Oleh. Kholda Najiyah
Muslimahtimes.com–Menjadi ibu tidak otomatis bisa segalanya, sejak kita dilahirkan ke dunia. Bahkan, sampai menikah pun, belum tentu langsung ahli dalam menjalankan tugas pengasuhan dan perawatan anak. Karena itu, Islam membimbing perempuan untuk menumbuhkan dan merawat kelembutan serta sifat keibuan tersebut. Begini caranya:
- Pelajari Ilmu Hadhonah
Naluri keibuan diasah melalui ilmu-ilmu pengasuhan dan perawatan anak, yang hari ini terkenal dengan istilah parenting. Termasuk di dalamnya ada fiqih hadhonah. Seorang perempuan mungkin tidak serta-merta tahu cara merawat anak saat bayi lahir, tetapi dengan belajar, membaca sirah, dan memahami psikologi anak, kapasitas jiwanya akan berkembang. Kecintaan kepada anak akan tumbuh dari proses melayani dan membersamai, bukan sekadar menunggu rasa itu datang dengan sendirinya secara otomatis.
- Dukungan Suami dan Keluarga
Islam tidak membebankan pengasuhan anak kepada ibu seorang diri secara sendirian. Suami memiliki kewajiban untuk melindungi, mencukupi secara finansial, dan bekerja sama dalam merawat dan mengasuh anak. Banyak perempuan kehilangan naluri keibuannya, karena kewalahan mengasuh sendiri. Banyak perempuan yang kehilangan kewarasannya, saking lelahnya fisik dan mental akibat berjuang sendiri tanpa dukungan suami dan keluarga. Maka, libatkan keluarga inti untuk saling membantu.
- Sembuhkan Trauma Pengasuhan
Jika ada perempuan yang menolak memiliki anak karena trauma masa lalu, maka sembuhkan dulu. Misalnya korban kekerasan orang tua atau penelantaran di masa kecil, cari cara untuk berdamai dengan diri sendiri. Maafkan, jangan lagi diungkit. Tantai trauma harus diputus, jangan malah melanggengkannya dengan menolak keturunan. Siapa tahu, justru merawat anak adalah obat bagi taruma jiwa.
- Praktik Keibuan Langsung
Latihan melakukan pengasuhan dan perawatan secara langsung, akan sangat baik bagi perkembangan pemahaman dan skill ini. Misalnya, sejak kecil anak-anak diizinkan terlibat dalam proses pengasuhan dan perawatan oleh seorang ibu. Mengasuh adik, anak kerabat atau tetangga misalnya. Diajari keterampilan domestik, seperti melipat baju anak, memasak, menjahit dan memakaikan baju adik.
- Support System Negara
Negara hendaknya menciptakan kurikulum pendidikan yang komprehensif. Masukkan kurikulum tentang fiqih pernikahan, hamil, melahirkan, mengasuh dan mendidik anak sesuai dengan jenjang tertentu. Baik siswa laki-laki maupun perempuan harus diajari tentang ilmu-ilmu rumah tangga. Negara juga menciptakan lapangan pekerjaan yang luas dan memberikan gaji yang layak. Dengan demikian, tugas pengasuhan dan perawatan akan bisa dijalankan secara maksimal.(*)
