Oleh. Hany Handayani Primantara, S.P
Muslimahtimes.com–Awal tahun ajaran 2026/2027 kemarin diwarnai dengan minimnya penerimaan murid baru di Sekolah Negeri. Berbeda dengan zaman dulu, orangtua murid justru menjadikan Sekolah Negeri sebagai pilihan utama. Sekolah Negeri kala itu dianggap lebih unggul dan bergengsi dibanding sekolah swasta.
Fenomena Sekolah Negeri yang sepi peminat ini terjadi merata di berbagai wilayah Indonesia. SD Negeri 1 Gedung Meneng, Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung, Sumatra Selatan hanya menerima dua siswa baru. SDN Purwoyoso 01, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah hanya satu murid yang mendaftar sekolah.
SDN Teluk Dalam 10 di Banjarmasin Kalimantan Selatan memiliki satu murid. SD Negeri 3 Bukit di Desa Bukit, Kecamatan Karangasem, Bali hanya ada dua siswa. Kendati demikian tenaga pendidik tetap semangat mengajar dan membimbing mereka. Sebagai bentuk tanggung jawab seorang guru guna memberikan pendidikan terbaik bagi setiap anak yang sudah mendaftar sekolah.
Asas Pendidikan Sekuler
Sebagian pengamat menyatakan banyak faktor yang membuat sekolah negeri kurang peminat. Menariknya, salah satu faktor yang dominan diantaranya adalah pengaruh dari perubahan struktur demografi penduduk. Penduduk usia produktif kian sedikit seiring dengan program pemerintah yang menjadikan jumlah kelahiran turun. Biaya hidup yang tinggi, kesejahteraan hidup sulit diraih membuat generasi muda enggan punya anak. Begitu pula urbanisasi massal yang tak terelakkan akibat kesenjangan pendapatan desa dan kota berpengaruh pada perpindahan domisili penduduk. Walhasil banyak dari sekolah yang lokasinya berada di pedalaman kian merosot jumlah siswanya.
Selain itu kecenderungan orangtua yang lebih memilih sekolah terpadu dengan tambahan ajaran agama lebih diminati dibanding sekolah negeri. Hal ini terjadi akibat rasa kekhawatiran yang cukup tinggi terhadap kerusakan generasi saat ini. Kerusakan yang diakibatkan oleh penerapan sistem sekuler telah mengakibatkan berbagai kerusakan moral serta kriminal di kalangan anak sekolah. Kerusakan generasi tersebut mendorong orangtua untuk mencari sekolah yang dianggap mampu memberikan jaminan keamanan dan rasa tenang ketika anak belajar seperti sekolah swasta berbasis agama.
Perubahan kurikulum berulang di bidang pendidikan pun semakin mengurangi kepercayaan masyarakat. Seringkali perubahan tersebut justru tidak memberikan dampak positif signifikan dibanding kerusakan yang timbul akibat sistem sekuler. Akhirnya sekolah negeri yang selalu menjadi role model bagi pemerintah semakin kurang diminati orangtua murid. Mereka butuh angin segar berupa perubahan baru yang datangnya bukan dari pihak lain, berupa inisiatif swasta yang menawarkan alternatif pendidikan berbasis agama.
Kesadaran orangtua murid akan kerusakan generasi ini pada dasarnya perlu ditingkatkan dari level ingin menyelamatkan anaknya dari bahaya kerusakan, menjadi kesadaran politik mengenai solusi mendasar masalah pendidikan. Memberikan pemahaman bahwa kerusakan yang terjadi saat ini bukan sekadar kesalahan kasuistik yang bersifat temporal melainkan kerusakan sistemik dengan pola berulang. Kerusakan yang terjadi diakibatkan oleh penerapan sistem liberal berbasis sekuler kapitalistik.
Asas Pendidikan dalam Islam
Islam memandang pendidikan sebagai bagian dari kebutuhan dasar umat yang wajib dipenuhi oleh negara. Pendidikan merupakan pilar penting dalam membangun peradaban bangsa. Oleh karenanya negara bertanggung jawab penuh untuk menjamin ketersediaan dan pemerataan pendidikan yang berkualitas, gratis serta mudah dijangkau oleh seluruh umat.
Sistem pendidikan Islam dalam institusi khilafah menggunakan kurikulum berbasis akidah Islam. Harapannya, kelak anak didik bukan hanya mampu mewujudkan output pendidikan yang mahir dalam IPTEK dan teknologi, namun juga memiliki kepribadian Islam yang kuat sebagai kontrol kehidupannya. Semua ini mampu diwujudkan ketika negara bisa menyediakan SDM, baik guru sebagai pendidik, infrastruktur, sarana dan prasarana sebagai fasilitas cuma-cuma untuk mendukung pendidikan yang berkualitas.
Negara berbasis Islam yang menerapkan kurikulum pendidikan berbasis akidah ini tidak akan mampu terwujud tanpa hadirnya kesadaran politik yang dimiliki masyarakatnya. Maka dakwah secara politik perlu diupayakan agar terbangun kesadaran politik di tengah masyarakat. Sehingga dapat menggerakkan mereka untuk merubah sistem sekuler liberal menjadi sistem Islam yang diterapkan dalam sebuah institusi khilafah.
Upaya dakwah secara politik ini pun tidak lepas dari perjuangan para pengemban dakwah ideologis. Melalui pemikiran Islam cemerlang yang dibawanya, mereka mampu membongkar makar jahat sistem sekuler serta memberi pemahaman terkait urgensitas terwujudnya sebuah institusi Islam saat ini. Sebab untuk mengganti asas pendidikan sekuler dengan akidah Islam hanya bisa dilakukan ketika negara menerapkan sistem Islam sebagai landasan negaranya.
Wallahu alam bishowab
