Oleh. Dwi Lis
Muslimahtimes.com–Pemerintah melalui Kementerian Sains dan Teknologi berencana akan menutup program studi (prodi) yang dinilai tidak lagi relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Langkah ini diambil karena tingginya ketimpangan antara jumlah lulusan perguruan tinggi dan ketersediaan lapangan kerja.
Melalui Sekjen Kemendiktisantek yaitu Badri Munir Sukoco, ia menyatakan bahwa pemerintah akan menyusun kembali prodi-prodi yang lebih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Prodi yang tidak mampu menjawab kebutuhan di masa depan akan ditinjau ulang bahkan akan ditutup. (kompas.com, 25/4/2026)
Menanggapi wacana tersebut, Rektor dari Universitas Muhammadiyah Malang yaitu Prof.Dr.Nazarudin Malik dan Rektor dari Unisma yaitu Prof.Drs.H.Junaidi, Ph.D kompak menolak serta mengirim pesan kuat yang menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus membentuk keterampilan hidup dan berkarakter bukan sekedar tempat mencetak tenaga kerja. Penutupan prodi bukan sekedar urusan administratif, melainkan urusan masa depan peradaban. Untuk itu, selama masih ada manusia, maka pendidikan itu selalu diperlukan, (malang.suara.com, 2/5/2026).
Jika dicermati lebih mendalam, terkait wacana pemerintah akan penutupan prodi yang tidak relevan menunjukkan pendidikan hari ini mengalami disorientasi. Pendidikan yang seharusnya melahirkan manusia kritis, berkarakter, bertanggung jawab serta melahirkan generasi yang terampil, namun pendidikan hari ini hanya sekedar menjadi alat industri untuk memenuhi permintaan pasar belaka. Alhasil, pendidikan hari ini berorientasi mencetak tenaga kerja, gelar yang membanggakan namun akhlak tertinggal.
Adapun menyikapi pernyataan Sekjen Kemendiktisantek soal banyaknya pengangguran lulusan perguruan tinggi, hal ini menunjukkan bahwa negara gagal menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyat. Sedangkan terkait sedikitnya lapangan pekerjaan menunjukkan banyaknya kesalahan multidimensi yang dilakukan negara seperti kesalahan merancang kurikulum pendidikan, penyerahan pengelolaan SDA kepada asing ataupun swasta, hingga menganggap hubungan penguasa dengan rakyat seperti pedagang dan pembeli.
Inilah wajah asli negara yang menerapkan sistem kapitalisme sekuler yaitu sistem yang memandang segala sesuatu diukur dengan materi. Dalam sistem ini layanan publik pun dikapitalisasi termasuk dalam bidang pendidikan. Negara hanya berfungsi sebagai regulator dan fasilitator saja. Segala sesuatu yang dapat dijadikan materi dan juga menguntungkan maka akan dilakukan, meskipun harus mengorbankan masa depan generasi bangsa. Seperti tolak ukur prodi hari ini, mana yang kelak bisa mendatangkan keuntungan materi maka akan banyak peminatnya. Sebaliknya prodi yang tidak mampu menjawab tantangan masa depan maka akan sepi peminatnya.
Dalam pandangan Islam, pendidikan bukan sekedar mencetak tenaga kerja, akan tetapi membentuk manusia yang mempunyai visi misi hidup mencari berkah. Untuk itu, kurikulum pendidikan berdasarkan akidah Islam sehingga melahirkan generasi yang tidak hanya ahli dalam bidang ilmu sains dan teknologi tetapi juga menjadikan generasi memiliki pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syariat Islam. Menjadikan generasi patuh dan tunduk sepenuhnya akan seluruh aturan Allah Swt.
Negara dalam Islam sepenuhnya juga akan memenuhi segala kebutuhan pokok rakyat baik sandang, pangan, papan, kesehatan dan juga termasuk pendidikan. Negara akan menyediakan sarana dan prasarana pendidikan, menyediakan tenaga pengajar yang berkualitas serta akan membiayai ketika mengadakan riset ataupun penelitian.
Semua ini akan terwujud ketika syariat Islam diterapkan secara kaffah oleh negara di bawah naungan khilafah. Sejarah mencatat bahwa kurikulum pendidikan di dalam khilafah mampu melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar seperti Ibnu Sina, Al Khawarizmi dan masih banyak lagi. Mereka tidak sekedar ahli dalam ilmu sains dan teknologi tetapi juga memiliki ketaatan yang luar biasa kepada Allah Swt. Dalam khilafah, pendidikan dan fasilitas layanan publik juga dapat dinikmati seluruh rakyat tanpa biaya karena ditopang oleh sistem ekonomi yang berdasarkan syariat Islam. Allahu Alam Bishowab.
