Oleh. Kholda Najiyah
Muslimahtimes.com–Sebuah anomali, ketika nama Yurizal Tri Chaerawan yang “bukan siapa-siapa” mendadak populer, justru setelah wafatnya. Kepergiannya membuka “kotak pandora,” tentang buruknya sistem kesehatan saat ini. Bukan hanya dia yang gugur, satu persatu para tenaga medis pun ikut berguguran. Kalau Yurizal gugur membawa nama harum, para tenaga medis gugur dengan kepala tertunduk malu, menyandang nama yang terlanjur buruk.
Bukan Keluhan Biasa
Kisah dimulai pada 22 Juli 2026. Hari itu, mengisi kejenuhan sebagai pasien BPJS, jemari Yurizal mengetikkan 12 kata yang tanpa disangka, mengguncang jagat maya. ”Delapan jam belum dapat ruangan. Gamau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS,” tulisnya di akun media sosial Threads, @yurizaltrich.
Dalam sudut pandang seorang pasien yang kelelahan fisik dan mental, sembari menahan nyeri dan ketidak-pastian, kalimat itu menjadi salah satu sarana untuk melepas beban. Bukankah sudah lumrah manusia digital hari ini, dikit-dikit curhat di media sosial?
Dalam sudut pandang netizen yang normal, apalagi yang pernah merasakan hal serupa, keluhan itu diterima dengan empati. Dianggap hal biasa. Ada yang mendoakan, memotivasi dengan ungkapan sabar dan dukungan moril lainnya.
Tetapi, rupanya 12 kata itu ditangkap lain di telinga tenaga medis yang setiap hari menghadapi pasien. Mungkin sudah terbiasa dengan lamanya antrean kamar, otak tenaga medis ini seperti menormalisasi bahwa “Pasien BPJS itu wajar nunggu kamar lama, gak usah mengeluh.”
Kalimat yang bagi pasien adalah keluhan biasa, dan bahkan tidak ditujukan secara khusus kepada nakes, ditangkap sebagai bentuk menyudutkan mereka. Merasa sudah lelah bekerja, eh, masih dijulidin pasien.
Para nakes seolah punya momentum untuk melepaskan bom kekesalan yang selama ini mereka pendam. Kalimat penuh kebencian, merendahkan dan bahkan kejam, dilontarkan tanpa ada empati sama sekali. Beberapa sangat tidak pantas diucapkan siapapun, terlebih tenaga medis. Sosok yang seharusnya menyembuhkan dan bukan melukai.
Kini, para dokter itu telah menuai apa yang dia tanam. Bukan hanya hujatan warganet dan nama baik hancur, tapi juga kehilangan pekerjaan. Namun, apakah masalah sudah selesai? Apakah itu solusi yang adil? Tentu tidak.
Kotak pandora baru saja dibuka. Terungkaplah betapa buruknya sistem kesehatan di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) ini. Ada yang lebih mengerikan dibanding sekadar konflik antara pasien vs nakes yang notabene sama-sama lelah. Bahkan sebenarnya, mereka sama-sama korban sistem kesehatan yang tidak manusiawi.
Akar Kebobrokan
“Kalau pakai BPJS dibilang gak ada kamar, begitu ganti mandiri, gak lama langsung dapat,” keluhan pasien seperti ini sudah jamak. Sudah menjadi rahasia umum, ada diskriminasi layanan di rumah sakit. Pasien BPJS dengan image sebagai warga “kelas bawah” yang bayar iurannya sedikit, cenderung tidak diprioritaskan.
Dan mereka ini jumlahnya mayoritas. Ini hanyalah salah satu kebobrokan sistem kesehatan akibat pengelolaan negara yang berbasis kapitalisme. Mari kita urai satu persatu akar masalahnya. Pertama, anggaran kesehatan dibebankan kepada masyarakat, bukan negara. Anggaran kesehatan dari APBN sangat minim, yaitu Rp247,3 triliun atau 6 persen dari APBN. Akhirnya, yang menanggung rakyat yang sakit adalah sesama rakyat. Masyarakat dipaksa iuran dengan besaran mulai Rp35 ribu hingga Rp150 ribu.
Akibatnya, fasilitas dan kecepatan pelayanan kesehatan tergantung pada kemampuan bayar pasien. Yang iurannya besar, dialah yang mendapat pelayanan prioritas. Sementara, dalam kondisi ekonomi sulit saat ini, banyak masyarakat yang berhenti membayar iuran karena tidak mampu.
Padahal, kesehatan adalah hak rakyat yang mustinya dilayani secara penuh oleh negara. Uangnya dari mana? Bisa dari pengelolaan sumber daya alam yang melimpah di negeri ini. Asal tidak dikorupsi, hasil tambang, hutan dan laut negeri ini, sangat mampu memberikan layanan kesehatan yang gratis dan layak, mengingat rakyat yang sakit rata-rata perbulan “hanya” 13 persen dari penduduk (detik).
Kedua, terjadinya “ledakan” pasien rawat inap di berbagai rumah sakit, hingga antrean kamar mencapai 8 jam atau lebih –bahkan ada yang sampai dua hari– bukan karena banyaknya rakyat yang benar-benar sakit parah. Ini tak lebih sebagai akibat dari “strategi” rumah sakit untuk mendapat kucuran dana BPJS lebih layak. Karena, negara menetapkan plafon pembiayaan yang tidak manusiawi kepada rumah sakit, termasuk nakes.
Dokter Erta Priadi Wirawijaya Sp.JP menulis dalam akun Facebook pribadinya, dari pengalaman lapangan, operasi tertentu nilainya terlalu rendah sehingga mustahil dikerjakan. Pemeriksaan tertentu seperti CT scan jantung, SPECT, Holter dan ABPM, ekokardiografi kompleks seperti dobutamine stress echo atau transesophageal echo, nilai tarif rawat jalannya sangat rendah dibandingkan tarif normalnya.
Akibatnya, rumah sakit harus berakrobat. Pasien yang sebenarnya cukup rawat jalan, kadang harus “dirawatkan” agar masuk paket pembiayaan yang lebih masuk akal. Pasien yang seharusnya cukup datang, diperiksa, lalu pulang, akhirnya tidur di rumah sakit karena sistem klaim lebih ramah kepada rawat inap daripada rawat jalan.
“Ini seperti orang ingin membeli nasi padang satu bungkus, tetapi kasir berkata, maaf, tidak bisa beli satuan, harus beli paket keluarga untuk berlima. Secara logika medis aneh, tetapi secara administrasi kadang dipaksa menjadi normal,” tulis dokter Erta.
Ketiga, minimnya gaji tenaga kesehatan, karena mengikuti sistem kapitasi dalam pembayaran layanan kesehatan oleh BOJS ke faskes. Standar tarif kapitasi tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No 3 Tahun 2023 Tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan: Puskesmas dapat Rp3.600-Rp9.000 perpeserta per bulan.
Rumah sakit Kelas D Pratama, klinik pratama, atau fasilitas kesehatan yang setara sebesar Rp9.000-Rp16.000 perpeserta perbulan. Praktik mandiri dokter atau praktik dokter layanan primer sebesar Rp8.300-Rp15.000 perpeserta perbulan. Praktik mandiri dokter gigi sebesar Rp3.000-Rp4.000 perpeserta perbulan (detikhealth).
Jadi, misal dokter praktik di Puskesmas dan dibayar Rp3.000 perpasien, lalu sehari melayani 100 pasien, maka bayarannya Rp300.000. Keempat, turunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap tenaga medis. Terbukti, banyak pasien kaya, lebih memilih berobat ke luar negeri. Hal ini terkait dengan sistem perekrutan dokter yang tidak profesional, di mana seleksinya bukan berdasar kecerdasan tapi lebih kepada keuangan. Pendidikan kedokteran dikomersialisasi.
Siapa pun paham, untuk menjadi dokter, biaya kuliahnya selangit. Bisa seharga satu unit rumah, bahkan lebih. Lahirlah manusia kapitalis yang hanya berhitung deretan materi dibanding kemanusiaan. Kita tidak menuduh semua dokter itu matre atau tidak tulus mengabdi, tetapi sistem pendidikan sendiri telah mencetak mereka menjadi “manusia mahal” yang akhirnya kesal ketika ternyata “dibayar murah.”
Kelima, sistem pendidikan yang tidak membentuk syakhsiyah Islamiyah. Kurikulum pendidikan di semua jenjang, dari dasar sampai perguruan tinggi, sangat jauh dari nilai-nilai agama. Tidak diajarkan tentang konsep aqidah yang kokoh, plus akhlak yang menjadi karakter.
Hal ini telah melahirkan manusia-manusia yang kering dari sisi ruhiyah. Termasuk hilangnya empati. Karena, empati itu adalah buah dari matangnya pola pikir dan pola sikap islami.
Rakyat Jadi Korban
Kapitalisasi sistem kesehatan bercorak sekuler kapitalistik telah menempatkan negara hanya sebagai regulator dan rakyat sebagai objek. Pasien dan nakes, pada akhirnya hanyalah korban dari buruknya pengelolaan sistem kesehatan.
Karena itu, penting adanya perubahan paradigma dari kapitalisme ke sistem jaminan kesehatan menurut Islam, di mana hak dasar kesehatan rakyat, dijamin oleh negara. Anggaran kesehatan diambil dari Baitulmal yang dananya bersumber dari pengelolaan harta milik umum alias sumber kekayaan alam dan berbagai sumber halal lainnya seperti jizyah, dll.
Negara benar-benar hadir sebagai pelayan rakyat dan bukan sekadar regulator. Rakyat tidak perlu iuran, tetapi gaji nakes juga sangat manusiawi. Jangan sampai terjadi tragedi seperti yang dialami Yurizal. Alfatihah untuk almarhum.(*)
