Oleh. Sherly Agustina, M.Ag
Muslimahtimes.com–Viral di media sosial daycare di Umbulharjo Jogja digerebek polisi karena diduga aniaya anak. Kasus ini mulai ramai setelah sejumlah orang tua murid mengunggah kesaksian dan bukti-bukti kekerasan yang dialami anak-anak mereka di platform digital. Para orang tua merasa terpukul setelah membaca ulasan di Google Maps yang mengungkap sisi gelap tempat tersebut. Laporan yang beredar menuturkan adanya tindakan keji terhadap anak-anak, mulai dari diikat, diseret, hingga dipukul.
Kasat Reskrim Polresta Jogja Kompol Riski Adrian membenarkan adanya penggerebekan tersebut yang dilakukan di hari Jumat. Polisi menduga ada oknum pengelola daycare yang melakukan penganiayaan terhadap anak-anak. Diduga kuat melakukan tindak pidana memperlakukan anak secara diskriminatif atau menempatkan, membiarkan, melibatkan, ada perlakuan salah dan penelantaran atau kekerasan terhadap anak. Kini, pihak polisi tengah menyelidiki kasus tersebut. (detikNews.com, 25-4-2026)
Di sumber lain, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai kasus dugaan kekerasan yang menimpa setidaknya 53 anak dari total 103 anak di tempat penitipan (daycare) Little Aresha di Yogyakarta, merupakan fenomena “gunung es”. Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, menyatakan, berdasarkan pengamatan lembaganya, dari 3.000-an daycare di Indonesia banyak yang belum mengantongi izin dan tidak terpantau oleh pemda. Sehingga, kemungkinan besar terjadi penganiayaan bahkan kekerasan pada anak.
Polresta Yogyakarta telah menetapkan 13 orang sebagai tersangka yang terdiri dari kepala yayasan Little Aresha, kepala sekolah, dan 11 orang pengasuh. Mereka dijerat pasal berlapis terkait perlindungan anak. Kasus itu bermula dari adanya laporan mantan karyawan yayasan itu ke Polresta Yogyakarta yang merasa tindakan para pengasuhan kepada anak-anak tidak manusiawi. Laporan tersebut lantas ditindaklanjuti oleh polisi yang menggerebek lokasi tempat penitipan anak itu di Kawasan Sorosutan, Umbulharjo, pada Jumat (24/04).
Kasatreskrim Polres Yogyakarta, Rizki Adrian, menjelaskan pihaknya menemukan sejumlah bukti terkait perlakuan tidak manusiawi yang dimaksud. Tindakan itu di antaranya ada anak-anak yang diikat tangan dan kakinya, dan beberapa dari anak mengalami luka-luka. Tak hanya itu, anak-anak ditempatkan di ruangan yang sangat sempit. Ada tiga kamar ukuran sekitar 3×3 meter persegi, tetapi diisi 20 anak untuk satu kamar. Selain itu, anak-anak tersebut diduga mengalami penelantaran ekstrem dan dibiarkan begitu saja meski dalam kondisi sakit. (BBC.com, 27-4-2026)
Alasan Membutuhkan Day Care
Ada beberapa alasan mengapa day care dibutuhkan, di antaranya:
Pertama, karena suami istri butuh pemasukan lebih, terpaksa anak dititip ke day care. Kehidupan serba sulit seperti saat ini memaksa para istri turut membantu suami. Apalagi jika seorang suami terkena PHK dan sulit mencari pekerjaan, maka istri seolah dipaksa oleh keadaan menjadi tulang punggung keluarga. Sementara di sisi lain, istri dan seorang ibu memiliki amanah mulia sebagai ummun wa rabbatul bait (ibu dan pengatur urusan rumah tangga) serta madrasah pertama dan utama.
Akhirnya, peran ibu menjadi ganda dalam sebuah rumah tangga. Peliknya kondisi ini terjadi dalam sistem kapitalisme yang saat ini diterapkan di negeri ini. Kesejahteraan, kemudahan, dan kekayaan seolah hanya bisa dimiliki oleh segelintir orang. Rakyat kecil hanya bisa gigit jari.
Kedua, istri atau ibu ingin karir tinggi walau sebenarnya sudah tercukupi nafkahnya oleh suami. Day care menjadi pilihan solusi dalam mengurus anak, karena karir yang ingin dikejar tak ingin terhalangi oleh anak.
Ketiga, ada peran perempuan yang memang dibutuhkan di ranah publik. Allah menganugerahi beberapa kemampuan atau keahlian pada orang-orang tertentu, misalnya sebagai pengajar, suster, dokter, atau peran lain yang hanya bisa dilakukan oleh perempuan. Bagi mereka yang sudah memiliki anak, day care menjadi solusi untuk menitipkan anak sementara waktu selama mereka dibutuhkan di ranah publik.
Lantas, apakah salah keberadaan day care atau tempat semisal itu dan para orang tua yang menitipkan anaknya di day care? Jawabannya, bergantung pada alasan di atas. Namun, baik alasan pertama hingga ketiga, anak sebenarnya menjadi korban jika pola pengasuhan day care tidak memiliki standar yang benar, apalagi jauh dari nilai-nilai Islam. Ditambah peran kedua orang tua pun sangat minim dalam pengasuhan di rumah. Kesannya, orang tua hanya memiliki kewajiban mencari materi untuk memenuhi kebutuhan anak.
Padahal, ada aspek lain yang tidak bisa digantikan dengan materi yaitu waktu kebersamaan orang tua dengan anak, perhatian dan kasih sayang yang mereka harapkan dari orang tua. Tidak menyalahkan sepenuhnya kedua orang tua, karena hal ini seperti dikondisikan oleh sistem yang jauh dari syariat. Fitrah ibu tercerabut dan berada di bawah bayang-bayang kapitalisme, sementara anak menjadi korban. Di sisi lain, para ayah kesulitan mencari nafkah dengan banyaknya PHK yang berakibat pada banyaknya pengangguran.
Fakta ini ibarat fenomena gunung es, ayah, ibu, anak menjadi korban sadisnya sistem kapitalisme. Andai negara menjamin kesejahteraan pada seluruh rakyat, para ayah mudah mendapatkan lapangan pekerjaan, maka para ibu fokus mendidik anak sebagai madrasah pertama dan utama. Jika pun perempuan berkiprah di ranah publik yang memang masyarakat butuhkan, negara memfasilitasi day care dan semisalnya dengan baik dari sisi keamanan, keselamatan, pola pengasuhan, dan pendidikan yang baik bagi para anak.
Nyatanya, berharap demikian pada sistem kapitalisme hanya akan membuat patah hati berkali-kali. Karena lagi-lagi, kesejahteraan, kenyamanan, keamanan, kekayaan hanya bisa dimiliki bagi orang tertentu. Sementara sangat mahal bagi rakyat kecil yang harus berjibaku dengan kerasnya kehidupan. Pun hanya untuk sekadar makan memenuhi hajat perut anggota keluarga di rumah. Di sisi lain, banyak orang yang mudah jalan-jalan ke luar negeri, membeli barang branded, rumah dan mobil mewah, flexing, shoping, dan lainnya.
Negeri Penuh Ironi
Kejamnya, fenomena flexing banyak dilakukan oleh para pejabat yang makan dan hidupnya dari pajak rakyat yang mencekik. Sungguh ironi negeri ini, katanya kaya akan sumber daya alam yang melimpah tetapi bukan untuk dinikmati oleh seluruh rakyat terutama rakyat kecil. Fakta berbicara, kekayaan alam yang melimpah di negeri zamrud khatulistiwa ini dimiliki oleh asing. Misalnya nikel, hampir 70% tambang nikel di Indonesia dikontrol oleh asing. (Indopremier.com, 15-3-2021)
Maxsasa Kadepa, warga Mimika, puluhan tahun hidupnya pas-pasan, dari dulu miskin. Padahal, rumahnya tak jauh dari pabrik tambang emas, PT Freeport Indonesia, perusahaan asal Amerika Serikat. Tentu saja, tak hanya Maxsasa yang hidupnya seperti itu. Masih banyak Maxsasa lain di Papua. Jika ingin jujur, harta karun di Bumi Cendrawasih begitu bejibun. Sektor pertambangan yang paling menakjubkan, di sana ada berbagai jenis tambang yang berlimpah ruah seperti tembaga, emas, minyak, dan gas.
Namun sayang, kekayaan sumber daya alam itu hampir sebagian besar dikuasai perusahaan-perusahaan asing. Kebanyakan orang Papua hanya menjadi penonton di kampungnya sendiri. Tak hanya Papua, d belahan lain yaitu Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, Jawa, Bali, dan daerah lainnya di Indonesia, kebanyakan rakyat hanya jadi penonton melihat geliat perusahaan-perusahaan asing mengeruk hasil tambang dan migas.
Di Indonesia ada 60 kontraktor migas yang terkategori ke dalam tiga kelompok. Pertama, Super Major, terdiri ExxonMobile, Total Fina Elf, BP Amoco Arco, dan Texaco yang menguasai cadangan minyak 70% dan gas 80%. Kedua, Major, terdiri dari Conoco, Repsol, Unocal, Santa Fe, Gulf, Premier, Lasmo, Inpex dan Japex yang menguasai cadangan minyak 18% dan gas 15%. Ketiga, perusahaan independen; menguasai cadangan minyak 12% dan gas 5%. Walhasil, minyak dan gas bumi Indonesia hampir 90% telah dikuasai oleh asing. Mereka semua adalah perusahaan multinasional asing. (Inilah.com, 1-10-2012)
Pandangan Islam
Islam bukan hanya sekadar agama ritual yang mengatur hubungan manusia dengan Allah saja, tetapi mengatur juga hubungan manusia dengan sesama manusia dan dirinya sendiri. Oleh karena itu, Islam mengatur terkait perekonomian, keuangan negara, pengelolaan sumber daya alam, pendidikan, sistem sanksi, keluarga, pergaulan, dan lainnya. Islam menjamin pemenuhan kebutuhan pokok seluruh warga negaranya baik muslim maupun nonmuslim berupa sandang, pangan, dan papan.
Selain itu, negara dalam Islam menjamin kebutuhan kolektif berupa kesehatan, pendidikan, dan keamanan dengan gratis. Dengan kata lain, Islam menjamin kesejahteraan seluruh warga negaranya. Spiritnya yaitu hadis Rasulullah saw., “Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang ia urus” (HR. Bukhari dan Muslim)
Negara memberikan lapangan pekerjaan bagi para laki-laki untuk bisa menafkahi keluarganya. Salah satu dalil kewajiban nafkah di pundak suami yaitu firman Allah Swt. dalam surah Al-Baqrah ayat 233, “Kewajiban ayah menanggung makan dan pakaian mereka dengan cara yang patut.”
Islam memberikan tugas bagi suami dan istri, suami bertanggung jawab menafkahi keluarga, sementara istri atau ibu sebagai ummun wa rabbatul bait juga madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Peran keduanya sangat penting dalam berjalannya proses rumah tangga. Apabila tidak berjalan salah satunya, ibarat perahu akan oleng di tengah ombak yang besar. Maka, negara dalam Islam memastikan agar peran ini berjalan sesuai sunnatullah.
Dalam ekonomi Islam, dikenal konsep baitulmal sebagai kas negara. Pemasukan negara dari zakat, harta milik umum berupa sumber daya alam, dan harta milik negara. Jika kekayaan alam dikelola dengan benar oleh negara, maka kesejahteraan akan dirasakan oleh seluruh warga negara. Berbanding terbalik dengan kondisi saat ini, rakyat dituntut mandiri oleh negara untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Ditambah beban pajak yang kian mencekik.
Khatimah
Apabila kesejahteraan dijamin oleh negara, para suami tidak khawatir kena PHK dan menganggur. Para ibu fokus mencetak generasi hebat, jika pun kiprahnya diperlukan di ranah publik negara menjamin agar anaknya tetap dirawat dengan baik oleh lembaga day care dan semisalnya. Antara satu dengan yang lain saling berkelindan, demi tercipta suasana sehat dan harmonis dalam keluarga, tidak mengganggu proses pendidikan anak dalam menghasilkan generasi cemerlang.
Tentu dibantu oleh sistem pendidikan Islam yang berbasis akidah, melahirkan out out yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki akidah dan mental yang kokoh dan adab yang baik serta menguasai skill kehidupan. Generasi ulama sekaligus ilmuwan, generasi yang bervisi akhirat, generasi yang memiliki kepribadian Islam (pola pikir dan pola sikap sesuai dengan Islam). Jadi, permasalahan day care dan ibu bekerja adalah permasalahan yang sistemis, maka solusinya pun sistemis dan mengakar. Islam mampu menjawab permasalahan tersebut. Allahua’lam Bishawab
