Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2026
  • February
  • 11
  • The Polluter Pays Principle, Rekonstruksi Gaza Bukan Agenda Tulus Board of Peace

The Polluter Pays Principle, Rekonstruksi Gaza Bukan Agenda Tulus Board of Peace

Editor Muslimah Times 11/02/2026
WhatsApp Image 2026-02-11 at 10.39.00
Spread the love

Oleh. Ailia Junior

Muslimahtimes.com–Presiden Donald Trump meluncurkan piagam pembentukan Dewan Perdamaian saat menghadiri pertemuan di Davos. Lembaga yang mematok tarif US$1 miliar bagi anggota permanen ini dibentuk sebagai solusi penyelesaian konflik dunia, dengan misi perdana mengawal pembangunan kembali Jalur Gaza yang hancur akibat perang genosida berkepanjangan.( www.aljazeera.com/22/1/26)

Panggung Davos, Swiss, pada Januari 2026 menjadi saksi lahirnya Board of Peace (BoP) Charter yang diinisiasi oleh Donald Trump. Di tengah narasi “momentum bersejarah” untuk perdamaian Gaza, piagam ini sebenarnya menyimpan anomali besar. Alih-alih melibatkan rakyat Palestina sebagai subjek utama, BoP justru tampak seperti firma pengembang properti global yang sedang bersiap mengeksploitasi reruntuhan di atas tanah yang masih basah oleh darah para syuhada.

Logika Terbalik: “The Polluter Pays” vs Iuran Politik

Iuran senilai US$1 miliar dinyatakan sebagai sumbangan sukarela yang ditujukan bagi calon anggota permanen serta untuk mendanai upaya rekonstruksi di Gaza. Mantan diplomat Dino Patti Djalal menekankan bahwa Palestina sebenarnya tidak mengharapkan bantuan finansial sebesar itu; bagi mereka, sokongan politik dan moral jauh lebih krusial dibandingkan materi. (timesindonesia.co.id/4/2/2026)

Salah satu poin paling krusial dalam menelaah keterlibatan negeri-negeri Muslim dalam BoP adalah pengabaian terhadap prinsip fundamental hukum dan etika internasional: The Polluter Pays Principle (Prinsip Pencemar Membayar).

Pihak yang menyebabkan kehancuran infrastruktur dan genosida seharusnya memikul tanggung jawab penuh atas biaya pemulihan. BoP justru membalikkan logika ini secara ekstrem. Dengan mewajibkan iuran fantastis mencapai miliaran dolar bagi anggota permanen, BoP seolah memindahkan beban finansial dari pihak penyerang kepada negara-negara lain. Ini bukan sekadar bantuan kemanusiaan; ini adalah pembersihan dosa dan pembebasan tanggung jawab bagi pelaku perusakan dengan menggunakan dana segar dari kantong dunia Islam.

Gaza Baru: Proyek Komersial di Atas Kedaulatan

Visi “Gaza Baru” (New Gaza) yang dipromosikan Trump mencakup pembangunan gedung pencakar langit, wisata pantai, hingga bandara di kawasan Rafah yang luluh lantak, namun keterlibatan pengusaha properti pro-Zionis seperti Steve Witkoff dalam struktur inti BoP adalah sinyal bahaya bagi kedaulatan. Gaza tidak sedang dimerdekakan, melainkan sedang diubah menjadi aset ekonomi yang dikendalikan oleh investor asing. Tanpa keterlibatan rakyat Palestina dalam pengambilan keputusan, “rekonstruksi” ini hanyalah kedok bagi pengusiran penduduk asli secara sistematis dan legal.

Larangan Bersekutu dengan Kafir Harbi Fi’lan

Secara teologis, keterlibatan negeri-negeri Muslim dalam BoP menabrak prinsip dasar yang sangat fundamental dalam Islam. AS di bawah kepemimpinan yang secara nyata mendukung penjajahan dan genosida Zionis di Palestina dikategorikan sebagai Kafir Harbi Fi’lan—yakni negara kafir yang secara riil sedang memerangi kaum Muslim secara fisik maupun melalui sokongan militer dan pendanaan.

Islam secara tegas mengharamkan pemberian jalan bagi kaum kafir untuk menguasai atau menentukan nasib kaum Mukmin. Allah SWT berfirman dalam QS An-Nisa’ [4]: 141: “… dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.”

Menandatangani Piagam BoP dan menyetorkan iuran kepadanya bukan sekadar kerja sama administratif, melainkan memberikan “jalan” (sabil) bagi pihak yang memusuhi umat untuk mengatur tatanan hidup dan masa depan tanah wakaf umat Islam di Palestina. Menyerahkan mandat perdamaian kepada mereka yang membiayai penghancuran Gaza adalah sebuah kontradiksi iman dan pengkhianatan terhadap perjuangan kedaulatan yang telah lama ditegakkan.

Kelumpuhan Diplomasi

Negara-negara yang bergabung dalam BoP sedang kehilangan daya tawar total. Mereka masuk ke dalam jebakan neokolonialisme dengan sukarela, membayar mahal untuk sebuah kursi di organisasi yang dikelola secara otoriter oleh Donald Trump—di mana kepemimpinannya bersifat seumur hidup dan memiliki hak veto mutlak.

Negara-negara berpenduduk Muslim seharusnya menjadi Junnah (perisai) bagi saudara-saudaranya di Palestina, sebagaimana pesan Rasulullah saw. bahwa seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Alih-alih bersatu mewujudkan institusi yang mandiri dan berdaulat untuk mengadang hegemoni, mereka justru terjebak dalam diplomasi “pay-to-play” (bayar untuk bermain) yang hanya memperkuat posisi tawar penjajah di panggung global.

Kesimpulan: Menolak Kedaulatan Semu

Perdamaian di Gaza tidak akan tercapai melalui “bisnis rekonstruksi” yang transaksional di bawah kendali Kafir Harbi. Menolak aliansi yang menindas dan mengembalikan marwah umat adalah satu-satunya jalan. BoP bukan solusi; ia adalah instrumen baru untuk memastikan bahwa dunia Islam tetap terjajah—kali ini bukan melalui peluru, melainkan melalui jeratan kontrak pembangunan dan modal asing yang eksploitatif.

Kita tidak butuh “Gaza Baru” yang dibangun dari tangan-tangan yang mendukung penghancurannya. Kita butuh Gaza yang merdeka, berdaulat, dan dibangun kembali oleh tangan-tangan yang benar-benar peduli pada kehormatan dan kemuliaan umat manusia. Gaza Perlu di bebaskan berdasarkan instrument baku yang telah di contahkan ulama terdahulu, tengoklah bagaimana Umar bin Khatab menangani permasalahan Palestina, tirulah Salahuddin Al Ayubi membebaskan Gaza. Wallahu ‘alam.

Continue Reading

Previous: Nasib Sekolah dan Pesantren Pascabencana: Menagih Tanggung Jawab Negara

Related Stories

Nasib Sekolah dan Pesantren Pascabencana: Menagih Tanggung Jawab Negara WhatsApp Image 2026-02-03 at 22.11.09

Nasib Sekolah dan Pesantren Pascabencana: Menagih Tanggung Jawab Negara

03/02/2026
Normalisasi Istri Tidak Bekerja WhatsApp Image 2025-12-01 at 20.59.48

Normalisasi Istri Tidak Bekerja

01/12/2025
Darurat Bullying terhadap Remaja, di Mana Peran Negara? WhatsApp Image 2025-11-17 at 20.44.53

Darurat Bullying terhadap Remaja, di Mana Peran Negara?

17/11/2025

Recent Posts

  • The Polluter Pays Principle, Rekonstruksi Gaza Bukan Agenda Tulus Board of Peace
  • Ramadan: Spirit Meraih Takwa
  • Mengatasi Kurang Gizi dari Dapur Ibu Sendiri
  • Ketika Adab Hilang dari Sekolah
  • Marak Suami Bunuh Istri, Ada Apa dengan Rumah Tangga Muslim Hari Ini?

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

The Polluter Pays Principle, Rekonstruksi Gaza Bukan Agenda Tulus Board of Peace WhatsApp Image 2026-02-11 at 10.39.00

The Polluter Pays Principle, Rekonstruksi Gaza Bukan Agenda Tulus Board of Peace

11/02/2026
Ramadan: Spirit Meraih Takwa WhatsApp Image 2026-02-11 at 10.21.28

Ramadan: Spirit Meraih Takwa

11/02/2026
Mengatasi Kurang Gizi dari Dapur Ibu Sendiri WhatsApp Image 2026-02-11 at 10.16.35

Mengatasi Kurang Gizi dari Dapur Ibu Sendiri

11/02/2026
Ketika Adab Hilang dari Sekolah WhatsApp Image 2026-02-11 at 10.06.40

Ketika Adab Hilang dari Sekolah

11/02/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.