Oleh. Naila Zayyan
Muslimahtimes.com–Dunia hari ini sedang berada dalam pusaran krisis multidimensi. Konflik geopolitik terus berkecamuk, ketimpangan ekonomi semakin menganga, bencana ekologis datang silih berganti, dan penderitaan manusia semakin meluas. Ironisnya, semua itu terjadi di tengah kemajuan teknologi dan kemegahan peradaban modern. Namun, kemajuan materi ternyata tidak sejalan dengan kemajuan moral dan keadilan. Dunia justru dikendalikan oleh segelintir kekuatan besar yang mengatur arah peradaban berdasarkan kepentingan ekonomi dan politik semata. Di balik semua itu, berdiri tegak ideologi kapitalisme sekuler yang dikawal oleh kekuatan global, khususnya Amerika Serikat (AS).
Kepemimpinan global hari ini terbukti gagal menghadirkan keadilan dan kesejahteraan. Dunia membutuhkan kepemimpinan alternatif yang mampu membawa rahmat bagi seluruh umat manusia. Dan kepemimpinan itu hanya bisa lahir dari Islam kaffah.
Kapitalisme Global dan Arogansi Kekuasaan
Kapitalisme global telah menjelma menjadi sistem yang menindas bangsa-bangsa lemah. Negara-negara berkembang, termasuk banyak negeri Muslim, diposisikan sebagai pasar, objek eksploitasi, dan sumber bahan mentah bagi industri negara-negara besar.
Kritik global terhadap kapitalisme menyebutkan bahwa sistem ini melahirkan ketimpangan sosial, eksploitasi manusia dan alam, serta kerusakan lingkungan karena berorientasi pada akumulasi keuntungan tanpa batas (Wikipedia – Criticism of Capitalism, 5 Januari 2026).
Kapitalisme juga mendorong sekularisasi kehidupan umat Islam. Agama dipinggirkan dari ruang publik, sementara sistem hidup Islam digantikan dengan nilai-nilai liberal dan materialistik. Pendidikan, ekonomi, budaya, dan politik dipaksa mengikuti standar global Barat yang jauh dari nilai wahyu.
Di sisi lain, keserakahan kapitalisme global telah memicu bencana ekologis yang semakin parah. Hutan dibabat, laut tercemar, tambang dieksploitasi tanpa batas, dan keseimbangan alam dirusak demi kepentingan industri dan korporasi.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menegaskan bahwa bencana ekologis hari ini bukanlah bencana alam semata, melainkan akibat langsung dari sistem ekonomi kapitalistik yang eksploitatif dan rakus terhadap sumber daya alam (WALHI, 12 September 2024).
Krisis iklim global juga diakui sebagai dampak dari sistem ekonomi kapitalisme yang memprioritaskan pertumbuhan tanpa batas dan mengabaikan keseimbangan ekologi (Earth.org, 17 Februari 2024).
Sementara itu, Amerika Serikat sebagai motor utama kapitalisme global semakin menunjukkan arogansinya di panggung dunia. Pada 3 Januari 2026, AS melancarkan operasi militer besar-besaran ke Venezuela dalam operasi yang dinamakan Operation Absolute Resolve.
Pasukan AS menyerbu Caracas, menangkap Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, lalu menerbangkan mereka ke Amerika Serikat. Operasi ini melibatkan serangan udara dan darat terhadap berbagai fasilitas strategis Venezuela (Wikipedia – 2026 United States Intervention in Venezuela, 3 Januari 2026).
Media melaporkan bahwa operasi tersebut menewaskan sedikitnya 56 tentara Venezuela dan Kuba dalam kontak senjata yang terjadi selama operasi berlangsung (Detik.com, 4 Januari 2026).
Tindakan ini menuai kecaman luas dari komunitas internasional karena dinilai melanggar hukum internasional dan mencederai kedaulatan negara (Wikipedia – International Reactions to US Intervention in Venezuela, 4 Januari 2026).
Kapitalisme Sekuler Merusak Sendi Kehidupan
Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa kapitalisme sekuler telah merusak sendi-sendi kehidupan manusia, khususnya umat Islam. Dalam aspek akidah, kapitalisme memisahkan agama dari kehidupan. Islam direduksi menjadi urusan ibadah ritual, sementara urusan ekonomi, politik, dan sosial diatur oleh hukum pasar dan kepentingan elite.
Dalam aspek muamalah dan ekonomi, kapitalisme melahirkan sistem ribawi, spekulasi, monopoli, dan eksploitasi tenaga kerja. Kekayaan berputar di kalangan orang-orang kaya saja, sementara mayoritas manusia hidup dalam kemiskinan struktural. Dalam aspek akhlak, kapitalisme menumbuhkan budaya hedonisme, konsumerisme, dan individualisme. Manusia diukur dari harta dan jabatan, bukan ketakwaan.
Dalam aspek sosial dan budaya, kapitalisme menyebarkan budaya liberal yang merusak moral dan mengikis identitas keislaman. Dalam aspek pendidikan, kapitalisme menjadikan ilmu sebagai komoditas, bukan sarana pembentukan generasi beriman dan berakhlak.
Lebih dari itu, kapitalisme global telah menjadikan kekuatan besar seperti AS merasa berhak mengintervensi negara lain demi kepentingan geopolitik dan ekonomi. Hukum internasional diabaikan, kedaulatan diinjak-injak, dan nyawa manusia menjadi korban.
Sistem kapitalisme inilah yang juga menjadi akar krisis ekologis dunia. Eksploitasi tanpa batas telah melahirkan perubahan iklim, deforestasi, polusi, dan kerusakan ekosistem yang mengancam keberlangsungan hidup umat manusia (Tricontinental Institute, 18 Juni 2023).
Solusi Islam Kaffah: Saatnya Islam Mengambil Peran
Wahai kaum Muslimin, realitas ini seharusnya membuka mata dan hati kita. Sistem yang hari ini menguasai dunia bukanlah sistem yang membawa rahmat, tetapi sistem yang melahirkan kezaliman, kerusakan, dan penderitaan.
Islam datang bukan hanya sebagai agama ritual, tetapi sebagai mabda’ (ideologi) yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Islam memiliki sistem ekonomi yang adil, sistem politik yang amanah, sistem sosial yang bermartabat, dan sistem hukum yang menjamin keadilan.
Islam Kaffah adalah Solusi Peradaban
Umat Islam harus kembali menyadari bahwa mereka memiliki modal besar untuk bangkit: akidah yang lurus, syariah yang sempurna, dan sejarah kepemimpinan global yang gemilang. Selama lebih dari 13 abad, Khilafah Islam menjadi pelindung umat manusia dari kezaliman, penjajahan, dan eksploitasi.
Di bawah kepemimpinan Islam, harta tidak dikuasai segelintir orang, tetapi didistribusikan secara adil. Alam tidak dirusak, tetapi dijaga sebagai amanah dari Allah. Manusia tidak ditindas, tetapi dimuliakan.
Kepemimpinan Islam bukan hanya melindungi umat Islam, tetapi juga melindungi seluruh manusia. Inilah makna sejati dari Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Maka, sudah saatnya umat Islam bangkit dari keterpurukan. Sudah saatnya umat Islam menyadari bahwa solusi atas krisis global ini bukanlah reformasi kapitalisme, tetapi mengganti sistem yang rusak dengan sistem yang datang dari Allah Swt.
Dunia hari ini sedang sekarat di bawah cengkeraman kapitalisme global dan arogansi kekuasaan. Intervensi militer AS ke Venezuela pada 3 Januari 2026 hanyalah satu dari sekian banyak contoh bagaimana hukum internasional diinjak-injak demi kepentingan geopolitik dan ekonomi.
Bencana ekologis yang semakin sering terjadi adalah buah dari sistem ekonomi yang rakus dan tidak mengenal batas. Umat manusia membutuhkan kepemimpinan global yang membawa rahmat, bukan penjajahan. Kepemimpinan yang menegakkan keadilan, bukan ketimpangan. Kepemimpinan yang menjaga alam, bukan merusaknya. Dan kepemimpinan itu hanya bisa lahir dari Islam kaffah.
