Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2026
  • August
  • 18
  • Apakah Wajib Menaati Suami yang Gajinya di Bawah UMR?

Apakah Wajib Menaati Suami yang Gajinya di Bawah UMR?

Editor Muslimah Times 18/08/2026
WhatsApp Image 2026-08-18 at 20.51.48
Spread the love

Oleh. Dini Sumaryanti
(Family Coach, Founder Komunitas Ibu Hebat)

Muslimahtimes.com–Awalnya candaan, lalu jadi standar.

Di TikTok, di Threads, di tongkrongan, kalimat itu dilempar sambil tertawa. Tapi makin ke sini, makin banyak yang menganggapnya serius sebagai filter pertama mencari pasangan. Padahal kalau ditelaah, ini bukan cuma soal UMR. Ini soal luka, gengsi, dan sistem yang pelan-pelan masuk ke dalam rumah tangga kita.

Perlu ditelaah tidak semua yang bergaji di bawah UMR itu sama. Ada yang gajinya bawah UMR karena malas. Kerja semaunya, gampang resign, uang habis buat rokok dan top up game, tapi di rumah minta dilayani seperti sultan. Maunya istri yang talangin kontrakan dan susu anak.

Kalau tipe ini, pertanyaan “wajib taat nggak?” itu valid. Dalam agama pun, ketaatan itu pasangan dari nafkah. Kalau kewajiban nafkah tidak ditunaikan tanpa uzur, yang merusak akad duluan adalah suaminya.

Tipe kedua gaji di bawah UMR padahal sudah banting tulang.
Guru honorer 1,2 juta, admin toko 2,5 juta, kurir, barista, security, petani, buruh pabrik dan lain-lain. Berangkat pagi pulang petang, nggak judi, nggak selingkuh, uangnya jelas larinya ke beras dan bensin.

Dalam agama, tipe ini sudah menggugurkan kewajibannya. Karena nafkah itu menurut kemampuan, bukan menurut UMR.

Masalahnya tipe pertama pelakunya sedikit, tapi suaranya paling kencang. Satu cerita viral tentang suami malas bisa 20 ribu komen. Akhirnya yang kena getahnya semua laki-laki yang gajinya UMR.

Kenapa Tipe Kedua Susah Dapat Respek Cuma Karena Angka?

Karena kita hidup di sistem kapitalis. Kapitalisme membuat kita percaya bahwa semua hal ada harganya, termasuk cinta. Pernikahan diubah dari tim yang bertahan hidup bareng, menjadi tim yang mengkonsumsi bareng. Kalau tugasnya konsumsi, yang ditanya pertama pasti daya belinya berapa.

Kapitalis menjadikan alat ukur resmi untuk “laki-laki bertanggung jawab”, adalah pendapatan (UMR). Di atas UMR = berhasil. Di bawah = gagal. Padahal banyak yang di atas UMR tapi habis buat pinjol dan gaya, dan banyak yang di bawah UMR tapi jujur dan setia.

Kapitalis merubah standar cukup menjadi hidup estetik: healing ke Bali, skincare 500rb, iPhone baru. Laki-laki yang hanya bisa memberi hidup cukup, bukan hidup estetik, langsung dicap gagal.

Semua distandarkan pada angka, akhirnya kita tidak lagi percaya proses: ketekunan, kesetiaan, tanggung jawab. Kita cuma percaya angka di rekening.

Bahayanya Kalau Candaan Ini Jadi Standar

  1. Pernikahan jadi kontrak kerja.
    “Aku taat kalau kamu di atas UMR.” Lalu bagaimana kalau suami PHK, sakit, atau usahanya bangkrut? Kalau fondasinya angka, rumah tangga tidak punya daya tahan.
  2. Laki-laki baik memilih mundur. Banyak laki-laki baik menunda nikah karena merasa belum pantas. Yang berani akhirnya cuma yang sudah mapan, atau yang kepercayaan dirinya tinggi tapi tanggung jawabnya kosong.
  3. Kerja halal, direndahkan
    Guru ngaji, tukang sayur, montir bengkel — semua di bawah UMR. Kalau mereka dianggap tidak layak dihormati, kita sedang bilang bahwa halal kalah penting dari pencitraan.
  4. Genera penerus belajar cinta itu ada harganya.
    Anak perempuan belajar: cintaku tergantung gajimu. Anak laki-laki belajar: hargaku cuma dari angkaku. Dua-duanya tumbuh jadi orang dewasa yang tidak aman.

Jadi… Wajib Taat Nggak?
Kalau dia tipe yang malas dan menjadikan agama sebagai tameng kemalasannya: tidak. Kamu wajib menyelamatkan dirimu dulu. Kalau dia tipe yang jelas ikhtiarnya, transparan uangnya, dan masih punya rasa malu kalau belum bisa memberi lebih: dia layak ditaati bukan karena gajinya, tapi karena kepemimpinannya. Taat pada arahnya, pada usahanya menjaga keluarga di jalan yang benar.

Soo kalau mau cari suami, jangan tanya “Gajinya berapa?”
Tapi tanya :

  1. Kalau uang kurang, dia mau ngapain?
  2. Kalau diingatkan, dia defensif atau mau diskusi?
  3. Uangnya lari kemana?

Kalau Khilafah Menghadapi Fenomena Ini, Apa yang Akan Dilakukan?

Candaan ini muncul karena masalah sistemik yaitu diterapkannya sistem Kapitalis, yang berdampak banyak masalah nggak selesai-selesai: lapangan kerja sempit, gaji nggak layak, harga kebutuhan pokok naik, dan peran suami-istri diseret-seret logika pasar.

Khilafah tidak akan menyelesaikan ini dengan cuma bilang “sabar” atau “banyakin bersyukur”. Khilafah akan memotong akarnya.

  1. Khilafah tidak akan pakai UMR ala kapitalisme.
    UMR hari ini itu kompromi antara pengusaha dan negara: berapa gaji paling murah yang boleh dibayar agar buruh tidak mati, tapi pengusaha tetap untung besar. Itu bukan standar hidup layak.

Dalam Khilafah, negara wajib menjamin setiap laki-laki yang baligh bisa mendapatkan pekerjaan yang layak untuk menafkahi. Bukan cuma “boleh kerja”, tapi difasilitasi: akses lahan, modal tanpa riba dari Baitul Mal, pelatihan skill, dan industri berat yang dibuka negara sehingga lapangan kerja bukan cuma jadi admin dan kurir.

Gaji tidak diserahkan pada mekanisme pasar bebas, tapi dikaitkan pada manfaat kerja dan kebutuhan hidup layak yang riil di lapangan, bukan angka minimalis.

  1. Khilafah memutus rantai yang membuat laki-laki betah malas dan laki-laki rajin tetap miskin.

Kenapa muncul laki-laki malas? Karena sistem hari ini memungkinkan hidup tanpa kerja keras: judi online, pinjol, flexing, dan tidak ada sanksi sosial yang tegas dari negara.
Khilafah akan menutup pintu itu: judi, riba, miras, pornografi diberantas sebagai sumber penyakit masyarakat, bukan dipajaki.

Laki-laki dididik dengan kurikulum sekolah bahwa qawwam itu adalah tanggung jawab, bukan privilege untuk dilayani.

Kenapa banyak laki-laki baik tetap miskin padahal kerja keras? Karena kekayaan alam dikuasai korporasi, bukan dikelola negara untuk rakyat. Dalam Khilafah, sumber daya alam yang melimpah seperti tambang, hutan, laut adalah milik umum. Hasilnya masuk Baitul Mal dan dipakai untuk subsidi kebutuhan pokok, sedangkan kesehatan, pendidikan dan keamanan gratis, sehingga walau gaji 3,5 juta tidak habis cuma untuk bertahan hidup.

  1. Khilafah mengembalikan respek pada tempatnya.
    Hari ini respek diukur dari branded dan slip gaji, karena kapitalisme butuh itu. Dalam Khilafah, kemuliaan diukur dari takwa dan manfaat.

Negara melalui sistem pendidikan, khutbah, media, akan mengembalikan definisi suami ideal: bukan yang paling tinggi gajinya, tapi yang paling bertanggung jawab, paling bertakwa, paling mampu memimpin keluarga menuju ketaatan.

Istri pun tidak didorong jadi detektif gaji, tapi jadi partner dalam membangun keluarga pejuang. Karena negara sudah menjamin kebutuhan dasarnya, istri tidak perlu takut lapar kalau menikah dengan laki-laki baik yang sedang merintis.

Rasa aman itu datang dari sistem, bukan cuma dari dompet suami.

Continue Reading

Previous: Derita para Ibu Pekerja

Related Stories

Derita para Ibu Pekerja WhatsApp Image 2026-05-13 at 05.27.58

Derita para Ibu Pekerja

14/05/2026
Enam Faktor Penghambat Pernikahan WhatsApp Image 2026-05-08 at 20.52.54

Enam Faktor Penghambat Pernikahan

08/05/2026
Manajemen Emosi Ibu Rumah Tangga WhatsApp Image 2026-03-24 at 17.14.17

Manajemen Emosi Ibu Rumah Tangga

24/03/2026

Recent Posts

  • Apakah Wajib Menaati Suami yang Gajinya di Bawah UMR?
  • Saat SD Negeri Minim Murid Baru
  • Layakkah BPJS Dipertahankan?
  • Benarkah Kita Telah Merdeka?
  • Edukasi LGBT di Sekolah, Cukupkah Membentengi Generasi?

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Apakah Wajib Menaati Suami yang Gajinya di Bawah UMR? WhatsApp Image 2026-08-18 at 20.51.48

Apakah Wajib Menaati Suami yang Gajinya di Bawah UMR?

18/08/2026
Saat SD Negeri Minim Murid Baru WhatsApp Image 2026-08-18 at 20.39.32

Saat SD Negeri Minim Murid Baru

18/08/2026
Layakkah BPJS Dipertahankan? WhatsApp Image 2026-08-18 at 20.32.31

Layakkah BPJS Dipertahankan?

18/08/2026
Benarkah Kita Telah Merdeka? WhatsApp Image 2026-08-18 at 20.19.14

Benarkah Kita Telah Merdeka?

18/08/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.