Oleh. Ai Hamzah
Muslimahtimes.com–Tak henti-hentinya negeri ini berduka. Belum pulihnya kejadian dahsyat banjir bandang kayu gelondongan yang meluluh lantahkan daerah Aceh dan sekitarnya, baru-baru ini pun terjadi gempa besar yang memporak-porandakan NTT (Nusa Tenggara Timur), terakhir hutan Kalimantan terbakar yang mengakibatkan kepulan asap tebal menyelimuti Kalimantan dan sekitarnya. Tidak hanya itu, yang teranyar karhulta juga terjadi di hutan Sunatera, yaitu di Riau dan jambi telah menghanguskan ratusan bahkan ribuan hektare hutan disana. Tak ayal masyarakat pun terdampak dengan hal ini dan tentu saja menambah beban kehidupan mereka. Tak kuasa mengelak bencana yang terjadi, padahal ini semua akibat ulah keserakahan tangan tangan yang tidak bertanggung jawab.
Kalimantan terkenal dengan hutan katulistiwa. Namun kini keelokan hutan itu telah berangsur mengalami perusakan. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali meningkat pada Agustus 2026. Pemberitaan pun menguak kondisi Kalimantan tidak baik-baik saja. Postingan media sosial ramai menayangkan kepulan asap yang sudah terus merangsek ke permukiman warga, bahkan berdampak pula ke negara tetangga. Padahal negeri ini sudah berkali-kali membayar mahal atas kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran besar 1997–1998, 2015, dan 2019. Dan ini memperlihatkan pola berulang ketika kekeringan bertemu dengan lanskap yang rentan. The Conversation, 24 Agustus 2026
Karhutla yang berulang-ulang tak cukup menjadi pelajaran berharga bagi negeri ini. Tak mengindahkan bagaimana penderitaan masyarakat setempat setiap kali kejadian itu harus berjibaku dengan tebalnya asap yang menyesakkan dada sehingga terasa berat untuk bernafas. Tak cukupkah menjadi pukulan berat ketika jumlah fantasis korban-korban yang berjatuhan akibat dari bencana yang satu ke bencana yang lain? Nyawa manusia kini sudah tidak berharga lagi dikalahkan dengan ambisius materialis kapitalis.
Bahkan dalam kasus ini Bareskrim Polri telah menetapkan 72 orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang ditangani di sembilan Polda. Wilayah tersebut yakni Riau, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Aceh, dan Kalimantan Utara. Para tersangka itu diduga sengaja membakar lahan untuk membuka perkebunan dengan tujuan menekan biaya operasional. Modus ini ditemukan dalam perkara pembukaan lahan dengan cara sengaja membakar. JAKARTA, KOMPAS.com, 23 Agustus 2026
Menyala negeriku bukan karena pembangunan yang dilakukan. Namun penderitaan yang terus menerus terjadi. Bencana demi bencana menambah deretan penderitaan tanpa ada penanganan yang serius. Sangat menyedihkan dan memperihatinkan keika lokasi bencana cukup hanya dijadikan pencitraan bagi orang yang haus validasi. Semua penderitaan yang terjadi, Seolah menjadi ‘komoditas’ publik yang laris untuk inikmati. Tanpa ada uluran tangan yang tulus untuk sekedar berempati. Cukup terlihat bersimpati yang diliput di berbagai media.
Telah nyata bahwa kerusakan ini adalah akibat tangan-tangan yang serakah tangan-tangan manusia yang haus akan kekuasaan. Dalam hal ini Allah Swt telah berfirman;
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Artinya:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.”
Surat Ar-Rum ayat 41
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” ( Al-Baqarah :11)
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِۙ قَالُوْٓا اِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ
Artinya:
“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi’, mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan’.”
Cukuplah firman Allah ini menjadi peringatan bagi manusia. Alam semesta yang telah Allah ciptakan untuk manusia adalah tempat kebaikan bagi mahluk Nya. Maka selayaknya alam semesta ini diperlakukan sebagaimana yang telah Allah perintahkan. Hanya aturan Allah lah yang akan menjadikan alam semesta ini penuh dengan kelimpahan Rahmat, baik dari dalam bumi dan atas nya. Karena aturan Islam ini lah yang akan menjadi rahmatan Lil aalamiin, rahmat bagi seluruh alam.
Wallahu alam
