Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2026
  • September
  • 3
  • Satu Juta Sarjana Menganggur, Ketika Ijazah Tidak Menjamin Dapur Ngebul

Satu Juta Sarjana Menganggur, Ketika Ijazah Tidak Menjamin Dapur Ngebul

Editor Muslimah Times 03/09/2026
WhatsApp Image 2026-09-04 at 06.25.10
Spread the love

Oleh. Yuli Ummu Raihan

Muslimahtimes.com–“Sekolahlah yang tinggi, supaya kelak masa depanmu bagus! Sebuah nasehat yang sering kita dengar dari orang tua zaman dulu agar anaknya rajin belajar dan semangat menuntut ilmu hingga ke perguruan tinggi dan mendapatkan gelar sarjana. Tapi faktanya hari ini gelar sarjana tidak menjadi jaminan bahwa seseorang bisa mudah mendapatkan pekerjaan dan punya penghasilan agar dapurnya tetap ngebul.

Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional per Mei 2026 tercatat ada sekitar 1.033.182 pengangguran berlatar belakang sarjana terapan atau S-1, S-2, bahkan S-3. (Kompas, 7/8/2026). Sementara Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN, Yanu Endar Prasetyo mengatakan persentase pengangguran dari kalangan sarjana meningkat cukup tajam dari 8% menjadi 14,3%. Padahal tingkat pengangguran terbuka (TPT) secara nasional mengalami penurunan dari 5% menjadi 4%.

Hal ini terjadi diduga akibat semakin luasnya akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi belum diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja formal yang memadai.
Kebutuhan tenaga kerja lebih banyak pada pekerjaan yang membutuhkan keterampilan rendah. Hal ini tentu sangat ironi karena para sarjana tersebut telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menempuh pendidikan dengan biaya yang tidak sedikit.

Para sarjana ini harus bersaing dengan ribuan bahkan jutaan pencari kerja lainnya. Mendaftar dari satu lowongan ke lowongan kerja , mengantri berjam-jam dalam event job fair, mengikuti berbagai tahapan seleksi dan terkadang terpaksa menerima pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Mereka terpaksa melakukan semua itu karena harus memenuhi kebutuhan hidup, apalagi jika mereka adalah generasi sandwich. Ilmu dan keahlian yang mereka dapat di bangku kuliah terasa sia-sia karena tidak terpakai dalam dunia kerja.

Masyarakat mulai menagih janji 19 juta lapangan pekerjaan yang dulu pernah diucapkan oleh pemimpin kita. Fenomena ini memunculkan ironi besar, negara yang sedang tumbuh ekonominya justru mengalami kesulitan menyerap tenaga terdidik.

Setidaknya ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, diantaranya pertama karena menurutnya sektor industri manufaktur di Indonesia. Dalam dua dekade terakhir, Indonesia mengalami deindustrialisasi dini. Banyak pabrik tutup atau pindah ke negara lain karena biaya produksi yang tinggi dan regulasi yang tidak mendukung. Padahal sektor industri inilah yang banyak menyerap tenaga kerja dari kalangan sarjana dalam jumlah besar terutama jurusan teknik, manajemen dan ekonomi.

Kedua, banyak perusahaan merasa bahwa lulusan baru tidak siap pakai. Kualitas lulusan tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Para lulusan ini masih lemah dalam pemahaman praktis, belum berpengalaman dalam dunia kerja. Kampus dinilai hanya fokus pada teori, sementara dunia kerja membutuhkan keterampilan yang aplikatif dan adaptif.

Ketiga, adanya ledakan lulusan dari jurusan favorit. Setiap tahun ada ribuan mahasiswa lulus, sementara pertumbuhan lapangan pekerjaan tidak sebanding. Akhirnya terjadi oversupply yang menyebabkan banyak sarjana menganggur.

Keempat, minimnya orientasi kewirausahaan sebagian besar lulusan perguruan tinggi. Mereka fokus mencari kerja, bukan menciptakan lapangan pekerjaan. Banyak yang tidak siap menjalani proses, pengennya serba instan, kerja dan dapat uang. Apalagi paradigma mereka sukses itu ketika bekerja di suatu kantor, lembaga atau institusi, bukan merintis usaha sendiri.

Semua ini disebabkan karena sistem kehidupan kita hari ini memakai sistem kapitalis yang berasaskan sekuler. Agama dipisahkan dari kehidupan, dan tolak ukur perbuatan bukan lagi halal dan haram, melainkan untung dan rugi. Sistem ini juga melahirkan materialisme dan liberalisme yaitu memandang materi adalah segalanya dan manusia bebas melakukan apa saja.

Prinsip ekonomi kapitalis adalah dengan modal minimalis mencari keuntungan semaksimal mungkin. Sistem kapitalis juga menjadikan pendidikan sebagai objek komersialisasi atau bisnis. Maka kualitas pendidikan tergadai oleh kepentingan bisnis.

Dalam sistem kapitalis, pertumbuhan ekonomi diukur dari akumulasi modal, bukan kesejahteraan riil masyarakat, individu per individu. PHK dan pengangguran dibiarkan terus terjadi. Masyarakat dibiarkan berjuang sendiri untuk bertahan hidup. Kalaupun ada bansos dan semisalnya hanya ibarat anak kecil yang menenangkan anak kecil yang menangis kelaparan dengan sebutir permen. Tidak menyelesaikan akar masalahnya.

Sistem ini pula yang membuat negara menyerahkan penciptaan lapangan kerja kepada pasar dan pihak swasta. Negara hanya bertindak sebagai regulator. Kepemilikan umum seperti SDA, tambang, energi diserahkan kepada asing dan swasta atas nama investasi. Kekayaan alam yang berlimpah tidak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Bahkan mereka menjadi korban atas keserakahan para pemilik modal yang mengeruk kekayaan alam kita. Padahal jika semua itu dikelola oleh negara, maka bisa membuka lapangan pekerjaan yang besar. Kesejahteraan rakyat dapat terwujud.

Cara Islam Mengatasi Pengangguran

Dalam Islam pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu adalah salah salah satu tolak ukur keberhasilan ekonomi. Bukan sekadar angka diatas kertas , tetapi real terpenuhinya kebutuhan dasar setiap individu. Islam mengatur bahwa kewajiban setiap individu memenuhi kebutuhan pokoknya terutama untuk seorang laki-laki (suami atau ayah). Pemenuhan ini dapat dilaksanakan ketika mereka memiliki pekerjaan. Bekerja dalam Islam bisa dalam berbagai bentuk seperti kontrak kerja, berburu, menggali hasil bumi, menghidupkan tanah mati, atau jasa. Jadi lapangan pekerjaan sangat banyak.

Islam juga mengatur terkait pengupahan bahwa upah tergantung kesepakatan antara pekerja dan pemberi kerja. Bisa juga memakai standar yang ditentukan oleh ahli untuk suatu bidang pekerjaan. Atau dari manfaat yang dirasakan oleh pemberi kerja yang pasti tidak akan saling menzalimi.

Dalam Islam ilmu itu sangat dihargai, sehingga para sarjana tentu akan mendapatkan gaji yang layak berdasarkan tingkat keilmuannya. Tidak ada istilah UMR dalam Islam, sehingga setiap orang berpotensi mendapatkan upah atau penghasilan yang bisa memenuhi kebutuhan pokok, sekunder bahkan tersiernya.

Negara Islam akan mengembangkan berbagai sektor produktif, mulai dari pertanian, hingga industri strategis yang dibutuhkan masyarakat. Negara juga memiliki sistem pendidikan yang mampu mencetak generasi faqih fiddin dan memiliki kemampuan dalam berbagai bidang keilmuan yang dibutuhkan dalam kehidupan. Sistem pendidikan akan dirancang sedemikian rupa sehingga para lulusan di berbagai jenjang pendidikan dapat berkompetisi dan berkontribusi dalam dunia kerja.

Dalam Islam segala regulasi atau administrasi akan dibuat sederhana, mudah dan murah. Sehingga dapat membantu semua pihak mengembangkan usahanya atau berkarya. Negara juga memastikan segala potensi ekonomi tidak berkumpul hanya di segelintir orang saja.
Negara Islam juga bertanggung jawab menjamin kebutuhan orang-orang yang kehilangan pekerjaan, mengatur hubungan kerja dan melindungi hak pekerja. Negara juga bisa memberikan bantuan modal tanpa riba, atau melalui skema mudharabah bagi lulusan yang ingin berwirausaha.

Lebih dari itu, Islam juga membangun paradigma berfikir manusia. Islam melarang manusia bersikap malas dan gengsi (pilih-pilih pekerjaan). Tangan yang melepuh karena keras bekerja lebih utama daripada tangan yang bersih tapi melakukan pekerjaan kotor (korupsi, menipu dan lainnya). Islam juga memotivasi manusia untuk produktif dan tidak punya mental lemah (meminta-minta). Rasulullah saw pernah menasehati seorang Ansar yang datang meminta-minta pada beliau. Beliau tidak mau memberikan uang atau bantuan secara langsung, melainkan memberikan kapak agar ia bisa mencari kayu bakar dan hasilnya bisa untuk memenuhi kebutuhannya.

Ada juga kisah Utsman bin Affan yang minta ditunjukkan pasar begitu beliau hijrah ke Madinah dan meninggal semua harta bendanya. Beliau memilih berusaha sendiri ketimbang menanti belas kasihan atau bantuan orang lain. Sejalan dengan sabda Rasulullah saw: “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya sendiri, dan sungguh Nabi Dawud ‘alaihissalam makan dari hasil usahanya sendiri.” (HR. Bukhari).

Seseorang yang bekerja untuk menafkahi dirinya atau keluarganya dalam Islam bernilai jihad dan mendapatkan pahala yang besar. Dengan semua mekanisme paradigma berpikir Islam ini, makan masalah pengangguran akan bisa teratasi. Kesejahteraan masyarakat dapat diwujudkan dan dapur masyarakat akan tetap ngebul.
Wallahua’lam bishawab

Continue Reading

Previous: Ironi Hutan Dikuasai Korporasi, Rakyat Jadi Korban

Related Stories

Ironi Hutan Dikuasai Korporasi, Rakyat Jadi Korban WhatsApp Image 2026-09-04 at 06.10.26

Ironi Hutan Dikuasai Korporasi, Rakyat Jadi Korban

03/09/2026
Ketika Gen Z Terimpit Ekonomi, Islam Hadir sebagai Solusi WhatsApp Image 2026-09-04 at 05.53.22(1)

Ketika Gen Z Terimpit Ekonomi, Islam Hadir sebagai Solusi

03/09/2026
Saat Kemiskinan Diukur dengan Desil WhatsApp Image 2026-08-27 at 10.47.44

Saat Kemiskinan Diukur dengan Desil

27/08/2026

Recent Posts

  • Satu Juta Sarjana Menganggur, Ketika Ijazah Tidak Menjamin Dapur Ngebul
  • Ironi Hutan Dikuasai Korporasi, Rakyat Jadi Korban
  • Ketika Gen Z Terimpit Ekonomi, Islam Hadir sebagai Solusi
  • Saat Kemiskinan Diukur dengan Desil
  • Hidup Gen Z Diimpit Tekanan Ekonomi, Self Reward dan Krisis Nilai Kehidupan

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Satu Juta Sarjana Menganggur, Ketika Ijazah Tidak Menjamin Dapur Ngebul WhatsApp Image 2026-09-04 at 06.25.10

Satu Juta Sarjana Menganggur, Ketika Ijazah Tidak Menjamin Dapur Ngebul

03/09/2026
Ironi Hutan Dikuasai Korporasi, Rakyat Jadi Korban WhatsApp Image 2026-09-04 at 06.10.26

Ironi Hutan Dikuasai Korporasi, Rakyat Jadi Korban

03/09/2026
Ketika Gen Z Terimpit Ekonomi, Islam Hadir sebagai Solusi WhatsApp Image 2026-09-04 at 05.53.22(1)

Ketika Gen Z Terimpit Ekonomi, Islam Hadir sebagai Solusi

03/09/2026
Saat Kemiskinan Diukur dengan Desil WhatsApp Image 2026-08-27 at 10.47.44

Saat Kemiskinan Diukur dengan Desil

27/08/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.