Oleh. Ummi Zadit Zareen
Muslimahtimes.com–Kita hidup di era self-care paling canggih. Kebutuhan untuk berpenampilan terbaik mudah di dapatkan. Tapi banyak dari kita kena penyakit baru: tubuh dirawat kayak ratu, tapi jiwa dibiarin kayak pengemis. Kita takut keriput, tapi nggak takut keringnya hati karena kurangnya asupan ilmu akhirat, lebih parahnya para remaja hafal step perawatan, namun soal pelajaran sangat jauh dari yang seharusnya.
Bahkan ada yang rela habis 2 juta buat retinol, serum, sunscreen atau perawatan yang memakan waktu berjam-jam. Tapi pas adzan, kamu bilang ‘nanti 5 menit lagi’. Semua tenggelam dalam kelezatan dunia dan pandangan manusia, takut terlihat jelek, takut terlihat lebih rendah dari yang lain dalam segala hal, hingga lupa waktu teru berjalan dan kematian yang semakin dekat.
Allah ﷻ berfirman, “Engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak untuk Engkau takuti” QS. Al-Ahzab: 37)
Sungguh telah tenggelam dalam kelezatan dunia sehingga melupakan kehancuran diri. Sibuk membangun usaha ataupun kerja biar dinilai kaya, perawatan biar dinilai cantik, ikutan gym biar dibilang menarik. Seakan fokus dalam kehidupan hanya untuk itu semua. Hingga hati dan pikiran kosong kering akan adanya ilmu agama dan bekal akhirat.
Standar bahagia yang diukur dari manusia dengan dilihat dari likes konten, gaji, jabatan, validasi. Kita lupa standar bahagia dari Allah: hati yang tenang. “Alaa bidzikrillahi tathma’innul quluub”
Tenang menjalani hidup dalam ketenangan tersebut pasti adanya ilmu pemahaman agama yang terus dipupuk. Hingga tercapainya kebahagiaan ketenangan walau dalam kesulitan. Karena perbuatan berbanding lurus dengan pemahaman. Paham sesungguhnya berbeda dengan hanya mengetahui.
Jangan salah. Islam nggak nyuruh kamu miskin & kumuh. Rawat badan itu perintah. Tapi niatnya dibenerin. Ganti niatmu olahraga biar badan sehat ibadah makin kuat, bukan lagi karena biar menarik. Mencari rezeki bukan hanya biar dinilai kaya, tapi agar bisa bisa beribadah dengan harta yang bermanfaat, zakat, haji, infak, dll pakai harta dan menjadi diri sebagai pemberi bukan peminta. Dan paling penting untuk itu semua selalu bertanya “ini Allah rida nggak?” Perawatan bagian dari menjaga namun jangan sampai mengubah. Kalau niatnya bener, semua jadi pahala.
Alangkah anehnya jika kamu merasa gembira dengan ketertipuan dan larut dalam kealpaan. Kita semua pernah lalai. Aku nulis ini juga buat nampol diri sendiri. Tapi pintu taubat nggak pernah tutup selama nyawa belum di kerongkongan. Mula hari ini mari : Rawat badanmu, tapi jangan gadaikan jiwamu. Kejar duniamu, tapi jangan sampai lupa pulang.
Karena “Kubur-kubur mereka lenyap diterpa angin yang menderu”.
Jangan sampai giliran kita, amal kita juga lenyap diterpa angin karena nggak pernah disiapin.
Wallahu a’lam bishawab
