Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2026
  • May
  • 28
  • Kampus Bukan Pabrik: Pendidikan Bukan Budak Industri

Kampus Bukan Pabrik: Pendidikan Bukan Budak Industri

Editor Muslimah Times 28/05/2026
WhatsApp Image 2026-05-28 at 17.36.39
Spread the love

Oleh. Azaera A

Muslimahtimes.com–Wacana pemerintah menghapus jurusan kuliah yang dianggap “tidak relevan” demi pertumbuhan ekonomi benar-benar bendera merah. Melalui Kemdiktisaintek, arah pendidikan kita akan dipaksa hanya untuk memenuhi kebutuhan industri masa depan. Logika yang sempit, seolah-olah fungsi kuliah hanya untuk menjadi ‘tukang’ di pabrik orang. Jika orientasi pendidikan sebatas untuk mencetak sekrup-sekrup industri, lalu dimana tempat untuk pengembangan kualitas SDM yang utuh?

Kampus merupakan tempat untuk mencetak intelektual, bukan sekadar tempat pelatihan karyawan demi target ekonomi pemerintah tercapai. Para pelajar dari UMM sampai Unisma sudah tegas mengatakan kalau “Kampus Bukan Pabrik Pekerja”. Menutup Prodi dengan alasan kurang ‘laku’ di pasar merupakan langkah yang sangat gegabah. Penyesuaian kurikulum atau evaluasi berkala seperti yang dilakukan UGM jauh lebih masuk akal daripada tutup paksa prodi. Sayangnya, sekarang kita terjebak dalam arus liberalisme-sekuler yang membuat perguruan tinggi harus tunduk pada pasar. Pendidikan pada akhirnya bukan lagi soal mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi soal seberapa cepat sarjana bisa konversi jadi cuan.

Realitanya, kebijakan ini menunjukkan kalau negara sedang “lepas tangan” dari tanggung jawab yang sebenarnya. Alih-alih merancang SDM yang bisa mengurus rakyat, pemerintah malah hanya reaktif dan sibuk merespons kepentingan industri yang saling bersaing. Hal ini memang penting, karena jika negara tidak memiliki visi mandiri, maka kurikulum kita akan terus berlanjut disetir pihak luar. Pendidikan yang harusnya menjadi hak dasar dan sarana pembentukan karakter, malah dipreteli demi efisiensi anggaran dan tuntutan korporasi global yang tidak ada habisnya.

Padahal kalau mau jujur, kita butuh sistem yang lebih berdaulat. Dalam perspektif Islam misalnya, negara mempunyai kewajiban mutlak untuk mencetak ahli di semua bidang demi melayani urusan rakyat, bukan melayani pengusaha. Negara harus menjadi nahkoda yang menentukan visi, kurikulum, sampai pembiayaan penuh tanpa harus meminta restu atau dana dari pihak industri. Mandiri dalam mengelola pendidikan tinggi itu harga mati, supaya lulusan kita tidak cuma jago kerja, tapi memiliki kepemimpinan dan idealisme yang kuat bagi bangsa ini.

Sikap masyarakat tentu saja harus menolak keras ketika dunia pendidikan hanya dijadikan pelayan industri. Pemerintah perlu menyadari bahwa tugas pokoknya adalah melayani rakyat, bukan sekedar menjadi “HRD” perusahaan besar.

Jangan sampai karena ambisi ekonomi, kita kehilangan esensi dari pendidikan itu sendiri. Kita butuh SDM yang punya kualitas ilmu dan akhlak, bukan hanya sarjana yang siap pakai tapi tidak punya jiwa. Setop memanfaatkan mahasiswa layaknya komoditas, karena masa depan bangsa tidak bisa hanya diukur pakai angka pertumbuhan ekonomi semata.

Continue Reading

Previous: Darurat Perlindungan Anak di Indonesia: Saatnya Keluarga dan Negara Bangun Benteng untuk Anak

Related Stories

Darurat Perlindungan Anak di Indonesia: Saatnya Keluarga dan Negara Bangun Benteng untuk Anak WhatsApp Image 2026-05-28 at 16.55.16

Darurat Perlindungan Anak di Indonesia: Saatnya Keluarga dan Negara Bangun Benteng untuk Anak

28/05/2026
Pengawasan Keuangan Tanpa Solusi WhatsApp Image 2026-05-25 at 16.50.18

Pengawasan Keuangan Tanpa Solusi

25/05/2026
Update Palestina: Nakba dan Global Sumud Flotila WhatsApp Image 2026-05-25 at 16.42.14

Update Palestina: Nakba dan Global Sumud Flotila

25/05/2026

Recent Posts

  • Kampus Bukan Pabrik: Pendidikan Bukan Budak Industri
  • Darurat Perlindungan Anak di Indonesia: Saatnya Keluarga dan Negara Bangun Benteng untuk Anak
  • Pengawasan Keuangan Tanpa Solusi
  • Update Palestina: Nakba dan Global Sumud Flotila
  • Sindiran “In This Economy”, Refleksi Sulitnya Ekonomi

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Kampus Bukan Pabrik: Pendidikan Bukan Budak Industri WhatsApp Image 2026-05-28 at 17.36.39

Kampus Bukan Pabrik: Pendidikan Bukan Budak Industri

28/05/2026
Darurat Perlindungan Anak di Indonesia: Saatnya Keluarga dan Negara Bangun Benteng untuk Anak WhatsApp Image 2026-05-28 at 16.55.16

Darurat Perlindungan Anak di Indonesia: Saatnya Keluarga dan Negara Bangun Benteng untuk Anak

28/05/2026
Pengawasan Keuangan Tanpa Solusi WhatsApp Image 2026-05-25 at 16.50.18

Pengawasan Keuangan Tanpa Solusi

25/05/2026
Update Palestina: Nakba dan Global Sumud Flotila WhatsApp Image 2026-05-25 at 16.42.14

Update Palestina: Nakba dan Global Sumud Flotila

25/05/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.