Oleh. Umi Nisa
Muslimahtimes.com–Tiap tahun umat Islam merayakan maulid dengan pembacaan selawat, tabligh akbar bahkan pawai, namun substansinya kerap berhenti pada aspek ritual dan emosional saja. Kelahiran dan kehadiran Rasulullah Muhammad saw di dunia ini semestinya tidak hanya melahirkan peringatan yang bersifat seremonial semata. Peringatan atas kelahiran (maulid) beliau sejatinya merupakan kesyukuran kecintaan atas datangnya cahaya petunjuk yang mengandung makna kemenangan.
Mencintai Rasulullah saw adalah kewajiban. Mencintai beliau bahkan tidak terpisah dari kesempurnaan iman seorang muslim. Akan tetapi kecintaan kepada beliau tidak boleh sekadar ungkapan emosional. Ia mesti diwujudkan dengan menaati sunnah beliau, serta menjadikan ajaran beliau sebagai pedoman hidup. Ittiba’ kepada Rasulullah Saw. Adalah bukti kecintaan kepada Allah Swt.
Bahkan kecintaan kepada Allah Swt dan Rasul-nya harus lebih diutamakan di atas kecintaan kepada keluarga, harta dan seluruh kenikmatan dunia ini. Rasulullah juga bersabda “Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dia cintai dari pada ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia” (HR. al- Bukhari dan Muslim).
Kewajiban meneladani Rasulullah. Rasulullah saw adalah teladan sempurna ( uswah hasanah ) bagi setiap muslim dalam memperjuangkan tegaknya ajaran Islam. Allah Swt menegaskan: “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan (kedatangan) hari akhir serta banyak mengingat Allah” (TQS al Ahzab 33 :21)
Kepemimpinan Rasulullah saw menjadi teladan bahwa pemerintah yang baik dibangun di atas supremasi syariah Islam yang mengutamakan ketakwaan serta profesionalisme semua ini demi mewujudkan kemaslahatan masyarakat, kehidupan Islam serta terbebas dari berbagai bentuk penjajahan ide-ide kufur.
Salah satu dampak pemikiran sekularisme adalah kecendrungan memisahkan agama dari urusan politik. Akibatnya, sebagian kaum muslim hanya memandang Rasulullah saw sebagai teladan dalam aspek ibadah ritual dan akhlak pribadi beliau saja. Sebaliknya, perjuangan beliau sebagai pemimpin masyarakat, kepala negara, hakim, panglima dan negarawan kurang mendapat perhatian.
Padahal al- Qur’an memerintahkan kaum beriman untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan yang menyeluruh, bukan hanya dalam satu aspek kehidupan. Keteladanan tersebut mencakup seluruh dimensi kehidupan yang dijalani oleh beliau; sebagai hamba Allah Swt, pendidik, da’i, pemimpin, keluarga, hakim, panglima perang, pemimpin masyarakat kepala pemerintahan di Madinah.
Rasulullah saw tidak hanya mengajarkan sholat, puasa, dan akhlak mulia, beliau pun membangun masyarakat yang berkeadilan, menegakkan hukum Islam, memimpin musyawarah mengangkat pejabat yang amanah dan kompeten, membuat perjanjian dengan berbagai kelompok, serta menjaga keamanan kesejahteraan masyarakat.
Kesempurnaan meneladani Rasulullah saw. Ini hanya mungkin terwujud dengan menegakkan kembali sistem pemerintah Islam (Khilafah). Sebabnya, hanya sistem khilafah, seluruh aspek kehidupan Islam sebagaimana dipraktikkan dan dicontohkan oleh Rasulullah saw akan bisa diwujudkan secara kaffah sebagaimana yang Allah Swt perintahkan ( QS. al- Baqarah (2) : 208)
