Nyatanya Emosi Juga

Sebelum menikah, bertekad akan menerapkan gentle parenting atau pola asuh yang lembut. Jangan lagi menerapkan parenting ala VOC, untuk memutus rantai trauma. Ingin rasanya bernada lembut, dengan intonasi datar dan tetap tenang, saat menghadapi anak tantrum. Nyatanya? Menghadapi anak dengan segala jenis emosinya, membuat ibu kehilangan kesabaran.

Sudah menahan diri, pada akhirnya pertahanan jebol juga. Terpancinglah emosi. Menyesal, minta maaf ke anak, janji tidak akan marah-marah lagi. Tapi, setiap anak melakukan hal yang tidak sesuai harapan, siklus emosi ibu pun berulang. Sungguh ujian kesabaran yang tidak ada ujungnya. Sabar, ya, Bu!

  1. Ingin Menerapkan Pola Makan Sehat, Nyatanya Junk Food Juga

Sebelum menikah, bertekad akan mengenalkan anak-anak dengan pola makan sehat. Janji memberikan asupan yang bergizi dan seimbang. Namun apa daya, ada ibu-ibu yang secara ekonomi kurang beruntung. Uang nafkah tak memadai, boro-boro bisa memberi makanan bergizi. Bisa makan saja sudah bersyukur. Yang penting anak kenyang, tanpa bisa menyajikan menu yang ideal.

Belum lagi ibu-ibu yang diuji dengan anak-anak yang picky eater alias pemilih makanan. Misal, sayur tidak doyan, ikan tidak suka. Bahkan yang masih balita, melakukan gerakan tutup mulut (GTM) alias tidak mau makan. Akhirnya, demi membujuk anak agar mau apa saja, makanan-makanan yang kurang baik pun jadi alternatif. Seperti cemilan, nugget, sosis, mi instan atau junk food lainnya. Maafkan ibu, Nak!

  1. Bertekad Tidak akan Memberi Gadget pada Anak, Nyatanya Dikasih Juga

Di era digital ini, tantangan tersulit ibu adalah berhadapan dengan rengekan anak. Ibu ingin menuntaskan amanah dengan segera. Untuk itu butuh fokus dan kalau bisa tanpa gangguan anak. Seperti memasak, menyuapi, menyetrika dan bahkan duduk di majelis ilmu alias kajian. Saat anak banyak tingkah, terkadang gadget terpaksa menjadi alat penenang. Yah, pertahanan ibu sering jebol menghadapi situasi seperti ini. Bukankah begitu?

Memang, tontonan untuk anak sudah dipilihkan sesuai usianya. Namun, menjadikan gadget sebagai senjata untuk menenangkan anak, tentu punya dampak jangka panjang yang kurang baik. Misal, tertanam di benak anak, gadget itu sangat berharga, hingga untuk mengaksesnya disyaratkan mau nurut, duduk dan diam. Ibu bukannya tidak sadar akan hal itu. Tapi hal itu terus terulang lagi dengan alasan itulah yang paling praktis demi menjaga kewarasan ibu. Dilematis, bukan?

  1. Melarang Anak Jajan, Nyatanya Jajan Juga

Sebelum menikah, ibu rajin mengumpulkan resep cemilan sehat. Bertekad akan memasak sendiri untuk keluarga, sehingga terjamin kesehatannya. Tidak akan mengizinkan anak jajan di pinggir jalan. Kalau perlu bekal dari rumah. Nyatanya, boro-boro sempat mengeksekusi resep. Bahan-bahan untuk membuat cemilan tersebut, jauh dari jangkauan dompet ibu. Selain itu, ibu sangat sibuk, sehingga tidak punya waktu untuk masak cemilan. Maklum, anak bukan cuma satu.

Kerjaan ibu juga banyak. Bukan cuma masak, nyapu, nyuci dan ngepel.

Ada rutinitas lain di era digital, seperti scrolling, up date status, membuat konten, memantau informasi yang viral, dan interaksi di status orang. Ah, banyak sekali alasan ibu ini. Akhirnya, jajan anak dibelilah dari abang-abang. Atau, digiring sajalah anak-anak ke minimarket. Tinggal pilih tanpa ribet. Duh, kapan ibu berubah?

  1. Tekad Memiliki Banyak Anak, Nyatanya Tak Sanggup

Sebelum melahirkan, banyak calon ibu yang ingin punya banyak anak. Hal ini karena mengikuti Sunah Rasulullah SAW yang bangga dengan banyaknya umat. Setelah melahirkan, ternyata tak sedikit yang kewalahan. Usai persalinan, mengalami baby blues syndrom dan bahkan berlanjut postpartum depression. Mengurus satu bayi sendiri, ternyata repot sekali. Tak hanya lelah fisik, juga lelah mental.

Tak hanya itu. Kelahiran bayi, juga diikuti kecemasan di benak ibu. Tak lagi memikirkan eksistensi dirinya, yang dipikirkan adalah bisakah nanti mencukupi kebutuhan anaknya, memberikan kamar yang nyaman, menyekolahkan di sekolah terbaik dan seterusnya. Meski kebahagiaan membuncah dengan kelahiran buah hati, kenyataan kerap menghalangi tekad ibu. Kondisi mental, ekonomi dan kerepotan, menyurutkan tekad dan memilih realistis.

Nah, kalian nomor berapa saja? Apakah ada yang mau menambahkan? Yang jelas, begitulah sulitnya menjadi ibu di peradaban sekuler kapitalisme yang serba tidak ideal ini. Semoga para ibu kuat dan tetap istiqomah untuk memperjuangkan tekadnya, agar tidak pret pada waktunya.(*)

Continue Reading

Previous: Menjadi Ibu Generasi Ideologis

Related Stories

Menjadi Ibu Generasi Ideologis WhatsApp Image 2025-12-30 at 20.42.54

Menjadi Ibu Generasi Ideologis

30/12/2025
Membentuk Kejujuran dengan Berpuasa IMG_20240326_151700

Membentuk Kejujuran dengan Berpuasa

26/03/2024
Matinya Fitrah Keibuan di Tengah Impitan Beban Kehidupan IMG_20240218_180603

Matinya Fitrah Keibuan di Tengah Impitan Beban Kehidupan

18/02/2024

Recent Posts

  • Banjir dan Longsor Aceh; Harapan Warga Ikut Tenggelam
  • Tekad Ibu yang Terpaksa Pret pada Waktunya
  • Child Grooming Marak, Extraordinary Crime yang Mengancam Anak
  • Ketika Mitigasi Absen, Bencana pun Hadir
  • Mengurai Benang Kusut Sistem Pendidikan

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Banjir dan Longsor Aceh; Harapan Warga Ikut Tenggelam WhatsApp Image 2026-01-28 at 20.54.27

Banjir dan Longsor Aceh; Harapan Warga Ikut Tenggelam

28/01/2026
Tekad Ibu yang Terpaksa Pret pada Waktunya WhatsApp Image 2026-01-28 at 20.41.04

Tekad Ibu yang Terpaksa Pret pada Waktunya

28/01/2026
Child Grooming Marak, Extraordinary Crime yang Mengancam Anak WhatsApp Image 2026-01-27 at 22.08.31

Child Grooming Marak, Extraordinary Crime yang Mengancam Anak

27/01/2026
Ketika Mitigasi Absen, Bencana pun Hadir WhatsApp Image 2026-01-27 at 21.56.27

Ketika Mitigasi Absen, Bencana pun Hadir

27/01/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.