Oleh. Kholda Najiyah
Muslimahtimes.com–Brigadir Esco tewas dianiaya istrinya, Brigadir Rizka secara brutal. Motif, terdesak utang bunga pegadaian. Korban yang mendapat uang renumerasi Rp10 juta, tidak segera memberikan ke istri yang minta Rp2,7 juta untuk menutup utang yang jatuh tempo itu. Rupanya, tanggapan suami yang dingin, ditambah tekanan utang, memicu murka istri.
Seorang polisi perempuan, ibu rumah tangga dan istri yang seharusnya lembut dan mengayomi, ternyata kehilangan kendali. Dan, profil ibu rumah tangga seperti itu tidak sedikit. Rizka hanyalah satu contoh, betapa kejamnya perempuan saat ‘iblis’ di dalam dirinya bangkit. Ketika ada pemicunya, emosi yang tidak terkendali, bisa sangat membahayakan orang-orang di sekitarnya. Padahal masalahnya mudah diselesaikan, karena hanya perkara komunikasi. Tinggal bersabar menunggu suami menyerahkan uangnya, urusan utang pun bisa dibereskan.
Begitulah, ternyata mengelola emosi memang tidak semudah menginjak rem. Banyak istri yang tak mampu memetakan konflik di saat mengalami krisis dalam hubungan. Tidak bisa mengenali, mana masalah sepele yang tidak perlu dipersoalkan, dan mana yang penting dibicarakan. Mana masalah yang mendesak, mana yang bisa ditunda penyelesaiannya.
Akhirnya menyelesaikan masalah dengan cara yang tak hanya salah, tapi juga fatal akibatnya. Bukan hanya menghancurkan diri dan rumah tangga, juga konsekuensi hukum yang berat. Tak heran bila kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga seperti kejadian di atas, terulang terus dalam ikatan pernikahan. Tentu saja, apapun alasannya, tindakan istri tidak bisa dibenarkan. Apa pun masalahnya, jangan sampai menyelesaikannya dengan tindakan kejam yang melanggar syariat.
Inilah pentingnya seorang istri memiliki kemampuan mengelola emosi dan memetakan konflik. Terlebih, para istri ini hidup di dalam peradaban yang penuh tekanan. Kadang tidak ada tempat berbagi, di saat suami tidak begitu peduli. Istri harus belajar tentang bagaimana cara menangani amarah (anger management).
Berikut panduan praktis untuk membantu kita agar tetap tenang di tengah badai rumah tangga:
- Validasi Perasaan
Langkah pertama dalam mengelola emosi adalah mengakuinya. Kalau memang sedang marah, sedih, cemas, atau bingung, terima dengan tenang. Kalau sudah tenang, langkah berikutnya memikirkan lagi masalah sebenarnya apa yang memicu emosi itu. Apa pemicu marahnya, apakah hal yang pantas kita marah. Apa pemicu rasa sedih, apakah tidak bisa diubah menjadi senang saja. Pikirkan dengan hati tenang. - Gunakan Teknik “Pause” 5 Detik
Saat amarah mulai naik ke ubun-ubun, jangan langsung bereaksi. Berikan jeda antara stimulus (rangsangan) dan respons (tindakan). Tarik napas dalam. Diam sejenak. Ubah posisi. Tenangkan diri. Jika aman, pergilah ke kamar mandi atau ruangan lain selama 1-2 menit untuk menenangkan diri. Berwudhu, bercermin dan lihatlah sampai diri tenang. - Turunkan Standar
Sering kali stres muncul karena kita memaksakan standar kesempurnaan. Seperti kasus di atas, apakah benar bayar utang harus pagi itu juga? Tidak bisakah menunggu malam saat suami sudah pulang dan bisa berbicara dengan hati tenang? Jadi, jangan terlalu terbawa emosi. Coba petakan mana yang prioritas, mana yang bisa ditunda. Lalu, jika kita stres karena kelelahan, jangan ragu meminta bantuan suami atau anak yang sudah besar untuk tugas-tugas kecil. Anda tidak harus menjadi super hero di rumah. - Jadwalkan “Micro-Self-Care”
Luangkan waktu sejenak untuk peduli pada kebutuhan diri akan ketenangan batin.
Olah raga ringan 30 menit. Menonton konten bermanfaat sambil melipat baju. Menulis unek-unek di catatan harian. Mengurus benda-benda kenangan di rumah. Hal-hal kecil yang menyenangkan tanpa gangguan. - Komunikasi yang Jelas, Bukan Kode
Jangan berharap pasangan atau anak bisa membaca pikiran Anda. Kelelahan yang dipendam akan meledak menjadi kemarahan. Gunakan kalimat “I Message”: Daripada bilang “Kamu nggak pernah bantu!”, coba katakan “Aku merasa sangat lelah hari ini, boleh tolong bantu cuci piring?”
Demikianlah, dalam diri setiap manusia ada gharizah baqo atau naluri mempertahankan diri. Salah satunya dalam bentuk amarah yang bisa meledak dan membahayakan jika dituruti. Kelola dan tundukkan agar tidak menjadi malapetaka yang tidak kita inginkan.(*)
