Oleh. Widy Yanti, S.Pd
Muslimahtimes.com–Sejak awal bulan Agustus, jalanan telah di penuhi hiasan nuansa merah putih. Menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia. Untuk semakin memeriahkannya, berbagai lomba diadakan dengan peserta sesuai kegiatannya. Tidak hanya itu, karnaval dan panggung hiburan juga marak diadakan di tengah masyarakat. Di malam tanggal 17 Agustus lebih banyak diramaikan dengan acara tasyakuran dengan makan bersama sebagai bentuk syukur atas kemerdekaan negeri ini.
Perjalanan Indonesia setelah 81 tahun kemerdekaannya masih terlihat beragam persoalan yang terjadi. Sangat kompleks, dari masalah kemiskinan, kesenjangan ekonomi, pengangguran, korupsi, kerusakan lingkungan maupun pendidikan. Penentuan kebijakannya kelihatan masih belum bisa memperlihatkan ”kemandirian”. Anggapan negara kita telah merdeka terbebas dari penjajahan dalam bentuk pemerintahan kolonial memang telah berakhir. Indonesia memiliki wilayah, pemerintahan, bendera, lagu kebangsaan, serta kedaulatan sebagai sebuah negara. Tetapi apakah kita benar-benar telah merasa bebas dari penindasan, ketergantungan dan penindasan asing dan aseng?
Kekayaan bumi pertiwi yang melimpah luasnya wilayah hutan, hasil tambang, minyak, gas, kekayaan laut dan sumber daya alam lainnya merupakan potensi besar yang bisa dimanfaatkan untuk upaya kesejahteraan rakyat. Namun fakta ditengah tata kehidupan kapitalisme saat ini membuktikan pengelolaannya diberikan kepada pihak tertentu yang menguntungkan segelintir orang saja. Negara tidak mampu membuat kebijakan untuk pendistribusian harta kekayaan negara secara adil dan merata. Karena kecenderungan pemerintah kepada para pemilik modal dalam tarik ulur pembuatan kebijakan nasional. Sungguh ironis.
Di tengah arus globalisasi, masyarakat Indonesia diserang dengan budaya konsumtif, individualisme, hedonisme, liberalisme dan nilai-nilai barat yang mempengaruhi kehidupan bermasyarakat. Sedikit banyak ini berpengaruh pada cara pandang individu terhadap kehidupan ini. Memikirkan cara untuk menikmati gemerlap dunia ini dengan cara semu, yaitu kebahagiaan yang bersifat duniawi. Pencapaian materi sebanyak-banyaknya tanpa menyandarkan pada standar halal haram tapi kepuasan batinnya.
Sebagai seorang Muslim menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah. Karena itu, tunduk kepada Allah bukanlah bentuk keterjajahan, melainkan justru puncak kemerdekaan manusia. Dalam pandangan Islam, memaknai kemerdekaan adalah untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah SWT.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah. Karena itu, kemerdekaan yang hakiki bukan sekadar bebas melakukan apa pun yang diinginkan manusia. Kebebasan manusia tetap berada dalam aturan Allah sebagai Sang Pencipta, bukan tunduk kepada para pemilik modal (oligarki).
Kemerdekaan terwujud dengan pengaturan secara sistemik mengenai politik pemerintahan, ekonomi, sosil budaya, pendidikan, kesehatan, pertahanan / keamanan danhubungan luar negeri secara independen. Semua pengaturan ini ditujukan untuk mengurusi kepentingan rakyat. Sumber daya alam akan di kelola oleh negara untuk kemaslahatan rakyatnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.”
Hadis ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar kedudukan atau kekuasaan, melainkan amanah untuk mengurus urusan masyarakat. Dan ini hanya terwujud dalam naungan negara Islam. Imam yang dimaksud disini adalah pemimpin institusi Daulah Khilafah Islamiyah.
Untuk mewujudkan kemerdekaan bagi seorang Muslim harus mengupayakan perubahan secara sistemik, bukan parsial apalagi tambal sulam. Tidak cukup pergantian pemimpin, namun harus dilihat dari persoalan mendasarnya. Yaitu paradigma berpikir tata kehidupan yang melandaskan aturan pada Sang Pencipta sebagaimana dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW dalam Negara Khilafah Islam. Disana akan diberlakukan syariat Allah secara keseluruhan.
Mari memaknai kemerdekaan bukan sekadar ritual perayaan tahunan, tetapi refleksi diri untuk memperjuangkan kehidupan ini untuk taat secara keseluruhan terhadap perintah Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah).”
(QS. Al-Baqarah: 208)
