Oleh. Ita Husnawati
Muslimahtimes.com–Pada tahun ajaran baru 2026/2027, beberapa SD Negeri sepi pendaftar dan mengalami krisis murid baru. Sedangkan orang tua lebih banyak yang memilih SD Swasta yang biasanya berbasis agama. Mengapa ini terjadi?
Fakta Minimnya Murid Baru di Beberapa SD Negeri
Sejumlah SDN di bebapa daerah minim murid baru, bahkan ada yang tidak mendapatkan murid sama sekali. Diantaranya yang terjadi pada sekolah-sekolah di Kabupaten Ponorogo, yakni SDN Nailan, SDN Setono, SDN 3 Pomahan dan SDN 4 Tempuran. (detikjatim, 15/07/2026).
Peneliti Senior Lembaga Demogafi FEB UI Turro Wongkaren menjelaskan bahwa rendahnya daya serap SD menunjukkan penurunan penduduk berusia muda. Menurutnya, sejak tahun 2010-an, jumlah anak sudah mulai berkurang, jika pun ada peningkatan, jumlahnya sangat sedikit. Diantara faktanya adalah yang ada di Provinsi DIY, sejak tahun 2023 jumlah anak-anak berusia 0-4 tahun mengalami penurunan. Ia juga memaparkan adanya urbanisasi yang umumnya dilakukan oleh penduduk usia produktif sekaligus pasangan usia subur, sehingga penurunan jumlah penduduk usia muda bisa jadi akan terus berlanjut. (kompas.com, 15/07/2026).
Menyikapi hal ini, pemerintah berencana melakukan regrouping beberapa SDN menjadi satu, tetapi hal ini bisa menimbulkan masalah baru, karena bagi siswa yang awalnya sekolahnya dekat rumah, ketika digabung dengan sekolah lain, jarak tempuhnya menjadi jauh. Jadi, solusi ini belum bisa menuntaskan permasalahan pendidikan yang ada.
Perubahan struktur demografi terjadi karena program pemerintah yang menjadikan jumlah kelahiran turun seperti program keluarga berencana yang mencukupkan hanya sampai maksimal 2 anak dalam satu keluarga. Kemudian, naiknya aturan usia menikah, padahal anak-anak saat ini usia pubertasnya lebih cepat. Artinya peluang untuk memiliki banyak anak di masa subur, tidak dioptimalkan, padahal Rasulullah saw. sangat senang jika jumlah umatnya banyak. Beliau juga menyarankan ketika akan menikah, agar memilih wanita yang subur.
Secara ekonomi, kebijakan ekonomi kapitalistik membuat biaya hidup tinggi dan kesejahteraan sulit diraih bagi sebagian pasangan, sehingga pasangan muda memilih menunda punya anak agar lebih leluasa dalam berkarir, bahkan ada yang memilih Child Free dengan salah satu alasannya adalah faktor finansial yang menilai biaya hidup, perawatan dan pendidikan anak sangat tinggi. Adapun terkait urbanisasi, hal itu dipicu oleh adanya kesenjangan pendapatan antara di desa dan di kota, sehingga pasangan muda lebih banyak yang memilih hidup di perkotaan dengan pendapatan yang lebih besar dan peluang kerja lebih banyak. Dengan demikian ketersediaan anak-anak usia SD di daerah menjadi berkurang.
Di sisi lain, telah terjadi pergeseran orientasi pendidikan pada masyarakat. Mereka lebih memilih sekolah yang mengajarkan pendidikan agama lebih banyak, berupa ibadah, membaca Al-Qur’an, bahkan Tahfidz juga pembinaan akhlak. Sikap orangtua tersebut menunjukkan kekhawatiran besar terhadap kerusakan generasi hari ini akibat sistem sekuler liberal yang memproduksi berbagai kerusakan moral hingga tindak kriminal di kalangan anak sekolah.
Hal ini bisa kita cermati dari berbagai media yang menyajikan fakta kehancuran generasi dalam berbagai aspek, dari sisi pergaulan, adab terhadap orang tua dan penggunaan obat-obatan terlarang, keterlibatan judol hingga pinjol. Misalnya adanya anak-anak yang telah terpapar pornografi akibat kecanduan gadget, kasus pembulian, bunuh diri atau membunuh orang tua dan sebagainya. Hal tersebut sangat kontradiktif dengan tujuan pendidikan. Kurikulum yang sudah berulangkali diganti, terbukti belum mampu membendung kerusakan yang ditimbulkan oleh sistem sekuler liberal ini, karena masalah utamanya bukan hanya pada kurikulum, tetapi lebih mendasar.
Solusi Islam
Islam memandang pendidikan adalah kebutuhan dasar dan pilar penting peradaban sehingga negara bertanggung jawab sepenuhnya untuk menjamin ketersediaan dan pemerataan pendidikan berkualitas dan gratis bagi seluruh rakyat. Sistem pendidikan Islam dalam institusi Khilafah menggunakan kurikulum berbasis akidah Islam untuk mewujudkan output pendidikan yang berkepribadian Islam dan mahir dalam iptek. Tsaqafah Islam menjadi materi pokok yang wajib dipelajari oleh semua peserta didik disamping juga sains dan teknologi. Negara menyediakan SDM guru, infrastruktur, sarana dan prasarana untuk mendukung pendidikan berkualitas.
Rasulullah saw. yang juga sebagai Kepala Negara telah mencontohkan penyediaan SDM guru. Beliau memberikan kebijakan bagi tahanan kafir Quraisy saat itu yang ingin bebas agar mengajarkan baca tulis anak-anak muslim sebagai tebusan pembebasan mereka. Jadi Rasulullah saw. yang harusnya mendapatkan Ghanimah, lebih memilih menyediakan fasilitas pendidikan bagi rakyatnya secara gratis. Dari contoh ini, kita memahami bahwa pendidikan berkualitas wajib dijamin ketersediaaanya oleh negara dan bisa diakses oleh rakyat secara gratis.
Kesadaran masyarakat yang sudah muncul harus dinaikkan levelnya, dari yang hanya ingin menyelamatkan anaknya dari bahaya kerusakan menjadi kesadaran yang berpijak pada pemahmann bahwa kerusakan yang terjadi adalah kerusakan sistemik akibat penerapan sistem sekuler liberal yang hanya bisa diselesaikan dengan perubahan sistem. Dakwah untuk membangun kesadaran masyarakat sangat penting, hingga dapat menggerakkan masyarakat agar merubah sistem sekuler liberal menjadi sistem Islam yang akan menjadi solusi bagi seluruh permasalahan umat, termasik aspek pendidikan yang memang krusial, karena dari pendidikan lah, karakter generasi dibangun. Wallahu A’lam.[]
