Meitya Rahma, S.Pd
#MuslimahTimes — Pasca di sahkannya RUU Cipta kerja banyak bermunculan tagar di jagad dunia Twitter. Beberapa diantaranya tagar #MosiTidakPercaya Dan #SundaEmpire. RUU ini sejak diwacanakan sudah menjadi pro kontra dari banyak pihak. Kini setelah ketok palu oleh DPR sikap kontra masyarakat pun semakin menjadi. Hal ini dapat dilihat dari medsos terutama di Twitter dengan munculnya berbagai tagar yang mengindikasikan ketidak percayaan kepada DPR dan pemerintah. Makin terlihat jelas pada siapa penguasa berpihak. DPR sebagai lembaga penyalur aspirasi rakyat pun tak bisa melakukan fungsinya. Suara akar rumput menyuarakan menolak pun tak digubris. Jadi DPR itu wakilnya siapa? Maka wajar mosi tidak percaya masyarakat terhadap DPR semakin menjadi.
Selain tagar #MosiTidakPercaya, muncul juga tagar #SundaEmpire. Disahkannya RUU Cipta Kerja menjadi UU Cipta Kerja kini Sunda Empire menjadi trending topic di jagad Twitter. Gara gara Omnibus Law, netizen ingin gabung Sunda Empire dan jadi trending topic di linimasa Twitter, Selasa (CNN.com,6/10/20). Kata pencarian ‘Sunda Empire’ muncul di tengah hastag yang berkaitan dengan Omnibus Law dan DPR. Netizen dengan nada satire dan guyon ingin pindah negara ke Sunda empire karena kecewa dengan UU Cilaka ini.
Kerinduan Umat Terhadap Perubahan
Memang tidak ada kaitan antara Sunda Empire dan UU Ciptakerja yang telah disahkan. Namun rakyat terlanjur kecewa dengan apa yang sudah dilakukan oleh DPR ini. Berkali kali DPR menghianati rakyat, berulang kali UU yang disahkan tidak pernah berpihak pada rakyat. Selalu saja mereka para kapitalis asing ataupun aseng. Wajarlah kalau rakyat sudah muak dengan negri dagelan ini. Mereka membuat guyonan bernada satire ingin pindah ke Sunda empire. Guyonan ini sebenarnya bentuk kerinduan rakyat kepada sistim yang lebih baik dari sistim kapitalis sekuler yang diterapkan di negri ini. Mereka sudah lelah dengan sistim Demokrasi di negara kita. Lalu mau pindah ke sistim seperti apa, negara seperti apa? mereka bingung.
Kenapa tidak menyuarakan sistim khilafah saja untuk megobati kekecewaan mereka. Padahal sistim khilafah bisa benar benar menjadi obat bagi permasalahan negri ini. Mereka berpikir, ketika menyuarakan khilafah terlalu berbahaya. Sudah menjadi berita diberbagai media bahwa ide khilafah mendapatkan pertentangan. Islamophobhia yang digencarkan oleh Kementriann Agama dengan mewacanakan “good looking” telah sedikit banyak berpengaruh di masyarakat. Kementrian yang harusnya memberikan support untuk dakwah Islam bukan menjegal. Jadilah masyarakat fobia menyuarakan Khilafah, akhirnya yang keluar adalah guyonan satire dengan sundaEmpire.
Umat Butuh Solusi Jitu
Pasca disyahkan UU Cilaka ini gelombang protes pun semakin banyak. Tidak hanya kalangan buruh namun juga mahasiswa. Gerakan massa ditengah pandemi ini menjadi sorotan politikus demokrat. Gerakan massa untuk menolak Undang-Undang Cipta dinilai politikus Partai Demokrat Andi Arief mengejutkan karena tetap dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19. Ternyata rakyat mempertimbangkan mengorbankan dirinya dari bahaya Covid, ketimbang hak-haknya kemudian akan terganggu,” kata Andi Arief (suara.com, 7/10/20). Rachland Nashidik, yang juga politisi Democrat mengatakan Presiden Joko Widodo mesti bertanggungjawab jika terjadi apa-apa dengan buruh dan mahasiswa jika mereka tetap turun ke jalan di tengah pandemil. Buruh dan mahasiswa tidak akan mengambil resiko demonstrasi di tengah pandemi seandainya UU Cipta Kerja tak disetujui pemerintah (suara.com,7/10/20.).
Semakin terlihat jelas bagaimana kejamnya penguasa kita. Rakyat kecil selalu menjadi korban. Selalu dimarginalkan, pengusaha, investor asing, para kapitalis yang selalu mendapatkan keuntungan. Guyonan satire yang menginginkan pindah ke Sunda empire membuktikan jengahnya masyarakat kepada penguasa. Andai mereka tahu bahwa solusi yang hakiki adalah kembali Kepada Syriat Allah. Dengan syariat Allah, segala problematika masyarakat akan terselesaikan, karena syariat Islam bersumber dari Sang Maha Pengatur Allah SWT. Maka sebenarnya, tinggal sedikit lagi untuk mewujudkan penerapan syariah dalam bingkai khilafah. Jika rakyat sudah terdzolimi oleh sistim kapitalis seperti saat ini. Maka untuk memahamkan bahwa satu satunya solusi kembali pada Islam tentunya hal yang logis bisa diterima oleh akal.
